10 September 2009

GEO POLITIK; Di Bawah Netanyahu, Hubungan Israel-UE Buruk

Kamis, 10 September 2009 | 03:28 WIB

Jerusalem, Rabu - Hubungan Israel dengan negara-negara anggota Uni Eropa cenderung semakin tegang saat Israel berada di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Ketegangan diplomatik dengan Swedia, keputusan Norwegia menarik investasi dari kontraktor pertahanan Israel, dan meningkatnya kecaman warga Eropa atas permukiman Israel di Tepi Barat membuat hubungan negara Yahudi itu dengan Eropa mencapai titik terburuk.

”Permusuhan telah mencapai tingkat ekstrem yang tidak pernah kita lihat sebelumnya. Ini bukanlah iklim ideal yang diinginkan Israel dan mitra-mitra dagang terbesarnya di Uni Eropa (UE),” kata analis Israel, Jonathan Spyer, Rabu (9/9).

Serangan Israel di Jalur Gaza pada Desember 2008 serta naiknya pemerintahan sayap kanan di Israel membuat semakin gencarnya kritik terhadap Israel di daratan Eropa. Padahal, UE adalah mitra dagang terbesar Israel. Sepertiga impor dan ekspor negara Yahudi itu berasal dari UE.

Permintaan Israel untuk peningkatan hubungan dagang dengan UE pun terkatung-katung. Seruan untuk memboikot Israel dan mencabut investasi dari perusahaan-perusahaan Israel semakin menguat. Puluhan ribu rakyat Eropa pun turun ke jalan- jalan dalam beberapa bulan terakhir untuk memprotes tindakan-tindakan Israel terhadap Palestina, khususnya di Gaza.

Bukan krisis

Pejabat Kementerian Luar Negeri Israel Itzhak Levanon, mantan duta besar di PBB Geneva, mengatakan tidak ada krisis dalam hubungan Israel-Eropa. ”Ada sejumlah suara datang dari sana maupun dari sini, tetapi saya tidak berani mengatakan ada semacam permusuhan politik terhadap Israel,” ujarnya.

Meskipun demikian, ketidaksenangan terhadap Israel memang nyata adanya. Inggris belum lama ini menarik kembali beberapa izin yang diberikan kepada perusahaan Inggris untuk menjual komponen-komponen senjata kepada Israel karena kekhawatiran digunakan menyerang Gaza.

Norwegia pun memutuskan menjual saham-sahamnya (divestasi) di Elbit System Ltd, perusahaan Israel yang menyediakan perlengkapan pengintaian untuk tembok pemisah antara Israel dan Tepi Barat.

Jan Egeland, yang membantu perundingan hingga tercapainya kesepakatan damai Oslo, mengatakan, aksi divestasi dan kritik terhadap Israel itu akan terus berkembang. ”Israel telah berubah dari underdog jadi adidaya militer lokal saat ini dan menguasai tetangganya yang lemah,” ujarnya. (AP/Reuters/OKI)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar