24 Agustus 2009

Ijazah Palsu di Yogya; Banyak Diumumkan Melalui Iklan

Yogyakarta, Kompas - Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta mengindikasikan adanya sindikat penjualan ijazah palsu selama beberapa tahun terakhir. Diduga, ribuan lembar ijazah palsu hasil sindikat tersebut telah beredar ke sejumlah daerah.

Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah V DI Yogyakarta Budi Santosa Wignyosukarto mengatakan, sindikat itu mulai terdeteksi tahun 2006. Kecurigaan muncul dari sejumlah iklan penawaran ijazah di selebaran ataupun koran. ”Satu sindikat pernah tertangkap tahun 2007 di Wates, Kabupaten Kulon Progo. Namun, dari iklan yang masih beredar, pencetakan dan penjualan ijazah palsu diduga kuat masih dipraktikkan, entah oleh sindikat yang berbeda atau sama,” ujarnya di Yogyakarta, Minggu (23/8).

Sejumlah iklan menawarkan ijazah gelar D-3 yang bisa diperoleh dalam waktu beberapa bulan, tanpa skripsi, dan biayanya murah. Selebaran lain mengatasnamakan program kuliah kelas konversi perguruan tinggi swasta (PTS) menawarkan ijazah gelar D-3 hingga S-2 dengan waktu dari pendaftaran hingga wisuda kurang dari sebulan.

Penawaran meliputi lima jenis ijazah, yaitu D-3 sosial dengan biaya Rp 4 juta, D-3 eksakta (Rp 4,5 juta), S-1 sosial (Rp 8,75 juta), gelar S-1 eksakta (Rp 10,75 juta), dan Rp 14,75 untuk S-2 magister manajemen. Dicantumkan juga, program itu diikuti sekitar 50 PTS di Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Jakarta.

Praktik itu dilakukan sejak Desember 2005 dengan tiga kali wisuda setahun. Diduga lebih dari 2.000 lembar ijazah palsu telah dihasilkan. ”Asumsinya kalau setahun mencetak 500 ijazah, sesuai pengakuan pelaku yang tertangkap tahun 2007,” kata Budi.

Selain itu, Kopertis Wilayah V DIY juga menemukan pemalsuan ijazah oleh perseorangan. Modusnya dengan mengganti nama asli pemegang ijazah dengan nomor ijazah tetap.

Untuk mencegah menjadi korban pencatutan, lanjut Budi, PTS perlu segera memberi pengaman pada ijazah yang diterbitkan, di antaranya dengan memberi hologram atau mencetak dengan kertas khusus.

Budi menuturkan, Kopertis Wilayah V DIY telah menginformasikan dan menyertakan bukti kepada pihak kepolisian. Dengan kemajuan teknologi informasi, kini pemalsu bisa dengan mudah memperoleh dan mengubah data dari basis data sejumlah lembaga pendidikan, termasuk Kopertis Wilayah V DIY. ”Sabtu (22/8), jaringan situs data kami dibajak hacker,” ujarnya.

Salah satu korban adalah Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta. Kasus mencuat saat salah satu calon taruna Akademi Kepolisian dicurigai menggunakan ijazah palsu dari PTS tersebut pekan lalu. Sebelumnya, staf humas universitas tersebut, Nurita Kurniasih, menyatakan bahwa ijazah itu diketahui palsu setelah nama anak tersebut tidak ditemukan dalam data lulusan universitas. ”Nomornya ada, tetapi namanya tidak ada. Kertas yang digunakan berbeda dari kertas yang biasa kami gunakan,” ujar Nurita Kurniasih. (IRE)
Senin, 24 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar