24 Agustus 2009

FENOMENA URBAN; Ojek Ternate, Motor Baru dan Jaket Wangi


Warga Ternate, Maluku Utara, yang menjadi tukang ojek sebagai mata pencarian semakin banyak pascakerusuhan sosial pada tahun 2000. Kini diperkirakan ada 5.000 tukang ojek.

Mahani (45) terkejut bukan main saat tukang ojek yang mengantarnya pulang dari pasar ternyata suaminya sendiri, Alimuddin (50). Mahani baru tahu itu suaminya setelah si tukang ojek membuka helm berkaca hitam yang dikenakannya.

Begitulah jika sebuah kota dibanjiri tukang ojek seperti di Ternate, Maluku Utara.

Mahani waktu itu pulang dari belanja di Pasar Inpres, Bastiong, Ternate. Ia memanggil tukang ojek yang mangkal di dekat pasar dan tanpa basa-basi langsung naik. Mahani hanya sekali menyebutkan daerah rumahnya sekitar 5 kilometer dari pasar.

Mahani sebenarnya sempat heran karena si tukang ojek hafal setiap belokan dan lorong-lorong sempit menuju rumahnya. Bahkan, ia diantar hingga ke halaman rumah. Tukang ojek lain biasanya hanya sampai di muka lorong atau gang.

”Ternate ini kota sejuta ojek. Orang bisa tidak tahu diantar oleh kenalannya atau keluarganya, seperti pengalaman mertua saya itu,” ujar Fahmi (30), warga Kampung Pisang, Ternate, Jumat (31/7).

Bak jamur pada musim hujan, ribuan tukang ojek bermunculan di Ternate pascakerusuhan tahun 2000. Kala rusuh, tak ada angkutan umum yang beroperasi selepas petang. Ruang kosong ini dilirik sebagian warga untuk menawarkan jasa ojek.

Tukang ojek bisa menyusuri lorong-lorong alternatif yang aman. Kota Ternate dengan lorong-lorong sempit pun cocok untuk ojek. Merebaklah tukang ojek hingga kini yang diperkirakan mencapai 5.000 orang.

”Beberapa tahun lalu dalam kuis Who Wants to be A Millionaire, Ternate disebut kota dengan tukang ojek terbanyak di Indonesia,” ujar Fahmi.

Iptu Yusran, Kepala Seksi STNK Polres Ternate, menyebutkan, sepeda motor yang masuk di Ternate pada 2008 terdata 12.025 unit. Periode Januari-Juli 2009, ada 2.482 sepeda motor baru. Setiap tahun, sepeda motor yang masuk ke pulau seluas 112,25 kilometer persegi itu 500-1.000 unit.

Di kota berpenduduk sekitar 176.000 jiwa itu, tukang ojek digeluti sebagai profesi tetap atau sambilan. Bahkan, banyak orang yang datang dari Jawa dan Sulawesi untuk menjadi tukang ojek. Sarjana baru lulus pun tak malu mengojek sambil menunggu pendaftaran pegawai negeri. Hasilnya lumayan bagus daripada menganggur.

”Saya sudah delapan bulan narik ojek selepas lulus kuliah di Makassar. Setiap hari bisa dapat penghasilan bersih Rp 50.000- Rp 70.000,” ujar Anton (30), tukang ojek yang menunggu penerimaan pegawai negeri sipil di Provinsi Maluku Utara.

Anton bersama 30 tukang ojek lain setiap hari mengadu nasib di pangkalan ojek di depan Kantor Samsat Kota Ternate. Mereka dengan tertib bergantian menunggu giliran. Tidak ada iri dan saling sikut karena, bagi mereka, rezeki sudah diatur Sang Mahapemurah.

Kode etik sesama tukang ojek pun dijunjung tinggi. Jika seorang calon penumpang memanggil tukang ojek yang melintas di jalan, padahal ada pangkalan di dekatnya, jangan harap dia akan diladeni. Tukang ojek di pangkalan kontan akan memanggil dan memberi tahu si calon penumpang untuk naik ojek yang berada di pangkalan.

Begitu banyaknya tukang ojek, jangan tersinggung jika Anda mengendarai sepeda motor tiba-tiba dipanggil seseorang untuk mengantar ke satu tujuan. ”Saya sering dipanggil dan diminta mengantar orang karena dikira tukang ojek,” kata Purwanto Ngatmo, wartawan di Ternate.

Mengenali ciri-ciri tukang ojek, lanjut Purwanto, sebenarnya mudah, yaitu sepeda motor yang modis kadang dilengkapi sistem tata suara. Tukang ojek biasanya mengenakan jaket, sepatu, sarung tangan, dan tergantung helm untuk (penumpang) pembonceng. Mereka juga menyimpan parfum di bagasi sepeda motor. Perbekalan parfum ini muncul karena para penumpang kerap terganggu dengan bau apek jaket yang jarang dicuci hingga berbulan-bulan itu. Aduh…!

Tukang ojek di Ternate sekarang ini bisa dibilang trendi. Sepeda motor baru dan jaket wangi, jauh dari sosok tukang ojek di Jakarta yang kumal lagi bau.

Batu loncatan

Menjadi tukang ojek bukan sekadar bisa tampil trendi. Profesi ini juga menjadi batu loncatan meraih kehidupan yang lebih baik. Setidaknya itu dialami Husni Rakib yang menjadi anggota DPRD Kota Ternate periode 2004-2009 karena didukung para tukang ojek.

Husni memelopori berdirinya paguyuban tukang ojek di Ternate dan menjadi sekretaris paguyuban Topans. Husni mampu menumbuhkan solidaritas para tukang ojek untuk memilihnya sebagai wakil rakyat.

Saat pemilihan gubernur dan wakil gubernur Maluku Utara tahun lalu dan anggota legislatif tahun ini, tukang ojek pun dirangkul. Mereka diajak memeriahkan kampanye dengan imbalan uang sesuai setoran minimal harian Rp 35.000-Rp 50.000. Bahkan, beberapa pangkalan ojek ”dikontrak” oleh sejumlah parpol untuk dicat dan digambari lambang partai. Para tukang ojek juga dijadikan kader untuk membagikan kartu nama caleg kepada setiap penumpang.

Andi (24), tukang ojek yang putra asli Ternate, mengakui hal ini. Panjang barisan tukang ojek waktu kampanye pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah bisa mencapai 4 kilometer. Ada ribuan tukang ojek dikerahkan setiap kali kegiatan politik di Ternate.

Bagi masyarakat umum yang serius menggeluti profesi ojek, hasilnya bisa menyejahterakan hidup. Alimuddin, misalnya, yang pernah terpuruk karena usaha dagangnya pailit, bisa bangkit karena ojek. Pertama kali jadi tukang ojek, ia hanya memiliki satu sepeda motor kreditan. Kini ia memiliki lima sepeda motor ojek di Weda, Kabupaten Halmahera Tengah. Setoran ojek anak buahnya sudah ”menjadi” rumah, sepeda motor, dan beberapa bidang tanah.

Kisah ojek di Ternate memang unik, lucu, sekaligus menyimpan ironi. Daerah yang dahulu dikenal bangsa-bangsa Eropa sebagai penghasil komoditas senilai emas, yakni pala dan cengkeh, itu kini kehilangan pamornya.

Pamor pala, cengkeh, dan rempah hilang, berganti membanjirnya tukang ojek. Setiap kali harga cengkeh jatuh, pemerintah angkat tangan. Petani semakin tak berdaya dan sebagian lari menjadi tukang ojek.

Mobilisasi tukang ojek Ternate dalam persaingan merebut kekuasaan merupakan refleksi realitas getir dunia politik nasional, yakni sekadar mengandalkan pengerahan massa belaka.

Tukang ojek pun kerap menjadi kuda tunggangan politisi yang sering lupa mengembangkan daerah perbatasan Indonesia yang seharusnya lebih makmur dari Pulau Jawa itu.

Oleh Iwan Santosa dan Agung Setyahadi, Senin, 24 Agustus 2009 | 03:11 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar