Cina mengambil alih posisi Jepang sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia pada kuartal II tahun ini. Kemajuan Cina justru menjadi kesempatan besar bagi korporasi Jepang untuk berekspansi. Pendapatan per kapita Cina masih setara dengan negara yang belum berkembang.
Lima tahun lalu, produk domestik bruto (PDB) Cina hanya berada di angka US$ 2,3 trilyun. Meski secara ekonomi saat itu mulai diperhitungkan, toh besaran angka yang mencerminkan nilai semua barang dan jasa yang diproduksi Cina selama setahun itu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan Jepang. Maklum, di tahun yang sama, PDB Jepang mencapai dua kali lipat dari Cina.
Namun, dalam tempo yang terbilang singkat, Cina mampu membalikkan keadaan. Setelah membukukan pertumbuhan ekonomi tinggi selama tiga dekade terakhir, Cina akhirnya melampaui Jepang menjadi negara dengan kekuatan perekonomian kedua terbesar dunia setelah Amerika Serikat. Cina mengambil alih posisi Jepang pada kuartal II tahun ini, menyusul melemahnya pertumbuhan PDB "negeri matahari terbit" pada periode tiga bulanan itu.
Data yang dikeluarkan Kantor Kabinet Jepang yang dirilis awal pekan lalu menunjukkan bahwa PDB negaranya selama kuartal II setara dengan US$ 1,288 trilyun, atau lebih rendah dari Cina yang mencapai US$ 1,337 trilyun. "Ini adalah pencapaian yang sangat signifikan," ujar Nicholas R. Lardy, seorang ekonom pada Peterson Institute of International Economics.
Selama kuartal II, PDB negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat selama hampir empat dekade terakhir ini hanya tumbuh 0,4% secara tahunan. Angka ini mengalami penurunan dari posisi 4,4% pada kuartal sebelumnya. Sebaliknya, tumbuhnya ekonomi Cina pada kuartal II tahun ini sebesar 10,3% membuat posisinya dengan mudah mengalahkan Jepang. Memang, jika dihitung total selama semester I, PDB Jepang masih lebih besar ketimbang Cina.
Isyarat Cina yang bakal menggusur posisi PDB Jepang di nomor dua memang sudah terlihat sejak tahun lalu. Berdasarkan data Bloomberg, PDB Cina sudah melampaui Jepang pada kuartal IV tahun 2009. Memang, secara tahunan, sepanjang tahun lalu posisi PDB Jepang masih di atas Cina. Tahun 2009, Jepang berhasil mencetak PDB sebesar US$ 5,1 trilyun atau lebih tinggi dibandingkan dengan PDB Cina di tahun sama yang mencapai USD 4,9 trilyun.
Meski berada di urutan nomor tiga, toh perbedaan PDB keduanya tidaklah besar-besar amat. Dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 8,7% pada 2009, sinyal Cina menyalip Jepang tak pernah redup. Meski pada kuartal I PDB Jepang masih lebih besar daripada Cina, bukan tidak mungkin sepanjang tahun ini Cina bisa mengalahkan Jepang dengan mudah.
Tersalipnya Jepang oleh Cina memang menjadi kejutan tersendiri. Maklum, jauh sebelum Cina mulai menggeliat, justru Jepang-lah yang digadang-gadang akan mampu melampaui dominasi kekuatan ekonomi Amerika suatu hari nanti. Alih-alih mampu mengalahkan Amerika, justru yang terjadi kondisi perekonomian Jepang mencapai titik jenuh dan populasi penduduknya semakin menua.
Sebaliknya, catatan prestasi Cina saat ini masih bakal terus berlanjut. Maklum, perekonomian Cina yang diperkirakan masih dapat tumbuh hingga 10% tahun ini akan membuat pundi-pundi GDP-nya juga makin mengembang. "Ini baru permulaan," ujar Wang Tao, ekonom UBS di Beijing.
Melonjaknya GDP Cina membuat banyak kalangan berdecak kagum. Bayangkan saja, negara dengan populasi terbesar seantero dunia ini, standar kehidupan rakyatnya masih tergolong relatif rendah. Pendapatan per kapita negeri berpenduduk 1,3 milyar ini tak jauh berbeda dengan negara yang belum berkembang, seperti Aljazair, El Salvador, dan Albania, yang sekitar US$ 3.600.
Bahkan, merujuk data Bank Dunia per akhir 2008 Cina yang masih dikategorikan sebagai negara berkembang itu berada di peringkat ke-127 jika diukur dari pendapatan per kapita rakyatnya yang sebesar US$ 2.940, setelah Angola dan Azerbaijan.
Membandingkan dengan pendapatan per kapita Amerika Serikat dan Jepang, yang masing-masing pada tahun 2009 sudah mencapai US$ 46.000 dan US$ 39.000, Cina mungkin tidak ada apa-apanya. Tapi dengan jumlah populasi penduduk mencapai 1,3 milyar serta masih dimasukkan di kelompok negara berkembang, bukan tidak mungkin Cina bakal menyalip Amerika Serikat.
Tidak berlebihan jika kisah sukses Cina lantaran pesatnya perekonomian yang telah membuat negeri itu berhasil melampaui PDB Jerman, Prancis, dan Inggris beberapa tahun sebelumnya, bisa terulang kembali. Tak sedikit analis memprediksi Cina bakal melampaui Amerika Serikat --yang pada 2009 mencatat produk domestik bruto sebesar US$ 14 trilyun--- dan menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia sebelum tahun 2030.
Masih dengan keunggulan jumlah penduduknya, Cina menjadi konsumen pangan yang sangat diperhitungkan. Inilah yang membuat negeri ini memiliki dampak terbesar pada harga-harga komoditas para negara-negara pemasoknya. "Cina semakin melebarkan pengaruh terhadap perekonomian global dan makin dominan di Asia," ujar Eswar S. Prasad, profesor di Cornell University yang juga mantan Kepala Divisi Cina di IMF.
***
Besarnya pengaruh Cina di tataran global membuat banyak negara lain ikut diuntungkan. Berkah itu sebagian dinikmati, khususnya negara-negara Asia yang secara geografis berdekatan dengan negara yang kini menjadi pemakai energi terbesar di dunia itu. Termasuk Jepang. "Ekspansi perekonomian domestik Cina sangat positif bagi perekonomian Jepang," ujar Takashi Shiono, ekonom Credit Suisse di Tokyo, Jepang.
Analisis Takashi nampaknya ingin menyadarkan sebagain besar warga Jepang untuk tidak iri terhadap kemajuan Cina. Ini lantaran di balik kehebatan ekonomi Cina, di sanalah terselip kesempatan bagi para produsen Jepang. "Kemajuan Cina justru menjadi kesempatan besar bagi korporasi Jepang untuk berekspansi," ujarnya.
Sejak Cina membuka kesempatan investasi asing masuk ke negaranya, tak sedikit perusahaan Jepang yang mendirikan pabrik di Cina yang upah pekerjanya murah. Berbondong-bondongnya pabrikan Cina mengalihkan pabriknya ke negara dengan luas 9,6 juta kilometer persegi ini seakan menjadi solusi produsen-produsen "negeri matahari terbit" itu guna menurunkan biaya produksi dari mahalnya upah pekerja di negara asalnya.
Ekonomi Jepang sudah lama terimpit stagflasi (stagnasi diiringi inflasi). Pasar domestiknya semakin berkurang, yang membuat kinerja ekspor Jepang yang menjadi tulang punggung ekonominya juga ikut melemah. Namun, menurut Martin Schulz, ekonom senior pada Pusat Riset Fujitsu, kehadiran Cina yang memiliki pangsa pasar lebih luas membuat para pebisnis Jepang masih bisa optimistis.
Pernyataan Schulz jelas cukup beralasan. Tengok saja volume perdagangan antara Cina dan Jepang pada periode Januari hingga Juni 2010 yang naik pesat 34,5% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kini volume perdagangan keduanya mencapai US$ 138,37 milyar. Dari peningkatan itu, justru Jepang yang lebih diuntungkan. Ekspor Jepang ke Cina naik lebih dari 47%, bahkan mencapai rekor baru dengan besaran mencapai US$ 68,43 milyar.
Peningkatan ekspor itu sebagian besar ditopang oleh meningkatnya ekspor komponen dan bahan baku dari Jepang ke Cina. Tak hanya itu, ekspor barang jadi Jepang ke Cina seperti mobil serta mesin-mesin pun mengalami peningkatan. Sedang gencar-gencarnya Cina membangun infrastrukturnya membuat ekspor kendaraan, penunjang infrastruktur pun ikut-ikutan pula meningkat.
Negara di sekitar Cina yang juga langsung mendapatkan berkah atas kemajuan Cina adalah Korea Selatan. Langkah diversifikasi Cina yang mulai mengalihkan pembelian surat utang terbitan Amerika Serikat ke Korea Selatan membuat harga surat utang negeri ginseng itu terus meningkat serta membukukan penguatan terbesar dalam tiga tahun terakhir ini.
Tak mengherankan jika volume surat utang Korea Selatan yang dibeli Cina saat ini mencapai dua kali lipat nilainya dibandingkan dengan tahun lalu. Hingga semester pertama tahun ini saja tercatat surat utang Pemerintah Korea Selatan yang berada di tangan investor Cina naik 111% menjadi 3,39 trilyun won atau sekitar US$ 3,4 milyar. Angka ini bakal terus meningkat, mengingat kini Cina tengah mengalokasikan sebagian cadangan devisanya yang senilai US$ 2,45 trilyun itu ke aset finansial di beberapa negara Asia.
Bahkan, kepak investasi Cina pun terasa hingga ke Yunani, yang ekonominya sedang morat-marit lantaran dililit utang. Pertengahan tahun ini, delegasi yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Cina Zhang Dejiang menandatangani 14 kesepakatan dagang dengan pihak Yunani. Perjanjian tersebut mencakup kerja sama di bidang maritim, perkapalan, telekomunikasi, pariwisata, dan ekspor minyak zaitun Yunani ke Cina.
Daya tahan pertumbuhan Cina selama krisis membuat sejumlah negara lain, terutama yang berbasis ekspor komoditas, menurut Eswar S. Prasad, yang juga ekonom dari Brookings Institution itu, ikut bertahan dari badai krisis. Ini semakin membuktikan bahwa peran perekonomian Cina cukup dominan dalam perekonomian global.
Seiring dengan naiknya pamor perekonomian Cina yang saat ini berada di urutan nomor dua setelah Amerika Serikat, membuat negeri Paman Sam itu mulai ketar-ketir. Tak hanya khawatir bakal tersalip dari sisi ekonomi, Amerika juga mewaspadai kekuatan militer Cina yang bakal meningkat.
Hatim Ilwan (dari berbagai sumber)
Ekonomi Maju, Militer Meningkat
Amerika Serikat rupanya menyimpan kekhawatiran lain di balik bertenggernya kekuatan ekonomi Cina di posisi nomor dua sejagat tersebut. Adalah perkembangan di sektor militer negeri tirai bambu itu yang membuat Paman Sam ekstra-waspada. Washington sadar betul bahwa pesatnya kemajuan ekonomi di negeri Panda itu bakal diiringi juga dengan kemajuan di sektor militernya.
Guna mengukur kemampuan militer Cina, sejak awal tahun ini Kongres Amerika meminta pemerintahnya di bawah Presiden Barack Obama untuk mengintip peningkatan kemampuan militer negeri komunis itu. Tak berselang lama dari pengumuman naiknya posisi PDB Cina yang menggeser Jepang, Departemen Pertahanan Amerika Serikat atau Pentagon membeberkan laporan mengejutkan.
Departemen yang sejak Desember 2006 dipimpin oleh Robert M. Gates ini memperingatkan adanya peningkatan kemampuan militer Cina belakangan ini. Laporan tahunan yang mestinya keluar lima setengah bulan lalu itu jelas menyebutkan bahwa perkembangan angkatan perang "negeri panda" itu dalam jangka panjang bisa melemahkan dominasi Amerika Serikat di kawasan Pasifik Barat.
Bahkan, menurut laporan itu disebutkan bahwa Cina berniat memperluas wilayah perairannya dengan segala cara termasuk dengan melanggar hukum internasional. Dengan pengembangan kapal selam dan kapal perang mutakhirnya, laporan itu memperkirakan kekuatan angkatan laut Cina akan bisa berekspansi dalam 10 tahun mendatang. "Ini merupakan sebuah laporan di mana kami sangat berhati-hati dalam pemilihan bahasanya," ujar juru bicara Pentagon, Bryan Whitman.
Yang juga membuat negeri Paman Sam itu ketar-ketir, diam-diam rupanya Cina juga telah mengembangkan kemampuan senjatanya, termasuk sebuah rudal balistik antikapal perang dengan jarak tembak lebih dari 1.000 kilometer. Pentagon menilai rudal balistik jarak jauh itu merupakan program peluru kendali paling aktif seantero dunia. "Meski kemampuan mereka (Cina) masih jauh," ujar seorang pejabat senior Pentagon yang menolak disebutkan namanya, seperti dikutip Reuters.
Kemajuan teknologi dunia maya Cina juga dituding Amerika Serikat menjadi senjata untuk mencuri informasi strategis kekuatan militer negara lain. Dalam laporan itu juga dibeberkan bahwa sepanjang tahun lalu Cina telah menggelontorkan fulus sekitar US$ 150 milyar untuk anggaran militernya. Temuan angka ini menunjukkan hampir dua kali lipat ketimbang yang diumumkan secara resmi sebelumnya. Memang, dibandingkan dengan total belanja militer tahunan Amerika yang mencapai US$ 500 milyar, angka itu belum apa-apa.
Yang pasti, jor-joran dana yang digelontorkan Beijing untuk membangun kekuatan militernya membuat Amerika tak bisa lengah. Lebih-lebih, hubungan keduanya kerap dilanda panas-dingin. Bukankah Cina masih menyimpan murka setelah Amerika sepakat menjual senjata ke Taiwan, wilayah yang selama ini diklaim sebagai bagian dari negaranya?
Hatim Ilwan
PDB dan PDB Per Kapita Tahun 2009 Nama Negara PDB PDB per Kapita (US$) Amerika Serikat US$ 14 trilyun 45.570 Jepang US$ 5,1 trilyun 39.116 Cina US$ 4,9 trilyun 3.622 Indonesia US$ 217,7 milyar 2.030 Sumber diolah
- Pada kuartal II tahun ini, ekonomi Cina tumbuh 10,3%.
- Cina diprediksi bakal melampaui Amerika Serikat dan menjadi negara dengan perekonomian terbesar di dunia sebelum tahun 2030.
- Di luar ekonomi, Amerika Serikat menyimpan kekhawatiran akan kekuatan militer Cina.
03 September 2010
03 Agustus 2010
Sentralisasi Belum Efektif
Bus transjakarta terjebak dalam antrean panjang kemacetan di Jalan Daan Mogot, tepatnya antara Kalideres dan Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (2/8). Kemacetan di jalur itu dipicu oleh penyempitan ruas jalan karena proyek perbaikan jalan serta banyaknya kendaraan di jalur tersebut.
Sterilisasi merupakan salah satu program percepatan pengurai kemacetan Jakarta hasil kerja sama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Kepolisian Daerah Metro Jaya. Rencananya, sterilisasi dilakukan Agustus hingga akhir tahun 2010. Namun, dari pengamatan Kompas di lapangan, sterilisasi tidak efektif karena sarana dan prasarana penunjang lain belum terpenuhi.
Sebagai contoh, ratusan calon penumpang yang berdesak-desakan menunggu datangnya bus transjakarta terlihat di selter Harmoni di Jakarta Pusat, di kawasan Mampang hingga Buncit di Jakarta Selatan, kawasan Kalideres di Daan Mogot, Jakarta Barat, dan Pulogadung di Jakarta Timur.
”Sudah menunggu hampir 15 menit, bus belum datang juga. Capek,” kata Cecil (25), yang mencegat bus transjakarta di Buncit.
Jarak kedatangan antarbus memang jadi masalah besar. Bus yang seharusnya tiba setiap 3-5 menit di setiap selter kenyataannya baru tiba antara 10-20 menit, bahkan lebih. Di dalamnya sudah penuh dengan penumpang sehingga terjadi penumpukan calon penumpang di selter.
Sementara di jalur bus transjakarta di Koridor III jurusan Kalideres-Harmoni, sterilisasi sulit dilakukan. Sepeda motor, mobil, dan angkutan umum tetap masuk ke jalur bus transjakarta.
Antrean terlihat baik di jalur reguler maupun di jalur bus transjakarta yang dipadati kendaraan. Kemacetan terjadi sejak sebelum pukul 07.00, terutama sepanjang Jalan Daan Mogot
Penerobosan juga terjadi di Koridor V Ancol-Kampung Melayu. Penerobosan paling banyak dilakukan di Jalan Jatinegara Barat dan Jalan Matraman.
Berdasarkan analisis data dari Institute for Transportation and Development (ITDP) Indonesia, belum optimalnya layanan bus transjakarta memang tidak semata akibat jalurnya tidak steril. Namun, keterbatasan jumlah armada dan pasokan bahan bakar gas yang belum memadai membuat pelayanan bus tersendat.
Di sisi lain, Asisten Manajer Pusat Kendali Badan Layanan Umum (BLU) Transjakarta, Bano Yogaswara, mengakui, belum ada target resmi daya angkut penumpang transjakarta.
”Hasil survei terbaru tahun ini, 14-20 persen penumpang kami adalah mereka yang telah beralih dari kendaraan pribadi. Namun, BLU Transjakarta belum ditargetkan harus bisa melayani berapa persen dari total pengguna angkutan umum. Namun, dengan adanya sterilisasi, diharapkan makin banyak pengguna kendaraan pribadi beralih ke transjakarta,” kata Bano.
Kepala BLU Transjakarta Daryati Asrining Rini mengatakan, saat ini bus yang melayani Koridor I berjumlah 91 unit, Koridor III berjumlah 71 unit, Koridor V berjumlah 23 bus gandeng dan 15 bus tunggal yang melayani jalur PGC-Ancol, dan Koridor VI berjumlah 38 unit.
Namun, tambah Bano, jumlah bus yang tersedia tidak seluruhnya beroperasi. Di Koridor I, jumlah bus yang beroperasi 82 unit. Di Koridor III, ada 44 bus reguler yang beroperasi ditambah 30 bus ekspres yang melayani rute Pulogadung-Kalideres. Bus gandeng yang melayani Koridor V tercatat 20 saja yang beroperasi, ditambah 40 bus tunggal yang melayani jalur pendek. Koridor VI dilayani 35 bus.
”Satu bus berkapasitas maksimal 85 penumpang, sedangkan bus gandeng kapasitasnya 160 orang,” kata Rini.
Dalam 17 jam operasional per hari, satu bus maksimal melayani 10 kali perjalanan pergi-pulang. Namun, biasanya setiap bus hanya mampu menempuh delapan sampai sembilan perjalanan.
Apabila dalam sehari setiap bus bisa melayani sembilan kali pergi-pulang, atau 18 kali perjalanan dengan kapasitas maksimal 85 penumpang untuk bus tunggal dan 160 orang untuk bus gandeng, maka dalam sehari transjakarta Koridor I bisa mengangkut 125.460 orang. Koridor II sebanyak 113.220 orang. Koridor V bisa mengangkut 118.800 penumpang dan Koridor VI mengangkut 53.550 orang.
”Tetapi ada kendala lain. Dalam sehari, setiap bus harus mengisi bahan bakar dua kali. Idealnya, perjalanan bus ke SPBG sampai selesai pengisian gas memakan waktu satu jam. Namun, kadang pengisian bahan bakar butuh waktu sampai tiga jam,” papar Bano.
Lamanya waktu pengisian gas inilah yang menjadi salah satu faktor belum maksimalnya kinerja satu bus transjakarta.
Pengamat perkotaan Fransiscus Trisbiantara mengatakan, upaya sterilisasi jalur bus transjakarta tidak akan berhasil jika tidak diiringi dengan manajemen lalu lintas. Jika pemerintah melarang kendaraan masuk ke jalur bus transjakarta, maka pemerintah harus bisa membebaskan jalur umum dari segala gangguan.
”Kita lihat saja di Roxy dan Juanda. Di sana pengendara tidak boleh masuk ke jalur busway, tetapi di jalur umumnya jalannya rusak dan banyak kendaraan parkir yang mengambil badan jalan,” kata Trisbiantara.
Sterilisasi jalur khusus bus akan lebih efektif jika bersinergi dengan beberapa pihak terkait. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga melakukan program percepatan berupa pengadaan bus langsung dari pabrik.
”Pemerintah bisa memesan bus langsung dalam jumlah banyak sehingga lebih murah. Setelah itu bus-bus dibagikan ke operator dengan harga murah atau kredit ringan. Jika operator sudah mendapatkan bus harga murah, tentu pemerintah bisa menentukan biaya operasional per kilometer kepada operator,” kata Trisbiantara.
Upaya pemerintah ini juga harus didukung dinas-dinas terkait, seperti dinas UMKM dan satpol PP untuk menertibkan dan membina pedagang kaki lima. Dinas pekerjaan umum memperbaiki jalan. Dinas perhubungan menertibkan kendaraan-kendaraan yang parkir sembarangan dan polisi menilang pengendara pelanggar rambu.(ECA/FRO/ART/ARN/WIN/NEL)
21 April 2010
CEO GE ENERGY; GE Bersaing dengan Kualitas dan Teknologi
Pada Infrastructure Asia 2010, Krenicki memberikan pandangannya menyangkut industri energi, di mana GE Energy menjadi salah satu pemasok utama dunia untuk pembangkit tenaga dan teknologi penghantar energi. GE telah menjadi pemain utama dalam industri energi dunia selama lebih dari 100 tahun.
Di Indonesia, GE sudah eksis sekitar 70 tahun dan sudah menjadi mitra penting melalui produk dan jasanya, termasuk kerja sama di bidang energi, pengolahan air, kesehatan, dan transportasi. Berikut wawancara dengan John Krenicki di Jakarta, Kamis (15/4).
Bagaimana perencanaan bisnis GE di Indonesia ke depan?
GE memiliki keunggulan teknologi pada sektor energi, transportasi, jasa keuangan, kesehatan, dan pengelolaan air. Jadi, kami sudah di Indonesia 70 tahun. Kami ingin terus ikut berkontribusi dalam pembangunan di Indonesia dalam pembangkit energi, transportasi seperti lokomotif dan penerbangan (mesin pesawat), gas dan minyak, serta kesehatan. Kami punya keahlian dan teknologi ini dan kami akan berupaya menjadikan semua kelebihan ini, didukung tenaga kerja yang akan direkrut, untuk mitra teknologi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sekitar 5,5 persen. Apakah Anda optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik lagi?
Ya, kami sangat optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih tinggi lagi (pemerintah merevisi pertumbuhan menjadi 5,7 persen). Indonesia memiliki prospek yang besar bagi pengembangan sumber daya mineral.
Bagaimana dengan stabilitas politik dan keamanan di sini?
Kami banyak berbisnis hampir di seluruh dunia dan Indonesia merupakan salah satu lokasi yang menarik untuk berbinis dibandingkan tempat lain saat ini. Kondisi di Indonesia sangat bullish. (GE beroperasi di lebih dari 100 negara dengan lebih dari 300.000 karyawan).
Bagaimana dengan kesiapan sumber daya manusia Indonesia dengan teknologi GE?
Penduduk Indonesia lebih dari 200 juta jiwa. Ini potensi yang menarik bagi GE untuk mengoptimalkan tenaga kerja Indonesia dalam bisnis kami. Kami akan melatih tenaga kerja Indonesia, termasuk di luar negeri, sesuai dengan standar dan kebutuhan yang ada. Kami akan menciptakan tim kerja yang hebat dan baik.
Selama 70 tahun di Indonesia, apakah tenaga kerja Indonesia oke?
Ya, itu sebabnya mengapa kami bisa 70 tahun berada di negeri ini. Pertumbuhan ekonomi naik dan turun, tetapi secara umum kami cukup senang, kami melihat semakin baik dan baik.
Bagaimana soal kebijakan pemerintah, apakah masih ada yang kurang pas?
Secara umum kebijakan pemerintah baik bagi kami. Kami melihat Indonesia lagi krisis listrik. Perlu waktu lama untuk bisa mengatasinya. Jadi, perlu kebijakan yang tidak hanya jangka pendek, tetapi juga jangka panjang untuk mengatasi hal ini. Perlu teknologi untuk penggunaan biogas dan panas bumi. Jadi, perlu kebijakan yang baik dan teknologi yang tepat, juga produk yang berkualitas, efisiensi, dan terpercaya. Ini tantangan. Akan tetapi, semua ini yang disiapkan GE.
Ada usulan bagi adanya kebijakan yang lebih baik?
Dalam banyak hal, kami sejalan dengan kebijakan pemerintah menetapkan standar kualitas tinggi, kebijakan jangka panjang. Kami akan bekerja sama dengan pemerintah agar kebijakan tadi bisa dijalankan dan untuk jangka panjang. Sebab, kami sudah bekerja di banyak negara. Ada kebijakan, tetapi tak bisa dijalankan.
Anda sebutkan krisis listrik di Indonesia. Apakah GE akan fokus di sana?
Ya, kami berharap begitu. Kami juga akan fokus pada sektor minyak dan gas, LNG, biogas, dan geothermal. Kami punya mesin pembangkit listrik yang beragam sehingga kami bisa membawa semua keunggulan teknologi ini ke Indonesia.
Apa pesaing utama GE di Indonesia?
Bagi kami tak ada pesaing utama selain teknologi yang produk kualitas. Kami punya semua hal itu. Soal harga yang lebih murah sebagaimana teknologi yang ditawarkan negara lain, itu bukan masalah kami. Apakah Anda mau menyewa pesawat dengan mesin dengan teknologi yang tinggi atau teknologi yang biasa-biasa saja? Jadi, GE akan membawa teknologi tinggi yang berkualitas dan memanfaatkan tenaga Indonesia. Itu yang kami tawarkan. Itu strategi kami. Dengan produk yang efisien, Anda bisa mendapatkan keuntungan karena konsumsi bahan bakar yang minim.
Berapa besar target pertumbuhan GE di Indonesia?
Target pertumbuhan kami sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di negara ini. Kebutuhan listrik akan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang ada. Jadi, pertumbuhan GE harus lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Saya akan kecewa jika tidak mencapai target itu.
Langganan:
Postingan (Atom)