19 Agustus 2009

Gatot-Tiwul, Penopang Ekonomi Utama Warga Wonolopo


Suyati (42), perajin tiwuldi Dusun Wonolopo,Canden, Bantul, DI Yogyakarta, tengah merendam gaplek hitam, Kamis (30/7). Berkat usaha tiwul, dia bisamenghidupi keluarganya.

Siang hari, suasana Dusun Wonolopo, Desa Canden, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, selalu sepi. Sebagian besar warganya, terutama ibu-ibu rumah tangga, tengah terlelap tidur karena kecapaian. Maklum, mereka baru saja selesai berjualan gatot-tiwul di pasar-pasar tradisional di DI Yogyakarta.
Rutinitas mereka memang berbeda dengan masyarakat kebanyakan. Jika orang lain pada malam hari biasanya tidur dan istirahat, mereka justru lagi sibuk-sibuknya memasak gatot-tiwul. Mulai sekitar pukul 19.00, aktivitas mereka berlanjut hingga pagi.

Suyati (42), salah seorang pembuat tiwul, Kamis (30/7) mengatakan, proses pengolahan dimulai dengan menggiling gaplek putih menjadi tepung. Setelah diayak, tepung lalu dicampur dengan sedikit air. Adonan itu lalu dikukus di atas bara api. ”Saya biasanya mengukus tengah malam. Kalau dimasak sore hari, pagi harinya tiwul bisa basi dan tidak mungkin laku,” katanya.

Sekitar pukul 02.00, para pedagang langganan Suyati sudah berdatangan ke rumahnya. Dari 500 kantong tiwul yang dibuatnya, paling hanya tersisa 60 kantong. Ia sengaja menyisakannya untuk dijual langsung ke Pasar Jejeran.

Dalam sehari Suyati menghabiskan 25 kilogram tepung gaplek putih. Tepung itu dibeli seharga Rp 2.000 per kilogram. Jadi, untuk biaya tepung, ia menghabiskan Rp 50.000. Untuk bahan tambahan, dia perlu satu kilogram gula pasir seharga Rp 8.000. Kalau sudah matang menjadi tiwul, bisa dikemas menjadi 500 kantong seharga Rp 250 per kantong.

Dari total penjualan, Suyati memperoleh Rp 125.000 per hari. Jika dikurangi ongkos produksi, ia masih bisa menyisakan Rp 67.000 per hari. ”Lumayan bisa menghidupi keluarga, apalagi suami saya tidak bekerja sejak proses rekonstruksi fisik pascagempa selesai,” katanya.

Suami Suyati bekerja sebagai tukang kayu. Saat ini ia tengah menganggur karena tidak ada order. Bagi keluarga Suyati, tiwul menjadi tumpuan ekonomi utama. Lewat usahanya itu, dia bisa menyekolahkan ketiga anaknya.

Lebih rumit

Sama dengan Suyati, Erni Kistarilah (38), salah seorang pembuat gatot di Wonolopo, juga mengaku sangat bergantung pada usahanya. Usaha yang ditekuninya sekitar 9 tahun ini dikelola bersama suaminya.

Berbeda dengan tiwul, proses pembuatan gatot sedikit lebih rumit. Gaplek hitam sebagai bahan baku awalnya direndam selama sehari semalam, lalu ditudungi supaya udara tidak bisa masuk selama sehari semalam. Potongan-potongan gaplek itu kemudian dikukus dengan tambahan pemanis gula jawa.

Erni menjual gatotnya di kompleks Borobudur Plaza di Jalan Magelang, berjarak sekitar 25 kilometer dari rumahnya. Biasanya ia berangkat pukul 03.30 bersama suaminya menggunakan sepeda motor. Dagangannya habis sekitar pukul 06.30.

Dari hasil penjualan, ia bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 135.000 per hari. Setiap hari ia mengolah 15 kilogram gaplek hitam seharga Rp 1.500 per kilogram. Setelah diolah, kemudian dikemas menjadi 400 kantong gatot seharga Rp 400 per kantong.

Tiwul dan gatot selama ini selalu diidentikkan dengan Gunung Kidul. Maklum, daerah itu dikenal sebagai sentra gaplek dan sebagian masyarakat juga mengonsumsi penganan tersebut. Namun, Bantul sebagai daerah yang berdekatan dengan Gunung Kidul juga memiliki tradisi tiwul. Di Wonolopo ada sekitar 30 perajin gatot-tiwul. Mereka memasok makanan tradisional tersebut ke pasar-pasar tradisional, baik di wilayah Bantul maupun daerah sekitar di DI Yogyakarta.

Supaya tidak saling berkompetisi di satu pasar, para perajin melakukan pembagian kerja. Perajin yang usianya sudah lanjut akan mengambil jatah pasar-pasar di sekitar Bantul. Alasannya sederhana, selain karena faktor fisik, mereka juga tidak bisa mengendarai motor. Akan halnya perajin yang masih muda, mereka dapat jatah pasar-pasar yang lokasinya jauh, seperti di Prambanan dan Kulon Progo.

Menurut Kepala Dukuh Wonolopo Rohgiyanto, gatot-tiwul menjadi usaha pokok warganya. Usaha itu sudah berlangsung puluhan tahun, dilakukan secara turun-temurun. Dalam perkembangannya, warga menambah varian dengan membuat onde-onde dan jajanan pasar lainnya. ”Tetapi produk pokoknya adalah gatot-tiwul,” ujarnya.

Mbah Pawiro (90), salah satu sesepuh dusun, mengatakan, awalnya usaha itu hanya digeluti segelintir orang saja. Mereka melakukannya setelah melihat gatot-tiwul laku dijual di pasar. ”Awalnya hanya lima orang. Mereka meniru apa yang mereka lihat di pasar. Setelah terbukti menguntungkan, warga lain pun ikut-ikutan,” katanya.

Pasokan tersendat

Banyaknya permintaan gatot-tiwul terkadang membuat perajin kewalahan. Pasalnya, pasokan bahan baku, yakni gaplek hitam dan gaplek putih, sering tersendat. Mereka pun harus mencarinya sampai ke Gunung Kidul, tetapi kadang harus kecewa karena gaplek di sana sudah dikirim ke kota lain. Minimnya pasokan gaplek di Bantul akibat tidak banyaknya petani yang menanam singkong.

Akibat pasokan tersendat, perajin terpaksa mengurangi kapasitas produksi. ”Kalau biasanya saya bikin 25 kilogram, kalau lagi tersendat terpaksa dikurangi menjadi 15 kilogram saja. Akibatnya, keuntungan saya juga turun,” tutur Sakinah (42), pembuat tiwul lainnya.

Para perajin berharap pemerintah turut campur tangan untuk mengatasi kendala tersebut. ”Kalau pasokan bisa lancar, kesejahteraan kami juga ikut terjamin. Kalau bisa, pasokan dari Bantul sendiri supaya kami tidak kelimpungan ke sana kemari,” katanya.

Terkait dengan pemasaran, sebenarnya sudah ada lembaga swadaya masyarakat Daya Annisa yang membantu memberikan pelatihan soal pengemasan dan pembuatan gatot-tiwul instan. Tujuannya supaya produk mereka bisa menembus pasar modern.

”Untuk pasar modern tidak mungkin mengandalkan pengemasan seadanya seperti di pasar tradisional. Kemasannya harus lebih menarik sehingga menimbulkan kesan bukan produk murahan,” kata Wahyu Heniwati, Ketua Daya Annisa.

Sayangnya, fokus perajin masih tertuju pada pasar tradisional. Tenaga mereka tidak sanggup lagi menggarap pasar modern. ”Sebenarnya membuat gatot instan itu tidak sulit, tetapi saya sudah cukup repot dengan pembuatan gatot biasa,” ujar Erni Kistarilah.

oleh Eny Prihtiyani

Tidak ada komentar:

Posting Komentar