Target pembiayaan defisit APBN-P 2007 sebesar Rp58,2 triliun melalui emisi surat utang negara terancam tidak terpenuhi akibat pasar belum pulih, ditandai tingginya imbal hasil yang diminta investor pada lelang SUN FR0046 dan FR0047 di Jakarta, kemarin.
Pada seri FR0046 (reopening) bertenor 15 tahun, investor memasukkan penawaran Rp2,065 triliun dengan imbal hasil 10,41%-11,50%. Pada FR0047 bertenor 20 tahun masuk penawaran Rp2,27 triliun dengan imbal hasil 10,28%-10,94% (pembulatan).
Atas penawaran itu, pemerintah hanya meme-nangkan Rp1,01 triliun SUN FR0046 dengan imbal hasil 10,61% dan tingkat kupon 9,50%. Untuk FR0047, pemerintah batal melepasnya karena imbal hasil yang ditawarkan terlalu tinggi, jauh di atas benchmark pemerintah.
Proyeksi pembiayaan anggaran per akhir 2007 (Rp triliun)*
Pembiayaan gross anggaran 62,4
Pembiayaan utang 45,4
Penerbitan surat berharga negara 103,0
Utang luar negeri 42,4
Pembiayaan nonutang 17,0
Rekening pemerintah 4,3
Dana eks moratorium NAD-Nias 6,3
Privatisasi BUMN 4,7
Penjualan aset PT PPA 1,7
Sumber: Nota keuangan RAPBN 2008
Ket: *) Sudah menghitung perkiraan realisasi pembiayaan anggaran per Smt I/2007
dan tambahan pembiayaan akibat kenaikan defisit dan perubahan target sumber pembiayaan lain.
?Market-nya sedang berdangdut ria, penuh ketidakpastian. Investor belum berani transaksi dalam jumlah yang cukup besar,? kata Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto seusai lelang tersebut.
Dia menjelaskan benchmark pemerintah dibuat berdasar situasi riil pasar dengan melihat outlook-nya. Bila dengan yield tinggi itu pemerintah melepas FR0047, harganya otomatis jatuh dan mengoreksi harga SUN bertenor sama yang diperjualbelikan di pasar sekunder.
?Jadi [dengan tidak menjual FR0047], pemerintah menjaga stabilitas harga pasar juga. Meski kami butuh Rp3 triliun, kami tidak asal ambil. Kami tetap realistis dengan melihat apa yield-nya ini sesuai benchmark atau tidak.?
Belum pulihnya situasi pasar itu juga ditandai makin turunnya kepemilikan asing terhadap SUN. Dari posisi Mei 2007 sebesar Rp83 triliun, Juni turun jadi Rp81,7 triliun, Juli Rp78,4 triliun, dan per 21 Agustus 2007 turun lagi jadi Rp74,3 triliun.
Tapi, Rahmat berpandangan, asing penjual obligasi umumnya hedge fund, dan obligasi yang dijualnya sudha diserap institusi lokal seperti bank, dana pensiun, asuransi, dan reksa dana di pasar sekunder. Karena itu, situasi tersebut justru memberi sinyal baik bagi pasar SUN.
Sehari sebelum lelang dua seri SUN tersebut, Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengaku masih optimistis pasar mampu menyerap sisa obligasi negara yang akan ditawarkan sampai akhir tahun nanti hingga target pembiayaan defisit APBN-P 2007 terpenuhi. (lihat tabel)
Menkeu menegaskan pemerintah belum berpikir untuk menyiapkan skenario terburuk dengan mengorbankan satu komponen belanja tertentu guna mengantisipasi kelesuan pasar obligasi negara yang bakal mengakibatkan target pembiayaan defisit tidak terpenuhi.
"Sampai hari ini belum ada revisi. Pemerintah harus bisa danai defisit 1,5%. Tapi apa itu berarti pemerintah tidak prepare, saya tegaskan, kita sangat prepare. Kita lihat pasar. Kalau ada perubahan profil risiko, biaya bunga, spread dan seterusnya, kita buka instrumen lain."
Rahmat menekankan secara keseluruhan harga SUN pada pekan ini sudah lebih baik ketimbang dua pekan sebelumnya. (bastanul.siregar@ bisnis.co.id)
URL Source: http://www.bisnis.com/servlet/page?_pageid=127&_dad=portal30&_schema=PORTAL
Oleh: Bastanul Siregar, Bisnis Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar