
Warga melihat rumah M Djahri di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu (9/8). Rumah JARINGAN TERORISME; yang sempat diduga sebagai tempat persembunyian Noordin M Top itu, pascapenyerangan oleh pasukan antiteror Polri, kini sekelilingnya ditutup dengan seng.
Senin, 24 Agustus 2009 | 03:19 WIB
Penangkapan anggota jaringan teroris, Ibrohim, di rumah M Djahri (61) di Dusun Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, mengentak banyak pihak. Tidak saja karena besarnya kekuatan yang diturunkan polisi untuk penangkapan itu, tetapi juga menyembulkan kesan begitu mudahnya jaringan teroris bersembunyi dan menyusup di pedesaan di Temanggung.
Penangkapan Ibrohim, semula sempat diduga Noordin M Top, hanyalah satu dari sekian pengejaran anggota jaringan teroris di daerah ini. Sebelum Ibrohim ditembak mati, serta Djahri, Aris Susanto, dan Indra Arif Hermawan ditangkap, sejumlah nama asal Temanggung lebih dulu ditangkap dan dikejar, antara lain Nur Said, Tataq, dan Syaiful Anam.
KH Chaidar Muhaiminan, ulama di Temanggung, menuturkan, tumbuhnya radikalisme agama di kabupaten itu dalam beberapa waktu terakhir bersifat kompleks dan saling tumpang tindih. Dari sejumlah persoalan, mengerucut pada tiga hal utama, yakni keputusasaan generasi muda, minimnya pemahaman agama dan iman, serta kurangnya pengawasan. ”Keputusasaan ini menyangkut persoalan yang pelik dari segi ekonomi dan sosial,” ujar dia.
Sejak akhir tahun 1990 dan awal 2000, masyarakat pedesaan di Temanggung mengalami goncangan ekonomi seiring jatuhnya harga komoditas tembakau yang semula menjadi penyangga kesejahteraan warga. Tembakau asal Temanggung ternama karena rasanya yang khas. Pada masa jayanya, banyak petani di desa hidup makmur karena komoditas ini.
Jatuhnya harga tembakau membuat sebagian warga desa tak lagi dapat menikmati kesejahteraan seperti dulu. Generasi muda pun memilih pergi ke luar daerah untuk mendapatkan penghidupan dan masa depan lebih baik.
Namun, tidak semua generasi muda sukses. Pada saat yang sama, pengaruh global masuk ke desa, termasuk narkoba. Banyak anak muda yang kemudian terjerumus dalam keputusasaan.
Pada saat bersamaan, sejak akhir 1990, tumbuh komunitas Islam radikal di Temanggung. Sedikit demi sedikit mereka mampu masuk dalam komunitas lebih luas. ”Kelompok radikal ini umumnya mengaku Assyalafi, tetapi berbeda dengan dengan salafiyah Nahdliyin. Mereka membentuk kelompok pengajian kecil di berbagai tempat dan mulai menarik perhatian masyarakat,” ujar Chaidar.
Banyak kaum muda yang masuk dalam kelompok radikal ini. Nuansa keagamaan baru menjadi pelipur lara atas keputusasaan sosial dan ekonomi yang berkembang. Sayangnya, pemahaman agama kelompok seperti ini, kata Chaidar, dangkal. Mereka mengajarkan prinsip dalam Al Quran dan hadis secara tekstual. Akibatnya, banyak pemikiran yang tak sesuai pemahaman Islam sesuai konteks zaman, salah satunya tentang jihad.
Padahal, jihad dalam konteks perang seperti yang dipahami kelompok teroris tak mungkin diterapkan di Indonesia saat ini yang berbentuk sebagai Darussalam atau negara yang damai. Jihad perang hanya berlaku di negara yang berkonflik. ”Itu tepat saat kita melawan penjajah dulu,” ujar dia.
Celakanya, pandangan radikal itu menarik orang muda yang sedang membentuk jati diri keagamaannya. Keputusasaan sosial dan ekonomi membuat mereka kian terdorong untuk mendobrak kemapanan melalui dalil agama.
”Kondisi inilah yang dimanfaatkan Noordin untuk melakukan indoktrinasi,” ujar pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Bambu Runcing, Kecamatan Parakan, Ahmad Roziq.
Potensi tumbuhnya ekstremisme ini diperkuat dengan karakter masyarakat Temanggung yang cenderung permisif. Sikap ramah dan terbuka warga setempat membuat mereka tak curiga dengan aktivitas komunitas tertentu. Ketertutupan, eksklusivitas, dan penampilan kelompok radikal hanya menimbulkan tanya di benak, tetapi tak sampai membuncah menjadi syak wasangka.
Selain itu, generasi muda setempat yang merantau ada yang pulang membawa pemahaman keagamaan baru. Pemahaman baru ini berkembang di daerahnya. Nur Sahid, Syaiful, Tataq, dan Aris adalah contohnya.
Kepala Desa Katekan M Tohir mengatakan, umumnya warga Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, yang diduga terlibat terorisme, biasanya sudah lama tinggal di luar kota sehingga mendapat pengaruh buruk dari daerah itu. ”Sebab, dari pengamatan dan pengawasan yang kami lakukan, di Desa Katekan sama sekali tidak terlihat kelompok yang terlihat aneh atau eksklusif,” ujarnya.
Di Desa Katekan terdapat Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang setiap minggu rutin menggelar selapanan atau pertemuan warga. Selain itu, kegiatan lain juga banyak diselenggarakan organisasi lain yang menginduk pada dua organisasi kemasyarakatan itu, seperti Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Aisyiyah.
Desa Katekan berpenduduk 1.476 keluarga atau 5.248 jiwa. Dari jumlah itu, 1.720 jiwa berasal dari kelompok usia produktif, 15-50 tahun. Saat ini, 200 orang dari kelompok umur itu merantau ke kota lain, baik luar maupun dalam Pulau Jawa, untuk mencoba pekerjaan lain.
Pengawasan menjadi persoalan yang tak dapat diremehkan. Peristiwa penangkapan Aris, Indra, Djahri, dan penembakan Ibrohim diakui Bupati Temanggung Hasyim Affandi sebagai kecolongan akibat kurangnya pengawasan terhadap warga pendatang dan aktivitasnya. Mereka memanfaatkan masyarakat Temanggung yang ramah.
”Ke depan pengawasan akan kami tingkatkan. Tamu harus melapor pada perangkat desa. Operasi yustisi akan kami gelar,” ujar Hasyim.
Bagi Hasyim, merebaknya ekstremisme di Temanggung hanya kebetulan. Hal itu bisa terjadi di mana saja. Namun, penangkapan besar-besaran membuat citra Temanggung seakan-akan sebagai sarang teroris. ”Kalau dikatakan potensi sebenarnya di mana pun sama saja. Di Temanggung ada sekitar 50 ponpes dan hampir semuanya adalah salaf. Jadi, bukan karena ponpes tertentu,” papar dia.
Ahsanuddin Bakhrun, pengasuh Ponpes Modern Assalam Temanggung, mengungkapkan, tak ada ponpes yang mengajarkan santrinya berjihad dengan memakai bom. Bila ada alumni ponpes yang menjadi tersangka terorisme, hal itu karena pengaruh di luar ponpes. ”Santri ponpes umumnya masih muda. Mereka masih dalam tahap memilah-milah jalur keislaman mereka. Saat pembentukan jati diri itulah jaringan terorisme memanfaatkannya,” ujar dia.
Kendati demikian, Kepala Desa Kedu Purnomo Hadi mengaku tidak terlalu risau label desa teroris akan melekat pada desanya. ”Desa Kedu bukan sarang teroris. Tiga warga yang ditangkap, yaitu Djahri, Aris, dan Indra, juga tidak bisa dinyatakan sebagai teroris karena belum terbukti bersalah di pengadilan,” ujarnya. Djahri (69) adalah warga yang rumahnya menjadi lokasi penggerebekan dan penembakan Ibrohim. Bahkan, Djahri dilepaskan Polri karena terbukti tak terlibat terorisme.
Namun, penangkapan teroris ini, kata Purnomo, setidaknya memberikan makna penting bagi segenap warga desa untuk selalu waspada, terutama pada warga asing. (han/egi/den)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar