Seiring dengan makin kuatnya polemik antara pejabat Israel dan Palestina soal pembangunan permukiman Yahudi terakhir ini, tiba-tiba harian terkemuka Israel, ”Haaretz”, Selasa (1/9), mengklaim telah mendapatkan bocoran informasi tentang garis besar rencana perdamaian Amerika Serikat di Timur Tengah. Musthafa Abd Rahman
Diungkapkan, rencana damai AS itu terdiri dari tiga butir. Pertama, perundingan damai berdasarkan peta perdamaian (road map) tahun 2003. Kedua, tenggat perundingan damai selama dua tahun terhitung mulai akhir September 2009. Ketiga, AS akan ikut serta aktif dalam proses perundingan damai itu dan bahkan ikut duduk dalam satu meja dengan tim perunding Israel dan Palestina.
Sejumlah pejabat Israel, di antaranya Presiden Israel Shimon Peres, Senin lalu juga mengungkapkan bahwa sedang dirancang secara serius digelarnya pertemuan puncak segitiga antara Presiden AS Barack Obama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dan Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas di sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 23 September mendatang.
Dikatakan pula, dalam forum pertemuan segitiga itu, Presiden Obama akan mengumumkan secara resmi dimulainya lagi perundingan damai Israel-Palestina itu.
Ketua Komisi Luar Negeri Uni Eropa Javier Solana, yang kini sedang mengadakan lawatan ke Timur Tengah, dalam temu pers dengan PM Palestina Salam Fayyad, Senin lalu, membenarkan bahwa ada program untuk memulai lagi proses perdamaian Timur Tengah bersamaan dengan pembukaan Sidang Majelis Umum PBB di New York akhir September ini.
Solana mengakui, Israel dan AS hingga saat ini belum mencapai kesepakatan soal pembekuan pembangunan permukiman Yahudi, tetapi kesepakatan itu mungkin bisa dicapai di sela Sidang Majelis Umum PBB.
Tren pejabat dan media massa Israel saat ini kembali melakukan manuver tentang isu perdamaian itu, tampaknya mereka kini sedang memainkan kartu ”berlomba dengan waktu” (mengejar waktu Sidang Majelis Umum PBB akhir September ini) untuk menekan Palestina agar bersedia memberikan konsesi soal pembangunan permukiman Yahudi.
Dengan kata lain, Israel ingin menyampaikan kepada Palestina bahwa AS dan masyarakat internasional menghendaki forum Sidang Majelis Umum PBB itu, yang tinggal dua pekan lagi, sebagai titik tolak dimulainya perundingan damai Israel-Palestina yang macet total sejak Desember tahun lalu.
Karena itu, tidak ada waktu lagi untuk berpolemik terus soal isu permukiman Yahudi. Yakni, terima saja apa pun kesepakatan yang dicapai AS dan Israel menyangkut isu permukiman Yahudi itu.
Dalam upaya terus menekan Arab dan Palestina, harian Haaretz menyampaikan pula semacam jalan kompromi yang bisa dicapai untuk dapat memulai lagi perundingan damai.
Jalan kompromi itu adalah Israel mengumumkan membekukan pembangunan permukiman Yahudi selama 9 hingga 12 bulan.
Adapun negara-negara Arab melakukan pula langkah normalisasi terbatas, seperti kantor dagang Israel diizinkan kembali dibuka di Qatar, Maroko, dan Tunisia, serta sejumlah negara Arab bersedia memberikan visa turis kepada turis atau pengusaha Israel untuk berkunjung ke negara-negara Arab tersebut.
Harian Haaretz juga memberitakan, Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah George Mitchell akan mengumumkan sebuah kesepakatan ”membangun rasa saling percaya” yang disetujui Israel dan Palestina hingga memungkinkan proses perdamaian itu dimulai.
Selain itu juga untuk terus mencari dukungan internasional tentang sikapnya menyangkut proses perdamaian mendatang, Israel melakukan lobi internasional. Menteri Luar Negeri Israel Avigdor Lieberman, misalnya, kini sedang melakukan lawatan ke Afrika untuk menjelaskan sikap Israel tentang isu perdamaian. Pekan lalu, PM Israel Benjamin Netanyahu juga melakukan kunjungan ke Inggris dan Jerman dengan misi yang sama.
Diberitakan pula, utusan khusus PM Netanyahu untuk perundingan Israel-Palestina, Yizthak Molcho, dan pejabat teras Kementerian Pertahanan Israel, Mike Herzog, telah berangkat menuju Washington pada Senin lalu untuk melakukan pembicaraan dengan George Mitchell.
Molcho dan Herzog diberitakan telah berhasil melakukan pembicaraan yang produktif dengan Mitchell dalam upaya mencapai kesepakatan tentang syarat-syarat yang memungkinkan proses perdamaian dimulai lagi.
Sikap Palestina
Pihak Palestina tentu membaca manuver Israel itu. Presiden Palestina Mahmoud Abbas menanggapi manuver Israel itu dengan melakukan lawatan pula ke sejumlah negara Arab dan Eropa.
Presiden Mahmoud Abbas kepada televisi Aljazeera menegaskan, jika tidak ada pembekukan pembangunan permukiman Yahudi, maka tidak akan ada pertemuan dengan PM Netanyahu.
Pejabat senior faksi Fatah, Nabil Shaath, juga menyatakan, hanya pembekuan secara total pembangunan permukiman Yahudi dan kesediaan Israel menerima berdirinya negara Palestina yang berdaulat adalah syarat yang memungkinkan perundingan damai bisa segera dimulai lagi.
Perunding senior PLO, Saeb Erekat, dalam wawancara dengan harian Al Hayat menyatakan pula, Palestina tetap berpegang teguh bahwa perundingan damai dengan Israel hanya bisa dimulai jika Israel membekukan semua jenis pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Jerusalem Timur.
Sikap Palestina itu didukung Mesir dan Liga Arab. Presiden Mesir Hosni Mubarak dan Sekretaris Jenderal Liga Arab Amr Mousa ketika menerima Javier Solana di Kairo, Rabu lalu, menyatakan, sikap dunia Arab adalah Israel harus membekukan semua jenis pembangunan permukiman Yahudi bila ingin perundingan damai segera dimulai.
Di tengah manuver Israel dan sikap bertahan Palestina itu, kini menunggu lawatan baru George Mitchell ke Timur Tengah pada pertengahan September nanti untuk mendapatkan kejelasan bagaimana format finalnya tentang syarat-syarat yang memungkinkan proses perdamaian dimulai kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar