20 Agustus 2009

APBN dalam Penyelamatan dan Pembangunan Ekonomi

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) merupakan salah satu instrumen yang dimiliki oleh pemerintah untuk memengaruhi dan mengatur ekonomi memegang peranan yang penting.

Sebagai salah satu negara sedang berkembang,di mana tingkat pendapatan per kapitanya rendah, dengan menggunakan produk domestik bruto (PDB) per kapita PPP dari Bank Dunia, Indonesia berada pada peringkat 106 dari 166 negara (USD3.975) pada tahun 2008, di bawah Sri Lanka, Fiji, Vanuatu, Samoa, Namibia, ataupun Mesir. Apalagi jika dibandingkan dengan Thailand yang berada peringkat 81,Malaysia 48,ataupun Singapura nomor 3, bangsa Indonesia jelas jauh tertinggal.

Memang, Indonesia bisa berbangga diri berada pada peringkat 29 dari nilai pengeluaran pemerintah di dunia pada 2007 berdasarkan data CIA World Factbook. Namun, tingkat pengangguran (15,4%) dan kemiskinan (8,1%) masih tinggi meskipun sudah banyak didukung dengan kebijakan penanggulangan kemiskinan yang besar. Sementara itu penciptaan lapangan kerja mayoritas adalah pada sektor informal.

Oleh karena itu masalah yang harus diselesaikan oleh Indonesia masih cukup banyak. Apalagi kalau kita ingin mengatasi ketertinggalan kita dari bangsa tetangga. RAPBN tahun 2010 yang penjelasannya dibacakan oleh Presiden pada 3 Agustus yang lalu memiliki peranan yang penting dalam maju mundurnya ekonomi ke depan.Apalagi tahun 2010 adalah tahun yang istimewa karena akan ada pemerintah dengan tim ekonomi serta anggota Dewan yang baru.

Selain itu AFTA akan diimplementasikan secara penuh, berarti secara umum barangbarang olahan sudah tidak ada hambatan lagi di ASEAN, bahkan pada tingkat tertentu juga dengan China ataupun Korea dan Jepang. Oleh karena itu tantangan yang dihadapi oleh ekonomi Indonesia semakin berat meskipun kesempatannya juga semakin luas.Berita baiknya adalah bahwa ekonomi Asia sudah mulai menggeliat.

Bahkan beberapa mulai bangkit seperti China, Korea Selatan, dan Singapura di mana pada kuartal 2 tahun ini ekonominya bangkit, tumbuh lebih dari 10% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Karena itu ekonomi Asia tampaknya sudah dalam proses pemulihan pada tahun ini. Demikian juga diyakini bahwa ekonomi dunia pada 2010 sudah mulai ke arah pemulihan. Oleh karena itu faktor eksternal tampaknya tidak akan terlalu buruk pada tahun depan.

Dengan demikian permintaan akan produk ekspor kita akan meningkat lagi yang diikuti oleh menguatnya harga produk primer di pasar internasional. Hal ini tentu saja akan memberikan stimulus t e r s e n d i r i bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu potensi bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh 5% (seperti yang diasumsikan dalam RAPBN) atau bahkan di atasnya bisa dengan mudah dicapai jika dikelola dengan baik.

Prioritas

Tema yang diusung oleh rencana kerja pemerintah pada tahun 2010 adalah Pemulihan Ekonomi Nasional dan Pemeliharaan Kesejahteraan Rakyat. Dilihat dari temanya memang dapat ditafsirkan bahwa pemerintah cenderung konservatif sehingga target yang ingin dicapai pun tidak banyak.

Lima agenda program pembangunan nasional yang menjadi gacoan adalah terkait dengan kesejahteraan rakyat, sumber daya manusia, reformasi birokrasi dan hukum, pengembangan pertanian, infrastruktur dan energi, serta pengelolaan sumber daya alam. Adapun delapan prioritas yang ingin dicapai adalah memperbaiki kesejahteraan aparat negara, perbaiki kesejahteraan rakyat, pembangunan infrastruktur,pertanian dan energi,serta revitalisasi industri dan dunia usaha,reformasi birokrasi, pertahanan dan keamanan, pendidikan dan sumber daya alam.

Sementara asumsi yang dipakai dalam menyusun adalah pertumbuhan ekonomi 5%, inflasi 5%, kurs dolar AS Rp10.000, suku bunga SBI 3 bulan 6,5%,harga minyak USD60 tiap barel, dan lifting minyak 965 ribu barel tiap hari.Mengenai hasil yang ingin dicapai pada tahun 2010 di antaranya adalah pertumbuhan investasi 8,5% dan pengangguran menjadi 8%. Meskipun infrastruktur dan revitalisasi industri dan dunia usaha menjadi prioritas dalam RAPBN 2010, tampaknya itu belum kelihatan dari anggaran yang disediakan.

Dari sisi anggaran yang dialokasikan, yang mendapatkan alokasi terbesar adalah Depdiknas sebesar Rp51,8 triliun. Departemen lain seperti pertahanan sebesar Rp40,7 triliun, pekerjaan umum sebesar Rp34,3 triliun (pada 2009 Rp39 triliun), kesehatan Rp20,8 triliun, dan perhubungan Rp16 triliun.

Bahkan anggaran untuk revitalisasi industri hanya ada Rp310 miliar, itu pun hanya untuk pabrik gula, semen, pupuk, dan industri strategis. Karena itu,dari alokasi anggaran tersebut dapat dilihat bahwa pada umumnya pemerintah cenderung akan melanjutkan berbagai program yang sudah dilakukan. Tampaknya tidak akan ada perubahan besar dalam pengelolaan ekonomi Indonesia ke depan, terutama dukungan pada sektor riil yang masih kurang.

Padahal melihat konstelasi yang ada mestinya Indonesia mengubah pengelolaan ekonominya dengan memberikan prioritas pada penyelesaian berbagai masalah dan tantangan struktural yang kita miliki.Targetnya agar kita bisa membangun ekonomi yang berkualitas, yang memiliki daya saing internasional yang tinggi (sejajar dengan negara ASEAN maju lainnya), dan dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa Indonesia agar sejajar dengan bangsa-bangsa tetangga kita.

Dengan demikian implementasi AFTA secara penuh mulai tahun 2010 akan memberikan manfaat bagi bangsa Indonesia. Indonesia tidak punya pilihan, selain harus siap bersaing langsung dengan negara ASEAN lain. Oleh karena itu, daya saing intern a s i o n a l adalah kunci utama agar kita dapat bertahan dan mendapatkan manfaat dari pembukaan pasar kita. Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang banyak menggantungkan dari negara dalam bentuk BLT, beras bersubsidi, Jamkesmas, ataupun berbagai program populis lain tidak akan berkelanjutan dan kemampuannya meningkatkan kesejahteraan rakyat yang terbatas.

Apalagi APBN kita juga terbatas nilainya, hanya 16,46% dari PDB. Itu pun untuk gaji pegawai dan subsidi sudah menghabiskan lebih dari 30%, demikian juga pembayaran bunga dan pokok utang juga cukup besar sehingga kemampuan APBN untuk memberikan stimulus pada perekonomian juga terbatas. Padahal ekonomi Indonesia perlu tumbuh tinggi dengan kualitas yang lebih baik jika ingin dapat meningkatkan kesejahteraan yang berkelanjutan pada bangsanya dan mengatasi ketertinggalannya dari bangsa-bangsa tetangga.

Oleh karena itu peranan dunia usaha, baik domestik maupun asing, diperlukan untuk dapat membangun perekonomian yang lebih berkualitas.Untuk itu peranan APBN penting dalam rangka memberikan iklim yang terbaik bagi investasi dan dunia usaha sehingga mereka dapat bersaing dengan produk asing baik di pasar domestik ataupun pasar internasional sehingga dapat tumbuh berkembang.

Oleh karena itu APBN tahun mendatang mestinya lebih baik jika memberikan prioritas pada berkembang investasi dan dunia usaha sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dengan penciptaan lapangan kerja serta pendapatan yang lebih besar bagi masyarakat.

Oleh karena itu dalam pembahasan RAPBN nanti diharapkan ada perbaikkan sehingga peran APBN bisa lebih dari sekadar menjalan counter cyclical, tapi juga meletakkan dasar bagi pembangunan ekonomi yang lebih berkualitas pada tahun-tahun mendatang.(*)

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/260098/

Oleh: Dr Sri Adiningsih, Ekonom Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar