13 Oktober 2009

TERORISME; Sudah 466 Orang Ditangkap Polisi

Polisi mendampingi seorang penghuni kos tempat kejadian perkara (TKP) penyergapan dan penembakan tersangka teroris di RT 02 RW 03 Kelurahan Cempaka Timur, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, saat mengambil barang dari kamarnya, Senin (12/10). Rumah tersebut masih diberi garis polisi dan menunggu olah TKP.


Jakarta-Tim satuan tugas antiteror Mabes Polri telah menangkap 466 orang yang terlibat terorisme sejak peristiwa bom Bali 2002. Sebanyak 14 orang di antaranya tewas saat disergap. Walaupun penembakan itu akibat dari adanya perlawanan pelaku, hal tersebut dikhawatirkan memutus rantai informasi.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna mengatakan, pada dasarnya kebijakan Polri dalam setiap penyergapan adalah menangkap sasaran hidup-hidup. Namun, di lapangan beberapa kali polisi terpaksa menembak karena sasaran penyergapan kerap melawan. Hal itu juga terjadi saat menyergap buronan kakak-beradik Mohamad Syahrir dan Syaifudin Zuhri di rumah kos di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (9/10) siang.

”Instruksi dan komitmen polisi adalah sangat ingin menangkap hidup-hidup, tetapi di lapangan tidak selalu dapat dilakukan. Mereka sering kali justru ingin ditangkap mati. Putri Munawaroh, misalnya, malah marah kepada polisi, ’kenapa saya tidak dibiarkan mati’,” ucap Nanan menirukan Munawaroh, istri tersangka Susilo yang tewas di Solo saat penyergapan Noordin M Top, 17 September.

Nanan mengatakan, dari 10 bom rakitan bersumbu yang disimpan Zuhri dan Syahrir di kos, sebanyak tiga bom dilemparkan oleh Zuhri ke polisi. Ledakan bom itu meninggalkan dua lubang (crater) di lantai kamar kos. Ketika tengah berupaya melempar bom ketiga dari kamar mandi kos, Zuhri tertembak. ”Bomnya kecil, seukuran kepalan tangan,” kata Nanan.

Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail mengatakan, operasi penyergapan polisi semakin menunjukkan kemajuan dalam hal waktu. Namun, akan lebih baik lagi jika sasaran yang ditarget dapat ditangkap hidup. Sebab, tangkapan hidup akan lebih bermanfaat untuk mengurai lebih jauh jaringan terorisme yang berlapis-lapis.

”Tanpa mengurangi apresiasi kepada kepolisian, tangkapan hidup pasti akan bermanfaat untuk polisi sendiri,” ujar Noor Huda.

Terlebih, tambah Noor Huda, Zuhri dan Syahrir mengklaim terkait dengan Al Qaeda. Keterlibatan pihak luar akan lebih terang jika keduanya ditangkap hidup. Selain itu, kata Noor Huda, tangkapan hidup akan mengurangi beban polisi meyakinkan pihak-pihak yang skeptis.

”Kalau ditangkap hidup, keterangan mereka dapat disaksikan sendiri oleh publik nantinya di pengadilan,” katanya.

Noor Huda berharap kemampuan polisi akan terus meningkat sehingga dalam operasi selanjutnya dapat melumpuhkan tanpa mematikan sasaran yang melawan. ”Mematikan mereka malah membuat tujuan mereka tercapai, yaitu mati dalam persepsi yang mereka inginkan,” ujarnya.

Identifikasi

Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Mabes Polri Brigadir Jenderal (Pol) Edi Saparwoko mengatakan, berdasarkan hasil identifikasi sidik jari dan DNA, kedua jenazah yang tewas di rumah kos di Ciputat benar adalah Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir.

Edi menjelaskan, pada pemeriksaan DNA, dari keluarga Zuhri diambil sampel dari anak laki-lakinya (usia 6 tahun) dan istrinya. Dari keluarga Syahrir diambil sampel dari anak perempuannya (10 tahun) dan istrinya. Hasilnya, pemeriksaan menunjukkan kecocokan. Pemeriksaan sidik jari kedua jenazah juga cocok.

Nanan menjelaskan, dalam peristiwa peledakan bom di Hotel JW Marriott dan The Ritz- Carlton, 17 Juli 2009, semua pelaku langsung telah terungkap. Total pelaku yang terungkap 21 orang. Sebanyak 11 orang di antaranya tewas sebagai pelaku bom bunuh diri dan tewas saat disergap, yakni Dani Dwi Permana, Nana Ichwan Maulana, Air Setyawan, Eko Joko Sarjono, Ibrohim, Bagus Budi Pranoto (Urwah), Noordin M Top, Ario Sudarso, Susilo, Syaifudin Zuhri, dan Mohamad Syahrir. Sementara 10 tersangka yang ditangkap hidup adalah Amir Abdillah, Aris Susanto, Indra Arif Hermawan, Muhammad Jibriel, Ali (warga negara asing), Rohmad Puji Prabowo alias Bejo, Supono alias Kedu, Putri Munawaroh, Fajar Firdaus, dan Sonny Jayadi.

Fajar Firdaus—keponakan dari istri Syahrir—ditangkap Jumat lalu di Bekasi. Sementara Sonny Jayadi (24) ditangkap Sabtu pukul 00.30 di Wisma Takanajuo, Jalan Paus, Padang, Sumatera Barat. Sonny saat itu menjadi tim sukarelawan di Padang pascagempa. Fajar mengetahui rencana serangan bom bunuh diri terhadap Presiden yang akan dilakukan Ibrohim.

Fajar menitipkan Syahrir dan Zuhri kepada Sonny yang menyewa kos di Ciputat. Sonny tahu keduanya adalah buron. Kepada polisi, Sonny mengaku mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Namun, sejauh ini pihak UIN belum dapat mengonfirmasi. Sewa kos di Ciputat Rp 430.000 per bulan dibayar oleh Sonny dan Af, yang tengah diselidiki. (SF)
Kompas, Selasa, 13 Oktober 2009 | 03:42 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar