Maskapai Tunggu Harga Avtur
Selasa, 20 Oktober 2009 | 04:07 WIB
Jakarta, Kompas - Meskipun harga minyak dunia terus melonjak, maskapai penerbangan domestik belum memutuskan untuk menaikkan biaya tambahan bahan bakar. Maskapai masih menunggu revisi harga avtur dari Pertamina yang dikeluarkan tiap dua minggu sekali.
Hari Senin (19/10), harga minyak mentah di New York menyentuh 79 dollar Amerika Serikat per barrel, yang menjadikannya sebagai harga tertinggi tahun ini.
Padahal, pada 9 Oktober, harga minyak mentah di New York masih 70,40 dollar AS per barrel dan minyak jenis brent 68,02 dollar AS per barrel.
Pada 9 Oktober 2010 itu, The International Air Transport Association (IATA) telah melaporkan, harga bahan bakar jet seharga 78,3 dollar AS per barrel, naik 3,3 persen dibanding seminggu sebelumnya, dan naik 1,8 persen dibanding sebulan sebelumnya. Kini, harga bahan bakar jet dapat 85 dollar AS per barrel.
Direktur Umum Lion Air Edward Sirait dan Manajer Komunikasi Sriwijaya Air Hanna Simatupang, yang dihubungi terpisah, mengatakan, belum ada kebijakan untuk menaikkan harga avtur karena menunggu revisi harga dari Pertamina.
Sekalipun harga avtur melonjak, belum tentu harga tiket pesawat juga naik sebab dipengaruhi pula oleh tingkat keterisian pesawat.
Oktober ini memang bukanlah bulan yang tingkat keterisian pesawat tinggi, sebagaimana terjadi pada Juni-Agustus, Desember-Januari, atau saat liburan Lebaran. ”Sebenarnya, sangat jarang bagi maskapai untuk menjual tiket senilai tarif batas atas ditambah biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge). Paling-paling, bila Lebaran saja. Hal ini harus dipahami konsumen. Sebab, konsumen pada hari-hari biasa sebenarnya membayar tiket sangat murah sebagai dampak kompetisi di dunia penerbangan,” ujar Edward.
Jangan naik drastis
Direktur Angkutan Udara Departemen Perhubungan Tri Sunoko mengharapkan harga minyak mentah dunia tidak naik terlalu drastis karena dapat memengaruhi industri penerbangan yang biaya bahan bakarnya 40-50 persen dari biaya operasi.
”Meskipun harga minyak terus naik, pemerintah juga tak dapat menentukan tarif terlalu tinggi. Daya beli masyarakat harus dipertimbangkan. Tapi, kami juga akan menjaga kelangsungan dunia usaha,” ujar Tri Sunoko.
Edward Sirait menambahkan, ”Menjelang akhir tahun, harga avtur biasanya melonjak tinggi, mengantisipasi musim dingin, belum lagi musim liburan.” (RYO)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar