04 September 2009

Dimensi Baru Hubungan AS-Jepang

Setelah Partai Demokrat Jepang memenangi pemilu Majelis Rendah pada 30 Agustus, keraguan menyergap Amerika Serikat. Bukan hanya karena akan berurusan dengan wajah yang sama sekali baru, melainkan sekutu erat AS di Asia ini menyerukan untuk ”mengambil jarak” dengan AS.

Sejak Perang Dunia II berakhir tahun 1945, Jepang menjadi sekutu AS di Asia. Jika ditarik ke belakang, interaksi langsung kedua negara telah terjadi sejak tahun 1791 saat dua kapal AS yang dikomando John Kendrick berlabuh selama 11 hari di Pulau Kii Oshima.



Kini, hubungan Jepang-AS tampaknya akan memasuki babak baru. Partai Demokrat Jepang (DPJ) telah lama mengambil posisi yang lebih pasifis dan lebih ”curiga” atas kedekatan hubungan Jepang dengan AS dibandingkan dengan Partai Demokratik Liberal (LDP) yang selama lima dekade terakhir berkuasa di negara itu. Secara umum, Jepang ingin merestrukturisasi aliansi Jepang-AS agar kebijakan luar negeri dan pertahanan Jepang tidak terlalu ”tunduk” kepada AS. Muncul pula pembicaraan untuk memperbaiki hubungan dengan China, pesaing AS di Asia.

Pemimpin DPJ Yukio Hatoyama, bakal perdana menteri Jepang berikutnya, telah menyatakan Tokyo seharusnya tidak hanya mengandalkan AS. Dalam artikelnya baru-baru ini yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris di situs surat kabar The New York Times, sikap itu terlihat sangat jelas. Di artikel itu disebutkan, perekonomian Jepang yang terpuruk adalah korban dari fundamentalisme pasar yang dipimpin AS.

Alarm

Pernyataan Hatoyama itu telah membunyikan alarm di Washington bahwa mereka berhadapan dengan ketidakpastian dan karena itu perlu mempersiapkan antisipasinya. Namun, para pakar Jepang di AS mengatakan, sebaiknya pemerintahan Presiden Barack Obama tidak perlu terlalu khawatir dengan pernyataan Hatoyama.

Para pakar di Jepang pun menyatakan tidak akan terjadi perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Jepang terhadap AS. DPJ pun sadar bahwa jajak pendapat di kalangan rakyat Jepang menunjukkan mereka masih mendukung kebijakan lama dalam hubungan Jepang-AS.

Hatoyama, melihat reaksi yang timbul atas tulisannya dan demi menjaga hubungan erat kedua negara selama berpuluh-puluh tahun, mengatakan tulisannya tidak mencerminkan sikap anti-Amerika.

”Kami berulang kali menyatakan hubungan Jepang-AS adalah yang terpenting sebagai dasar diplomasi dan kami menekankan pentingnya keberlanjutan dalam diplomasi,” kata Kohei Otsuka, anggota parlemen senior dari DPJ, Rabu (2/9).

Kendati mendapat jaminan seperti itu, Washington tidak bisa menghibur diri dengan menganggap tidak akan ada perubahan di Jepang. ”Fakta bahwa Jepang kini memiliki partai politik yang benar-benar kompetitif berarti bahwa pembuat kebijakan Jepang akan lebih menyesuaikan diri dengan opini publik,” sebut Wall Street Journal.

Jepang memang sedang dilanda euforia perubahan setelah lebih dari setengah abad hanya mengenal satu jenis pemerintahan. Perubahan pula yang diusung dan dijanjikan Hatoyama dalam kampanyenya dan membawa kemenangan bagi DPJ.

Sebagai sekutu, AS sebenarnya bisa ”memanfaatkan” perubahan itu, yang berpotensi menjadikan Jepang berperan lebih besar di kawasan dan menjaga kepentingan AS di kawasan. (afp/reuters)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar