
Gedung Imakulata di Jalan Irian, KabupatenEnde, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, ini merupakan benda cagar budaya. Gedung ini pernahdipakai Klub Tonil Kelimutu yang didirikan Bung Karno untuk pementasan tonil pada tahun1934-1938. Namun, gedung ini terkesan tidak terawat, Jumat (31/7).
Setiap tanggal 17 Agustus, kenangan kepada apa pun yang berkaitan dengan kemerdekaan Indonesia selalu melintas kembali. Hal itu juga dialami Umar Gani dan Siti Mahani Sarimin, dua sosok yang pernah dekat dengan presiden pertama RI, Soekarno, saat ia dibuang Belanda ke Ende, Nusa Tenggara Timur.
Umar Gani adalah murid sekaligus sahabat Bung Karno, saat proklamator kemerdekaan Republik Indonesia itu berada di Ende tanggal 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938. ”Saya bermain sandiwara tiga babak,” ceritanya.
Umar adalah anggota Klub Tonil Kelimutu yang didirikan Bung Karno. Anggota klub tonil itu awalnya 47 orang, dan yang masih hidup tinggal dirinya.
Kondisi fisik lelaki kelahiran Ende tahun 1917 itu tentulah tak sebernas dulu. Kemampuan indera penglihatannya jauh menurun, demikian pula dengan pendengarannya. Namun, daya ingat Umar tetap bertahan, dan ia begitu bersemangat ketika bercerita apalagi tentang kemerdekaan dan Soekarno.
”Bung Karno tinggal bersama kami, bertatap muka, berdiskusi, dan berlatih serta mementaskan tonil bersama warga Ende selama empat tahun,” katanya.
Dia lalu menyebutkan salah satu judul pertunjukan tonil itu, ”Dr Setan” (dalam ejaan lama ”Dr Sjaitan”). Kata Umar, kisahnya seolah menjadi ramalan Bung Karno tentang saat Indonesia merdeka.
”Dalam kisah ’Dr Setan’, ada mayat yang siap dibangkitkan, tapi masih kurang tangan kanannya. Maksudnya, sewaktu Indonesia hendak merdeka, masih ada yang kurang karena Irian belum bergabung,” kata bapak lima anak dan kakek 23 cucu ini.
Tonil ”Dr Setan” menceritakan anak seorang dokter yang memiliki laboratorium dengan tujuan khusus, menghidupkan orang meninggal. Menurut Umar, ini simbol Indonesia dalam kondisi tak bernyawa, tetapi pada saatnya akan bangkit.
Laboratorium Dr Setan memiliki pipa menjulang sepanjang 45 meter, dan di dalamnya terdapat sejumlah bagian tubuh manusia yang disusun menjadi satu tubuh, siap untuk dihidupkan kembali. Di laboratorium ini bekerja 8 pegawai dan dokter. Meja laboratorium ditutup kain putih, sedangkan mayat di atasnya diselimuti kain merah.
Bagi Umar, angka-angka itu menunjukkan bulan dan tahun kemerdekaan Indonesia, sedangkan kain putih dan merah bermakna warna bendera Republik Indonesia. Tangan kanan yang kurang dari mayat itu akhirnya ditemukan di antara Kilometer 16 dan 18 dari Kota Ende.
”Saya kira Bung Karno merujuk pada tanggal kemerdekaan Indonesia,” katanya.
Selain kisah ”Dr Setan”, Umar juga fasih bicara tentang nilai perjuangan, gerakan revolusi, kebangsaan, dan nasionalisme, yang didengarnya dari Soekarno. Semua itu biasanya dia dengar pada hari Minggu, saat Bung Karno bersama anggota Klub Tonil Kelimutu berpiknik ke luar Kota Ende, seperti ke Kali Wolowona, kawasan Nangaba, Roworeke, hingga Danau Triwarna Kelimutu.
”Bung Karno mengungkapkan, konsep Pancasila dimatangkan lewat renungan panjang selama di Ende. Sila kesatu hingga ketiga sudah diperolehnya sebelum dibuang ke Ende. Jadi, di Ende, Bung Karno mematangkan sila keempat dan kelima,” katanya.
Dari Bung Karno pula warga Ende mempelajari lagu Indonesia Raya. ”Saat itu Bung Karno bercerita, kalau hasil alam Ende, pulau yang hijau ini, 90 persen dibawa ke Belanda, masyarakat Indonesia disisakan 10 persen saja. Warga Ende ditantang, bisakah menerima kondisi tersebut?”
Seingat Umar, Bung Karno juga menekankan agar bangsa Indonesia bersatu, untuk mengalahkan Belanda. Sang proklamator juga membangkitkan rasa nasionalisme dengan mengatakan, hanya diperlukan waktu satu jam untuk mengalahkan Belanda.
”Kata Bung Karno, di Tanah Air, Belanda hanya memegang kemudi, tetapi tentaranya banyak orang Indonesia. Dia juga menegaskan, yang dibencinya bukan orang Belanda, tetapi kolonialnya, dan tindakan menghalangi Indonesia untuk merdeka,” tuturnya.
Filosofi lidi untuk menggambarkan persatuan yang kuat juga dibawa Bung Karno ke Ende. ”Di rumah pengasingan, Jalan Perwira, Ibu Inggit Ganarsih (istri Bung Karno ketika itu) membuat rujak. Bung Karno lalu membagi-bagikan potongan lidi untuk makan rujak, sambil bercerita tentang persatuan yang sulit dipatahkan, sekaligus kelemahan yang mudah diwujudkan lewat lidi.”
Umar yang kemudian menjadi pedagang juga mengingat dengan jelas bagaimana Bung Karno berulang kali mengingatkan masyarakat Ende untuk ”berdiri di atas kaki sendiri” dan tidak berharap pada bantuan dari orang atau bangsa lain.
”Bung Karno berharap orang Ende mau bekerja keras untuk hidup, dan tidak terlena,” katanya.
Kawan dekat
Siti Mahani Sarimin adalah salah seorang kawan dekat Bung Karno di Ende, yang jumlahnya sekitar 90 orang, dan masih hidup sampai sekarang.
”Saya tinggal di rumah Bung Karno, membantu Ibu Inggit memasak. Waktu itu perempuan masih dipingit, termasuk saya yang masih remaja. Tetapi karena harus membantu di rumah Bung Karno, jadi saya bisa ke luar rumah,” tutur Mahani, panggilannya.
Ayah Mahani, Saleh Banjar, adalah sahabat Bung Karno. Saleh seorang pedagang yang sering membantu kebutuhan Bung Karno saat kesulitan. Bung Karno menganggap Saleh sebagai kakaknya.
”Begitu dekatnya hubungan ayah saya dengan Bung Karno, hingga Bung Karno memberikan cincin mata macan sebagai kenang-kenangan untuk ayah saya,” kata Mahani.
Dia juga mengungkapkan kekecewaan Bung Karno karena tak diberi tahu saat Saleh Banjar meninggal dunia pada 1947. ”Mengapa ketika kakak tidak ada, saya tidak diberi tahu. Itulah ungkapan Bung Karno kepada saya. Bung Karno merasa kecewa.”
Pertemuan kembali Bung Karno dengan Mahani terjadi sekitar tahun 1950 saat Bung Karno berkunjung ke Ende. Meskipun sudah menjadi presiden, Bung Karno tetap mengingat cincin mata macan yang dia berikan kepada Saleh Banjar.
”Bung Karno sempat meminta kembali cincin itu, ternyata cincin itu amat berharga, peninggalan neneknya dari Bali,” katanya.
Namun, Mahani tak bisa menyerahkan cincin itu karena sebelum meninggal sang ayah berwasiat keluarganya tak boleh menjual cincin tersebut.
”Peristiwa itu tak bisa saya lupakan. Ketika Bung Karno sudah menjadi presiden pun, ternyata masih mengingat cincin yang saya bawa. Bung Karno juga menawarkan apa pun yang saya minta asalkan mau menyerahkan kembali cincin itu. Tetapi saya bilang, kalau untuk Bapak (Bung Karno) sebagai hadiah, saya berikan. Saya tidak meminta apa-apa dari cincin itu,” kata Mahani.
Selama pengasingan di Ende, Bung Karno mendirikan sekolah sederhana untuk anak-anak setempat. Dia ingin anak-anak di Ende bisa membaca dan menulis. Sekolah itu berlokasi di salah satu rumah warga, di kawasan Pasar Mbongawani, Ende.
Meski keduanya telah ber- usia renta, daya ingat mereka tentang nilai nasionalisme yang dibawa Bung Karno tidak sirna.
SAMUEL OKTORA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar