Tampilkan postingan dengan label Australia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Australia. Tampilkan semua postingan

15 Oktober 2009

Pendidikan Tak Kenal Resesi

Oleh Tonny D Widiastono

Pendidikan agaknya tidak mengenal resesi. Buktinya, minat untuk masuk ke sekolah dan universitas terus meningkat. Hal itu tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga yang ingin belajar ke luar negeri.

”Ada kecenderungan jumlah orang Indonesia yang belajar ke luar negeri terus meningkat,” ujar Harianto, Ketua Panitia Pameran Pendidikan Luar Negeri, di Jakarta, beberapa waktu lalu. Dalam pameran yang diselenggarakan oleh Ikatan Konsultan Pendidikan Internasional Indonesia itu, peserta tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga banyak yang datang langsung dari luar negeri, seperti Jerman, Swiss, China, Malaysia, Australia, dan Selandia Baru. Dan, seperti biasanya, pameran pendidikan selalu dipenuhi pengunjung yang berminat mencari informasi studi ke luar negeri.

Meski minat belajar ke luar negeri cenderung meningkat, Harianto tidak bisa menyebutkan angka pasti. Kepastian itu justru muncul dari Deby Nasution, Senior Executive Tourism Business (Education) Singapore Tourism Board.

”Saat ini, jumlah siswa/mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Singapura sekitar 10.000 orang. Karena itu, Indonesia termasuk kelompok lima besar yang banyak mengirimkan siswa/mahasiswa ke Singapura selain China, India, dan negara-negara ASEAN,” ujar Deby kepada Kompas.

Hal senada dikemukakan Darsham bin Daud, Direktur Promosi Pendidikan Kedutaan Besar Malaysia (Education Malaysia), di Jakarta.

”Saat ini ada 10.600 siswa/mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Malaysia. Ini angka yang amat signifikan mengingat tahun 2004 jumlah siswa/mahasiswa Indonesia sekitar 5.600 orang. Ini berarti, setiap tahun hampir mengalami kenaikan 20 persen,” ujar Darsham.

Berdasarkan peningkatan jumlah siswa/mahasiswa Indonesia yang belajar ke luar negeri, tak bisa disangkal bahwa pendidikan memang tidak mengenal resesi. Dalam keadaan apa pun, pendidikan akan selalu dibutuhkan.

Pasar yang bagus

Bermarkas di Menara Danamon di kawasan Mega Kuningan. Deby menjelaskan, Singapore Tourism Board adalah lembaga Pemerintah Singapura yang hanya memberikan informasi umum, bukan sebagai agen pendidikan. Adapun agen-agen yang boleh ”menangani” calon siswa/mahasiswa yang akan belajar di Singapura adalah agen yang mendapat semacam lisensi, Singapore Education Specialist.

”Memang hingga kini ada sekitar 30 perguruan tinggi swasta di Singapura yang aktif berpromosi di Indonesia. Itu sebabnya, jumlah mahasiswa Indonesia di Singapura paling banyak berasal dari Jakarta, Surabaya, dan Medan,” lanjut Deby.

Sementara itu, kebanyakan mahasiswa Indonesia yang belajar di Malaysia berasal dari Sumatera. ”Ini bisa dipahami karena dari Aceh, Riau, Medan, atau Padang jauh lebih dekat ke Malaysia daripada ke Jakarta. Apalagi, menurut survei, Jakarta merupakan kota termahal ke-11 di Asia. Sedangkan Kuala Lumpur masuk dalam kota ke-33 termahal. Penentuan itu didasarkan pada harga sewa hotel, transportasi, serta makanan. Tentu saja kota termahal di Asia masih diduduki Tokyo, Korea, dan lainnya,” ujar Darsham.

Melihat peningkatan arus siswa/mahasiswa Indonesia yang belajar ke luar negeri, secara tidak langsung juga hal itu menguatkan pendapat bahwa negeri berpenduduk lebih dari 220 juta jiwa ini merupakan pasar yang bagus.

Banyak kesamaan

Besarnya jumlah siswa/mahasiswa Indonesia di Singapura dan Malaysia tentu tidak lepas dari berbagai faktor.

Pertama, siswa/mahasiswa Indonesia tidak akan mengalami kejutan budaya bila belajar di Singapura atau Malaysia.

”Cuma isu terakhir terkait hubungan Indonesia-Malaysia membuat kami harus diam. Padahal, jujur kami akui, 80 persen hingga 90 persen penduduk Malaysia itu datang dari Jawa, Aceh, Riau, Padang, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya. Mereka datang sejak zaman Belanda dulu. Dalam tubuh saya ini juga masih mengalir darah Bugis karena leluhur saya berasal dari Sulawesi,” kata Darsham.

Kedua, dari segi geografis, jarak tempuh dari Indonesia ke Singapura dan Malaysia tidak terlalu jauh. Bahkan, apabila ingin ke Kuala Lumpur atau Singapura, masyarakat Indonesia yang tinggal di Batam, Riau, Aceh, Medan, dan Padang tidak memerlukan waktu terlalu lama.

Ketiga, cuaca di Singapura, Malaysia, dan Indonesia boleh dikatakan sama, tak ada perbedaan.

Keempat, makanan yang ada di Malaysia, Singapura, dan Indonesia juga tidak jauh beda.

”Karena berbagai kesamaan itulah, banyak siswa dan mahasiswa Indonesia memilih Singapura dan Malaysia untuk belajar. Dulu, Australia menjadi tujuan utama studi. Tetapi, jarak yang jauh dan urusan visa yang sering memakan waktu membuat siswa dan mahasiswa Indonesia berpaling ke Malaysia atau Singapura. Kebetulan banyak universitas asing, juga dari Australia, yang membuka cabang di dua negeri itu. Juga kualitas pendidikan di Singapura dan Malaysia yang semakin bagus, membuat dua negeri itu menjadi tujuan utama,” tutur Diana yang mengantar putranya mengunjungi pameran pendidikan luar negeri pada Agustus lalu di Jakarta Hilton Convention Center.

Alasan senada ditambahkan Darsham. ”Kalau anak rindu orangtua atau orangtua rindu anak, dalam sekejap bisa saling bertemu di Malaysia, Singapura, atau Indonesia. Bahkan, kini banyak orangtua yang sambil berakhir pekan menengok anak- anaknya yang sedang belajar di Kuala Lumpur atau Singapura,” katanya.

Tanggung jawab

Upaya mempromosikan pendidikan yang diadakan Malaysia maupun Singapura dilakukan dengan memberikan jaminan. Malaysia, misalnya, untuk membangun pendidikan menyediakan anggaran 30 persen dari total anggaran.

Untuk memudahkan pembangunan pendidikan, Malaysia ”membagi” dua kementerian, yaitu Kementerian Pelajaran yang membawahkan jenjang pendidikan dari taman kanak-kanak hingga SMA. Sementara Kementerian Pengajaran Tinggi khusus mengurusi jenjang pendidikan D-3 hingga S-3. Masing-masing kementerian mempunyai tugas sendiri-sendiri. Kementerian Pelajaran bertugas untuk terus mengembangkan sekolah, termasuk pembaruan kurikulum dari waktu ke waktu. Adapun Kementerian Pengajaran Tinggi terus berusaha mendorong perguruan tinggi di Malaysia untuk mencapai standar internasional, baik sistem maupun program- programnya.

Di Singapura, pemerintah setempat selain memacu tiga universitas negeri—National University of Singapore, Nanyang Technological University, dan Singapore Management University—untuk mencapai standar internasional juga memberlakukan aturan ketat terhadap sekolah dan universitas swasta. Kini ada sekitar 300 lembaga pendidikan swasta (private education organization/PEO) di Singapura.

”Untuk melindungi siswa dan mahasiswa asing, Kementerian Pendidikan Singapura memberlakukan peraturan amat ketat terhadap PEO. Ada tiga hal yang harus dijalankan oleh perguruan swasta, yaitu piawai dalam bidang akademik, mampu mengelola dan mengorganisasi dengan andal, dan memberikan jaminan proteksi terhadap siswa atau mahasiswa. Ini untuk menjaga jangan sampai siswa atau mahasiswa asing tertipu,” ujar Deby Nasution.

Melihat betapa seriusnya negara tetangga—Singapura dan Malaysia—mereka yakin bahwa pendidikan tidak mengenal resesi. Kapan pun, manusia memerlukan pendidikan. Keadaan ini menyentak kita untuk berpaling kepada pendidikan dalam negeri. Kapankah kualitas pendidikan kita benar-benar bertaraf internasional? Kita tunggu.

21 Agustus 2009

Mengenang Diplomat Critchley

Akhir Juli lalu, TV One mewawancarai saya, siapa orang asing yang mendukung perjuangan Indonesia pada masa perang kemerdekaan?

Saya sebut beberapa nama, antara lain Kolonel Laurens van der Post (Inggris), saudagar Jack Abbott (Amerika Serikat), diplomat Thomas Critchley (Australia), Kapten Sen Gupta (India), pengusaha Biju Patnaik (India), dan wartawan Frans Goedhart (Belanda).

Tak lama kemudian, saya menerima berita sedih dari Susan di Sydney. Ia mengabarkan, suaminya, Thomas Kingston Critchley, meninggal dunia pada 14 Juli 2009 dalam usia 93 tahun.

Sebelum menikah, Susan adalah warga negara AS. Dia bekerja sebagai sekretaris di Perwakilan Indonesia di New York yang dipimpin oleh LN Palar dengan staf Dr Sumitro Djojohadikusumo, Soedjatmoko, Soedarpo Sastrosatomo, dan Charles Tambu. Tanggal 24 Agustus mendatang, Susan mengadakan pertemuan di Pilu Restaurant, Freshwater, untuk mengenang Thomas Critchley.

Thomas Critchley sebagai diplomat berusia 31 tahun datang ke Indonesia setelah Belanda melancarkan aksi militer pertama terhadap Indonesia pada 21 Juli 1947. Kendati ada Persetujuan Linggajati yang ditandatangani 25 Maret 1947 dalam Istana di Jakarta, hal itu tidak menghalangi militer Belanda untuk menyapu bersih Indonesia dengan peperangan.

Menunjuk Australia

Belanda menunjuk Belgia untuk mewakilinya pada Komite ini dan Indonesia menunjuk Australia. Kedua negara itu kemudian bersama-sama menunjuk Amerika Serikat. Delegasi Australia diwakili Justice Richard C Kirby dengan Thomas Critchley sebagai deputinya. Indonesia memilih Australia karena negeri ini mendukung kuat perjuangan Indonesia. Serikat buruh Australia terkenal sebagai pemboikot pemuatan ke dalam kapal-kapal Belanda barang-barang untuk digunakan mengembalikan penjajahannya.

Ternyata Komite Jasa Baik tidak berdaya karena disabot Belanda yang memang tidak mempunyai maksud baik. Belanda terus menuduh Indonesia melanggar ketentuan gencatan senjata dan memajukan tafsirannya sendiri mengenai pasal-pasal Persetujuan Renville.

Dalam keadaan buntu itu, wakil Amerika Serikat dalam Komite, Court DuBois, yang sebelum perang pernah menjadi Konjen AS di Hindia Belanda, bersama Critchley menyusun sebuah rencana usul kompromi guna mengatasi kebuntuan. Prinsip-prinsip itu dikenal sebagai DuBois-Critchley Plan yang disampaikan secara privat kepada delegasi Belanda dan Indonesia tanggal 19 Juni 1948.

Dasar Belanda tidak mau menerima, lalu diputuskan perundingan dengan Indonesia dengan memakai alasan ”DuBois telah membocorkan isinya kepada Daniel Schorr, koresponden majalah Amerika, Time, di Jakarta”.

DuBois menyangkal keras sudah menjadi pembocor rencana itu. Yang sebenarnya terjadi ialah Belanda telah memata-matai berita/tulisan koresponden luar negeri yang dikirim melalui kantor pos. Belanda-lah yang membocorkan kepada Daniel Schorr. Notabene berita itu tidak sampai dimuat oleh Time.

Belanda terus memojokkan Indonesia. Blokade angkatan lautnya diperketat sehingga praktis tidak ada barang yang keluar atau masuk melalui pelabuhan yang masih dikuasai Indonesia. DuBois kembali ke AS karena kesehatannya terganggu. Kedudukannya digantikan Dr Graham yang terkenal karena ucapannya kepada Perdana Menteri Amir Syarifuddin dalam perundingan di atas kapal Renville, ”You are what you are”. Justice Kirby kembali ke Australia digantikan Tom Critchley.

Belanda melancarkan aksi militer kedua tanggal 19 Desember 1948. Pimpinan pemerintah agung Indonesia ditangkap militer Belanda dan diasingkan ke Prapat dan Bangka. Kembali Dewan Keamanan PBB turun tangan dalam konflik Indonesia-Belanda.

Pasal 17 Persetujuan Linggajati mengenai soal arbitrase telah membuat soal Indonesia menjadi masalah internasional Komite Jasa Baik diubah namanya menjadi Komisi PBB untuk Indonesia pada tahun 1948-1950. Ketua delegasi Amerika Serikat adalah Merle Cochran dan ketua delegasi Australia Tom Critchley. Kedua diplomat itu memegang peran membawa Belanda dan Indonesia berunding kembali.

Bintang jasa utama

Sebagai wartawan yang meliput KMB, saya lihat Thomas Critchley sebagai diplomat berusia 33 tahun dengan percaya diri penuh ikut mengemudikan konferensi sampai berhasil.

Thomas Critchley hilang dari radar pemantauan saya. Dia menjabat sebagai Duta Besar di Kuala Lumpur sewaktu Indonesia mengganyang proyek kolonialisme Malaysia.

Thomas Critchley kembali ke Indonesia sebagai Duta Besar (1978-1981) dan menyelesaikan tugasnya dengan baik untuk merapatkan hubungan Australia-Indonesia. Pada tahun 1992 Thomas Critchley dianugerahi Bintang Jasa Utama dari Pemerintah Indonesia. Upacara penyerahan penghargaan dilaksanakan di Sydney oleh Dubes Indonesia Sabam Siagian yang mengatur, agar mobil yang menjemput Critchley mengibarkan bendera Sang Merah Putih sebagai pernyataan kehormatan bagi Critchley yang menjadi amat terharu oleh beau geste itu.

Tom dan Susan bersahabat baik dengan keluarga kami. Pernah dengan menyetir mobil sendiri, Dubes Australia itu membawa istri dan putra-putrinya bersilaturahim ke rumah kami. Terakhir kami bertemu dengan Tom dan Susan saat Zuraida dan saya diundang menghadiri dinner, ketika kami menghadiri Festival Film Asia Pasifik ke-39 di Sydney, Agustus 1994. Dalam Sydney Morning Herald saat itu ada kritik ke alamat Indonesia bertalian dengan soal Timor Timur. Namun, Tom tidak bicara soal politik untuk menjaga suasana batin akrab pada santap malam yang juga dihadiri Ratih Harjono dan ibunya, saat itu koresponden Kompas di Australia.

Begitulah sikap Tom Critchley. Selalu diplomatis dan bijaksana (tactful). Kami dari generasi zaman Revolusi mengenang jasa-jasamu bagi perjuangan Republik Indonesia.

Semoga Tuhan memberkatimu, Tom.

Rosihan Anwar Wartawan Senior, Jumat, 21 Agustus 2009