LONDON, Selasa - Masa depan dollar AS sebagai mata uang utama dunia akan menjadi semakin tidak jelas atau setidaknya memudar. Sebuah laporan yang dikeluarkan pada hari Selasa (6/10) menyatakan, negara-negara Arab telah melakukan langkah rahasia bersama dengan China dan Rusia untuk menghentikan penggunaan dollar AS untuk perdagangan minyak.
Laporan surat kabar Inggris The Independent itu dibantah Kuwait dan Qatar. Di sela bantahan itu, kurs dollar AS pada perdagangan Selasa menurun terhadap mata uang kuat seperti euro. Sebaliknya, harga emas semakin meroket, mencapai 1.043,78 dollar AS per ounce. Logam mulia sering menjadi alternatif investasi ketika mata uang kuat melemah.
Seruan untuk tidak bergantung pada dollar AS telah menjadi isu dunia. Krisis global membuat kurs dollar AS menurun dan menjadikan nilai aset-aset berdenominasi dollar AS merosot.
China merupakan salah satu pemegang aset berdenominasi dollar AS terbesar. Bank sentral China banyak membeli obligasi Pemerintah AS. China juga telah berupaya memperluas penggunaan mata uangnya dengan menerbitkan obligasi yuan pertama di luar daratan China bulan ini.
Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyerukan agar dibentuk satu mata uang global untuk mengakhiri denominasi dollar AS. Privilis dollar AS, berpuluh-puluh tahun didambakan dunia, juga merupakan salah satu penyebab membengkaknya defisit perdagangan AS.
Komposisi mata uang
The Independent melaporkan bahwa negara-negara Arab akan membentuk mata uang yang terdiri atas sekumpulan mata uang seperti yen, yuan, euro, emas, dan mata uang bersama untuk negara yang tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk, termasuk Arab Saudi, Abu Dhabi, Kuwait, dan Qatar. Dana Moneter Internasional (IMF) menggunakan mata uang Special Drawing Rights yang terdiri atas yen, dollar AS, dan euro.
Analis dari Forex.com, Jane Foley, mengatakan, laporan tersebut merupakan bab lain yang dirancang untuk menghentikan denominasi dollar AS. (AP/joe)
Kompas, Kamis, 8 Oktober 2009 | 03:39 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar