Selasa, 20 Oktober 2009 | 04:03 WIB
Jakarta, Kompas - Pengelola dana pekerja, PT Jamsostek (Persero), tengah membentuk perusahaan investasi yang bermitra dengan Islamic Corporate Development (ICD), anak perusahaan Bank Pembangunan Islam.
Jamsostek Investment Company (JIC) yang dijadwalkan beroperasi kuartal I-2010 akan fokus berinvestasi di bisnis yang mampu menciptakan lapangan kerja.
Demikian diungkapkan Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga, Senin (19/10) di Jakarta. Jamsostek menyetor Rp 500 miliar untuk menguasai 51 persen saham JIC dan ICD akan menyetor sekitar Rp 500 miliar dengan penguasaan 49 persen.
Jamsostek adalah penyelenggara jaminan sosial pekerja berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992. Saat ini, ada 8,2 juta peserta yang aktif membayar iuran dari 26,3 juta peserta.
Modal JIC diambil dari anggaran investasi Jamsostek untuk penyertaan modal yang bernilai Rp 700 miliar. Manajemen baru memakai dana itu Rp 36,8 miliar untuk penyertaan modal di Bank Syariah Bukopin.
”JIC akan berkonsentrasi pada penyertaan modal sektor-sektor riil, seperti infrastruktur, yang padat karya. Kami juga ingin merebut dana Timur Tengah yang selama ini banyak mengalir ke Malaysia supaya masuk langsung ke Indonesia,” kata Hotbonar.
Dewan Komisaris Jamsostek sudah setuju dan Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil secara lisan juga sudah menyetujui pembentukan JIC. Saat beroperasi, JIC akan menerima banyak proposal dari sejumlah investor yang membutuhkan penyertaan modal. JIC akan mengevaluasi kelayakan bisnis berdasarkan efek domino terhadap penyerapan tenaga kerja dan penyejahteraan rakyat.
JIC merupakan bagian dari upaya manajemen meningkatkan imbal hasil investasi dana peserta. Sampai 30 September 2009, dana investasi Jamsostek sudah mencapai Rp 77 triliun (106 persen dari target 2009).
Hasil investasi pun sudah mencapai Rp 6,5 triliun (103 persen dari target Rp 6,2 triliun). Manajemen kini juga sedang mengalihkan komposisi dana investasi dari obligasi ke deposito.
Obligasi yang selama ini mencapai 50 persen kini turun jadi 45 persen dengan dana investasi Rp 34,6 triliun. Adapun deposito naik dari 30 persen menjadi 34 persen dengan nilai investasi Rp 26,3 triliun dan investasi di saham kini Rp 12,5 triliun.
Menurut Hotbonar, manajemen meningkatkan investasi di deposito untuk persiapan membeli obligasi yang akan diterbitkan Pupuk Kaltim dan BTN.
Kebijakan nasional
Saat dikonfirmasi, pengamat ekonomi Yanuar Rizky mendukung ide itu. Namun, Yanuar, yang juga Presiden Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), meminta, pembentukan perusahaan investasi, seperti China Investment Corporation di China, Temasek di Singapura, atau Khazanah di Malaysia, menjadi kebijakan nasional.
”Untuk membentuk semacam sovereign wealth fund harus mempertimbangkan manajemen risiko dari sisi harga dan antisipasi pengangguran. Saya mendukung JIC, tetapi tidak cukup aksi korporasi Jamsostek saja. Harus ada keterlibatan pemerintah di sini,” ujarnya. (ham)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar