PERHATIAN dunia saat ini tengah tertuju pada pulihnya perekonomian di Asia. China dan India menjadi dua negara yang mencatat pertumbuhan sangat fantastis pada tahun ini. Apakah Indonesia bisa diharapkan dapat berpartisipasi dalam pemulihan ekonomi Asia Timur?
Apabila kita melihat dari level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang mencapai level tertinggi dalam sejarah, yaitu 814, maka harapan itu tampaknya bukanlah merupakan harapan semu.
Ada beberapa faktor yang mendorong IHSG mencapai level tertinggi pekan lalu.
Pertama, aliran dana ke pasar-pasar yang sedang bertumbuh (emerging market), terutama Asia (di luar Jepang), menjadi pendorong kuat naiknya IHSG. Minat investor ke negara-negara Asia (di luar Jepang) sangat besar, seiring dengan pulihnya perekonomian regional. Sebagai contoh, Bank Dunia memprediksikan pertumbuhan ekonomi lebih dari 6 persen untuk tahun 2004 ini. Dana Moneter Internasional (IMF) juga memperkirakan Asia akan menjadi mesin pertumbuhan dunia.
Arus masuk investasi portofolio secara neto (net inflow) ke Asia (tidak termasuk Jepang) pada tahun 2003 diperkirakan mencapai 34 miliar dollar AS, dibandingkan dengan net outflow (arus keluar neto) sebesar 9 miliar dollar AS pada tahun 2002. Di antara negara ASEAN, kita melihat banyak investor portofolio yang mengubah alokasi asetnya dari Thailand ke Indonesia tahun ini.
Dari pengamatan Independent Research & Advisory, diperkirakan dana yang keluar (net portofolio outflow) dari Thailand mencapai 1,33 miliar dollar AS, sementara Indonesia mencatat dana masuk 1,06 miliar dollar AS dalam periode yang sama.
Kedua, secara politis, pemilihan umum legislatif yang berjalan sangat lancar dan aman juga makin meningkatkan keyakinan investor akan prospek Indonesia. Melesatnya IHSG juga bersamaan dengan pengumuman bahwa Jusuf Kalla akan menjadi calon wakil presiden mendampingi calon presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Banyak orang mencoba memberikan justifikasi bahwa figur kepemimpinan yang kuat dan citra yang lebih kredibel dari pasangan ini sebagai hal yang positif untuk pasar. Pasangan itu dianggap akan dapat menjamin kesinambungan kebijakan karena keduanya sebelumnya menjabat posisi strategis sebagai menteri koordinator (menko): Yudhoyono, mantan Menko Bidang Politik dan Keamanan, sedangkan Jusuf, mantan Menko Bidang Kesejahteraan Rakyat di Kabinet Gotong Royong.
Selain itu, kedua figur itu dianggap saling melengkapi. Sikap kehati-hatian dan penuh pertimbangan Yudhoyono akan dilengkapi dengan keberanian Jusuf dalam pengambilan keputusan.
Ketiga, potensi Indonesia untuk mendapatkan peningkatan dalam peringkat kredit cukup besar karena posisi utang eksternal terhadap produk domestik bruto yang masih akan terus membaik menuju ke tingkat di bawah 50 persen dalam dua tahun mendatang, dari 65 persen akhir tahun 2003. Di samping itu, perbaikan debt service ratio (rasio beban pokok dan cicilan utang terhadap ekspor) diperkirakan akan dapat diturunkan dari sekitar 40 persen saat ini ke level 30 persen dalam dua tahun mendatang.
PENTING diingat bahwa indeks bursa saham bukanlah indikator yang sempurna dalam memberikan gambaran tentang perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan indeks lebih cenderung terpengaruh oleh faktor aliran modal dan bukan oleh faktor fundamental ekonomi semata.
Ada beberapa kekhawatiran yang membuat saya berpikir Indonesia dapat tertinggal apabila tidak melakukan penyesuaian secara cepat. Pertama, pembenahan struktural tidak dilakukan dengan baik sehingga tingkat pertumbuhan ekonomi masih lebih rendah daripada negara Asia lainnya.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya mencapai 4,5 persen, sedangkan IMF memperkirakan 4,8 persen. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia ini masih jauh di bawah tingkat pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia lainnya yang diperkirakan lebih dari 6 persen. Tingkat pertumbuhan ini pun masih di bawah level pertumbuhan ekonomi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah pengangguran yang telah mencapai 8,5 persen per Agustus 2003.
Kedua, kegiatan ekspor dan arus investasi langsung (FDI) masih sangat lemah. Indonesia juga kurang mampu memanfaatkan secara penuh pertumbuhan ekonomi yang sangat kuat di China. Hal ini, misalnya, terlihat dari ekspor Indonesia yang tumbuh sebesar 28 persen pada tahun 2003, sementara pangsa pasar ekspornya justru turun dari 11,2 persen pada tahun 2000 menjadi hanya 7,4 persen di tahun 2003.
Arus investasi portofolio yang kuat belum diikuti oleh kinerja investasi langsung.
Ketiga, pemulihan ekonomi cenderung hanya mendorong naiknya harga aset tanpa mendorong peningkatan aktivitas ekonomi produktif, seperti investasi langsung, kegiatan manufaktur, dan ekspor. Pertumbuhan kredit dari sektor perbankan tampaknya tersalurkan ke sektor konsumen dan properti. Pertumbuhan kredit sektor properti yang mencapai di atas 30 persen dari tahun ke tahun merupakan faktor yang cukup mengkhawatirkan. IMF telah memperingatkan Indonesia tentang tren pertumbuhan kredit perbankan yang cukup mengkhawatirkan.
Pertumbuhan ekonomi yang terlalu tinggi kadang-kadang cenderung menyembunyikan adanya kelemahan struktural. Indeks saham yang tinggi juga kadang-kadang membuat kita terbuai dan mengambil kesimpulan bahwa perekonomian Indonesia telah pulih sehingga merasa perubahan struktural tidaklah perlu dilanjutkan. Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi seharusnya dinilai sebagai suatu kesempatan untuk melaksanakan tugas yang belum selesai.
Pembenahan makro-ekonomi dan sistem finansial sudah berjalan cukup baik, tetapi pembenahan di level mikro terutama menyangkut reformasi struktural di bidang industri dan infrastruktur tidak dilaksanakan. Padahal, hal inilah yang sebenarnya harus menjadi prioritas dan fokus penting pemerintah dan kalangan bisnis.
Untuk mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, negara membutuhkan institusi sosial dan politik yang mampu mengatasi masalah dan memberikan solusi. Tanpa pembenahan struktural, mungkin saja pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa meningkat. Namun, harus diingat bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi yang cepat tanpa dilandasi fundamental kuat akan menimbulkan kerapuhan dan akan mudah sekali mengalami guncangan.
Kita harus bijak dalam melihat pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi yang pesat memang baik, sama seperti mobil yang mampu melaju dengan cepat. Akan tetapi, mobil yang maju dengan cepat juga memerlukan mekanisme kontrol yang mampu berfungsi dengan baik untuk menghindari guncangan dan krisis.
Mekanisme kontrol inilah yang sebenarnya belum tersedia dengan baik. Hal ini terlihat dari kelemahan di bidang peraturan dan perpajakan, kekakuan dan kurang fleksibelnya pasar kerja di Indonesia, sistem hukum yang masih sangat lemah, dan juga struktur industri yang sangat kacau-balau. Ini, akibat kegagalan Indonesia dalam menata ulang struktur, karena Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) membiarkan perusahaan yang tidak terestrukturisasi dijual kembali ke pasar sehingga menimbulkan distorsi.
Hal inilah yang menjadi tantangan pemerintah yang baru untuk dapat membenahi tugas yang tidak terselesaikan oleh pemerintah yang sekarang, agar perekonomian negara ini bisa mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi bersama- sama dengan negara Asia Timur lainnya. *
Oleh LIN CHE WEI
Sumber: Kompas 26 April 2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar