20 Oktober 2009

Harga Minyak Melejit Lagi

Kurs Euro Catat Rekor Tertinggi terhadap Dollar AS dalam 14 Bulan Terakhir

Selasa, 20 Oktober 2009 | 03:42 WIB

London, Senin - Harga minyak meningkat mendekati 80 dollar Amerika Serikat per barrel. Pada perdagangan Senin (19/10), harga minyak mencapai 79 dollar AS per barrel, menyentuh titik tertinggi pada tahun ini.

Harga minyak kemudian menurun menjadi 78 dollar AS karena para investor kemudian memerhatikan kinerja keuangan dari perusahaan ritel besar di AS dalam pekan ini. Kinerja perusahaan ritel mencerminkan kekuatan kantong konsumen. Kinerja perusahaan ritel diperkirakan membaik dan hal itu berarti belanja konsumen dan kepercayaan konsumen semakin meningkat.

Harga minyak sangat berfluktuasi. Penyebabnya adalah pelemahan dollar AS, yang membuat pedagang di pasar komoditas memborong minyak. Kenaikan harga minyak membuat nilai investasi mereka dalam denominasi dollar AS tetap bertahan.

Inilah fenomena baru yang muncul sekarang, di mana penurunan dollar AS selalu berakibat pada kenaikan harga minyak.

Terhadap dollar AS, kurs euro (mata uang euro yang kini dipakai 16 negara Uni Eropa) menguat ke titik tertinggi selama 14 bulan terakhir. Hal itu mencerminkan bahwa dollar AS masih terus tertekan. Euro melewati batas psikologis 1,50 dollar AS menjadi 1,493 dollar AS.

”Kecenderungannya, dollar masih terus melemah karena tidak ada dukungan untuk mata uang AS itu. Defisit AS terus membengkak dan karena bank mendiversifikasikan cadangan devisa mereka ke mata uang lain, seperti euro,” ujar Marcus Hettinger, analis mata uang pada Credit Suisse di Zurich.

Faktor lain penyebab kenaikan harga minyak adalah harapan bahwa harga minyak akan terus naik seiring dengan pemulihan ekonomi global tahun depan. Pertumbuhan ekonomi memerlukan pasokan energi lebih banyak lagi.

Namun, sebagian besar yakin kenaikan itu bukan karena kenaikan permintaan. ”Kenaikan luar biasa ini lebih banyak disebabkan optimisme pasar daripada keadaan fundamental sektor minyak. Kita tidak akan melihat harga turun ke kisaran 65 hingga 75 dollar AS per barrel,” demikian catatan dari JBC Energy di Vienna.

JBC mengamati rendahnya permintaan minyak dari negara- negara industri maju. ”Gerakan dari 75 dollar AS ke 78 dollar AS telah terjadi, tanpa diikuti perkembangan fundamental yang berarti,” tutur Olivier Jakob dari Petromatrix di Swiss. ”Akan tetapi, kenaikan terjadi karena faktor teknis semata di pasar. Namun, biasanya harga yang cepat naik, akan cepat pula turun,” ujarnya.

Saham menguat

Dengan kata lain, aspek spekulasi lebih banyak berperan pada kenaikan atau penurunan harga minyak.

Sementara itu, pasar saham di Eropa dan Asia sebagian besar ditutup menguat. Indeks DAX Jerman naik 1,3 persen, FTSE 100 Inggris naik 1,3 persen, dan CAC-40 Perancis naik 1,2 persen. Sebagian besar pasar saham di Asia juga naik.

Kenaikan ini kontras dengan keadaan sebelumnya, di mana para pelaku di pasar saham cukup terkejut dengan kinerja buruk keuangan General Electric dan Bank of America pada Jumat lalu. Akan tetapi, kekecewaan itu cepat pulih karena para investor berharap perusahaan teknologi, seperti Texas Instruments dan Apple Inc, akan melaporkan kinerja keuangan yang lebih bagus.

”Harus diingat bahwa 62 perusahaan yang termasuk dalam indeks S&P 500 telah melaporkan kinerjanya dan 79 persen sudah melampaui perkiraan,” ungkap analis dari Stuart Bannett, dari Calyon di London. Artinya, kinerja perusahaan relatif membaik.

(AP/AFP/Reuters/joe)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar