10 September 2009

Remaja, Kultisme, dan Bom Bunuh Diri

Kita tersentak saat mengetahui pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Jakarta, bulan Juli lalu adalah remaja yang dalam kesehariannya bukan tergolong kelompok sangar. Mereka justru sering dikenal sebagai remaja yang baik dan khusyuk.

Belum reda kekagetan itu, akhir Agustus lalu (27/8/2009) bumi kembali berguncang, kali ini di Pakistan. Seorang remaja baru gede yang lugu meledakkan diri bersama kelompok militer Pakistan yang sedang menunggu beduk magrib. Bom bunuh diri.

Terorisme dan remaja

Jejak remaja memang mencari identitas diri. Untuk itu, mereka membutuhkan sarana ekspresi diri dan penerimaan dari lingkungan. Selanjutnya, mereka meretas jalan yang lebih realistis. Namun, tidak sedikit remaja yang kebingungan menemukan cara. Mereka nihil pengakuan positif.

Akhirnya mereka mudah terjerembab dalam kubangan kenakalan remaja dan obat-obatan. Namun, harus dipahami, kubangan ekstrem yang lain sedang menanti, ideologi hitam-putih. Hal-hal heroik dan kesetiaan yang absolut pada suatu ajaran atau orang (kultisme).

Remaja yang tak mampu menunjukkan potensinya, atau teralienasi dari komunitasnya, berada dalam risiko besar untuk menyimpang dari jejak normal. Para penjaja narkoba atau pencari bakat pencoleng siap merangkul mereka.

Namun, dalam jubah yang lebih mengesankan, pembawa ideologi-ideologi ekstrem juga mengintai mereka. Satanisme atau cultism, heavy metal music, fantasy games, merasuk membius remaja. Karena itu, teroris pun begitu mudah bertamu sebagai serigala berbulu domba.

Di tengah lingkungan yang tak memungkinkan remaja bebas berekspresi dan sepi dari pemandu yang patut diteladani, ditambah dunia pendidikan yang tak memberi ruang untuk merenung bahwa kesuksesan hidup tak sekadar bisa diraih dari bangku sekolah, remaja terus bertanya.

Ideologi dan kultisme

Di lain pihak, ada remaja-remaja yang sengaja terpinggirkan, baik karena kemiskinan, keterbelakangan, maupun terasing lantaran trauma sejarah. Pernahkah terpikirkan bagaimana jejak kehidupan anak-anak para teroris seperti trio Amrozi pada masa mendatang? Adakah mereka kelak mendapat pencerahan, atau justru meretas dendam sejarah?

Proses identifikasi terus bergulir, kecuali ada upaya-upaya positif. Juga, masih ingatkah kepada anak-cucu bekas pengikut Partai Komunis Indonesia atau Darul Islam, dan sebagainya? Mungkinkah mereka masih menggendong ”luka lama” dan mengendapkan ideologi orangtuanya diam-diam? Tak ada yang peduli. Ideologi tak akan mati.

Tidakkah pembentukan citra-diri anak-anak itu telah tercederai, bahkan dalam upayanya mendapatkan hak-hak kehidupan normal? Ditambah, beberapa remaja lain yang juga karena suatu alasan tumbuh dengan perasaan kosong, teralienasi, dan merasa tidak dicintai.

Pengembaraan identitas diri mereka bisa kesasar. Apalagi sifat remaja memang labil. Mereka rentan mengidap depresi, sekaligus segmen yang paling banyak melakukan bunuh diri. Saat ini, bunuh diri sudah menjadi penyebab kematian kedua pada remaja di seluruh dunia.

Pelaku bunuh diri?

Mungkinkah kelompok remaja itu berpotensi menjadi pelaku bom bunuh diri?

Curran (1989) menggambarkan sebagai ”sebuah lubang di tanah, di mana para remaja bisa terperosok ke dalamnya ketika mereka sedang mengembara dalam keputusasaannya, di tengah rasa marah dan kesendiriannya...”. Lubang jebakan itu adalah ajaran-ajaran yang menawarkan kekerasan, kebencian, dan balas dendam atas nama ideologi atau agama.

Mereka juga diintimidasi atas nama dosa dan rasa bersalah. Pemompa ajaran seperti ini sangat dipuja (cult) pengikutnya. Identitas diri remaja yang nihil mampu tergantikan oleh identitas kelompok dengan kesetiaan absolut pada ajaran. Pertanyaannya, mengapa lubang itu ada di situ dan mengapa para remaja ini berkelana sendirian berlangit kegelapan?

Mereka memang rentan direkrut menjadi pelaku bom bunuh diri. Celakanya, tidak seperti pola kamikaze bombers yang terjadi di Jepang saat Perang Dunia II di mana pengorbanan dan kesetiaan mereka kepada Kaisar tak menawarkan imbalan pribadi.

Sementara ”calon-calon pengantin” yang menjadi suicide bombers seperti diberitakan di Indonesia dan Pakistan bersentuhan dengan sistem nilai yang percaya bahwa melakukan tindakan nekat itu dianggap ibadah besar dan kelak akan dibalas dengan pahala berlimpah di akhirat (Haddad, 2004). Ada sebuah ganjaran personal yang menjanjikan. Persepsi yang kurang proporsional.

Menu ketidakpastian

Remaja dan pencarian jati dirinya seakan tanpa suara. Padahal, sesaat lagi merekalah yang menggenggam estafet kepemimpinan. Janganlah mereka banyak disuguhi menu ketidakpastian atau miskin harapan, bahkan sengaja dibiarkan mati sia-sia. Mengapa mereka tidak dipeluk kembali, diguyur rasa aman?

Senyawa dengan birunya nyala lilin di jendela seluruh dunia, tepat pukul delapan malam, hari Kamis ini, 10 September 2009, di markas besar PBB di New York diluncurkan sebuah semangat memerangi keputusasaan, yaitu ”Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia”. Upaya menyingkap kabut tebal yang mengambang di remang zaman.

Nalini Muhdi Psikiater, Pengajar di RSU Dr Sutomo-FK Unair; Pengurus PDSKJI Pusat


Kamis, 10 September 2009 | 05:13 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar