Belajar di Singapura Bagi masyarakat Indonesia yang suka berbelanja, Singapura adalah surganya. Itu sebabnya informasi mengenai penjualan berbagai barang secara obral akan selalu menarik minat para pebelanja untuk memborong barang di Singapura.
Singapura juga merupakan surga bagi mereka yang hirau akan masa depan. Negeri Singa itu merupakan tempat istimewa untuk menempuh ilmu guna menyiapkan masa depan. Itu sebabnya, setiap tahun, berduyun-duyun siswa dan mahasiswa Indonesia menuju negeri dengan total luas 692,7 kilometer persegi ini.
Pendidikan sebagai devisa
Bak gayung bersambut, Singapura juga menyadari potensi yang dimiliki. Segala daya, upaya, dan dana juga dikerahkan untuk membangun pendidikan. Tekadnya satu, Singapura harus menjadi terminal pembelajaran besar (learning hub) untuk kawasan Asia, minimal Asia Tenggara.
”Setahu saya, Pemerintah Singapura memberikan alokasi dana yang begitu besar untuk membangun pendidikan. Tiga perguruan tinggi negeri, National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), dan Singapore Management University (SMU), dibangun agar memiliki standar internasional dan bisa diikuti oleh mahasiswa dari seluruh dunia. (Ini berarti) secara tidak langsung Pemerintah Singapura telah menjadikan pendidikan sebagai bagian untuk mendapatkan devisa,” ujar Riana Ang, Representative Indonesia dari National University of Singapore, kepada Kompas.
Memang, tradisi Singapura dalam membangun pendidikan boleh dikata masih baru. Ketika Pemerintah Belanda mendirikan Universiteit van Indonesie (kelak menjadi Universitas Indonesia) tahun 1946 di Jakarta, Singapura ”baru memiliki” sebuah perguruan tinggi negeri, yaitu National University of Singapore, berdiri tahun 1905.
Namun, Singapura yang menjadi koloni Inggris tahun 1819 menyadari, mereka tidak memiliki apa-apa—sumber daya alam dan luas wilayah—untuk membuat negerinya makmur. Maka, satu-satunya cara untuk memajukan negara pulau sejauh lemparan batu itu hanya dengan membangun manusia. Caranya, menciptakan pendidikan yang bagus dan berstandar internasional. Kini, pendidikan di Singapura menjadi salah satu tujuan dan pilihan kaum muda dari sejumlah negara (termasuk Indonesia) jika ingin mendapatkan pendidikan yang bagus.
Mengembangkan yang ada
Upaya Singapura mengembangkan pendidikan bukan menambah lembaga, tetapi menata dan memperbaiki yang sudah ada. Maka, jumlah perguruan tinggi—baik negeri maupun swasta—yang ada di Singapura hampir tidak bertambah secara signifikan. Tetapi, justru dari lembaga-lembaga yang ada itu kini banyak menerima tawaran dari sejumlah universitas ternama dunia untuk menjalin kerja sama. Selain itu, banyak pula perguruan tinggi dari negara lain membuka cabang di Singapura.
Berbagai kesuksesan dalam mengembangkan pendidikan sudah banyak diulas oleh media. Majalah Newsweek, tahun 2000, menempatkan NUS dalam peringkat kelima universitas terbaik Asia. Empat tahun kemudian, 2004, Times London menempatkan NUS pada peringkat ke-18 dari 200 universitas terbaik dunia. Perkembangan pesat dan kualitas yang meningkat juga terjadi pada SMU meski lembaga ini baru berdiri pada 2000.
Pertumbuhan kualitas yang begitu pesat pada tiga perguruan tinggi negeri Singapura itu bisa dipahami. Maklum, ketiga lembaga ini juga menerapkan seleksi yang amat ketat terhadap para calon mahasiswa, baik dari Singapura sendiri maupun mahasiswa asing. Maka, kepada mahasiswa baru dari ketiga universitas negeri itu, Pemerintah Singapura menawarkan semacam ikatan dinas atau mau membayar penuh. Bagi mereka yang mengambil ikatan dinas (tuition grant), diwajibkan untuk bekerja lebih dulu di Singapura setamat kuliah. Bila mahasiswa mengambil ikatan dinas, biaya kuliah turun menjadi 6.500 dollar Singapura per tahun. Sedangkan bila harus membayar penuh, sebesar 19.000 dollar Singapura (untuk ilmu-ilmu sosial) dan 20.000 dollar Singapura untuk eksakta.
Kemajuan pendidikan Singapura, selain berdampak langsung pada pembangunan manusia, juga pembangunan negeri. Peran NUS, NTU, dan SMU dalam membangun negeri Singapura juga banyak dibantu lima politeknik (Politeknik Nanyang, Politeknik Ngee Ann, Politeknik Republik, Politeknik Singapura, dan Politeknik Temasek). Dari lembaga pendidikan yang ada ini, banyak dihasilkan manusia terampil dan profesional. Selain universitas dan politeknik negeri, Singapura juga memiliki sekitar 300 perguruan tinggi swasta yang sama-sama dipacu pemerintah setempat untuk berkelas internasional. Tidak mengherankan bila di Singapura kini ada sekitar 70.000 mahasiswa internasional. Indonesia termasuk kelompok lima besar bersama China, Malaysia, India, dan Korea.
Untuk meningkatkan kualitas, sejumlah perguruan tinggi swasta Singapura juga melakukan kerja sama dengan beberapa universitas internasional terkenal dari Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan lainnya. Nah, menghadapi banyak perguruan tinggi, kita sering menghadapi kesulitan untuk memilih mana yang sepatutnya dipilih. Maka, saran yang diajukan bagi para calon siswa dan mahasiswa yang akan belajar ke Singapura, pilihlah lembaga pendidikan yang terakreditasi. Pemerintah Singapura memberlakukan akreditasi yang amat ketat. Proses akreditasi itu melalui program The Singapore Quality Class (SQC) untuk Private Education Organisation (PEO). Maka, SQC-PEO merupakan program yang membantu perguruan-perguruan swasta di Singapura untuk meningkatkan kinerja dan kualitasnya. Anda berminat? Silakan ke Singapura.(ton)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar