15 Oktober 2009

Belajar di Negeri Singa

Oleh Anita Lie

Sudah lebih dari tiga dekade Singapura menjadi salah satu negara tujuan belajar favorit. Pada era 1970-an, anak-anak Indonesia dari kelompok yang beruntung dikirim untuk melanjutkan studi di Singapura.

Bahkan, keluarga-keluarga dari kelas menengah atas yang lebih memercayai mutu pendidikan di negeri Lee Kuan Yeuw ini tidak segan-segan mengirim dan berpisah dengan anak mereka yang masih berusia SD demi masa depan dan karier anak mereka. Anak-anak yang masih muda belia harus hidup mandiri, menempuh studi di tanah rantau.

Sebagian anak-anak ini hidup di asrama yang disediakan sekolah. Sebagian yang lain hidup di rumah kos yang dikelola secara khusus untuk menampung anak-anak Indonesia. Sedangkan anak-anak dari keluarga yang lebih kaya tinggal di apartemen bersama pembantu yang didatangkan dari Indonesia, khusus untuk mengurus anak-anak itu. Sementara itu, orangtua mereka sibuk bekerja mengisi pundi-pundi keluarga dan mengunjungi anak-anak di Singapura sekali atau dua kali sebulan.

Aktif mencari bibit unggul

Pada era 1970-an dan 1980-an, bepergian ke luar negeri masih dianggap sebagai suatu kemewahan, hanya anak-anak dari keluarga kelas menengah atas yang bisa menikmati pendidikan di Singapura.

Pada masa kini, fenomena sudah berubah. Perjalanan ke luar negeri sudah bukan lagi monopoli kalangan kelas ekonomi atas. Karena akses informasi sudah terbuka luas dan keterjangkauan biaya transportasi makin luas, melanjutkan studi di luar negeri merupakan pilihan yang makin dinikmati. Apalagi saat orangtua membandingkannya dengan berbagai pilihan di sekolah-sekolah baru yang menawarkan program semi-internasional dengan harga meroket.

Sudah ada lebih banyak anak dari keluarga kelas menengah yang melanjutkan studi di luar negeri, terutama di negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Australia. Apalagi pada beberapa tahun belakangan ini Pemerintah Singapura sangat aktif mencari bibit-bibit unggul di sekolah-sekolah ternama dan menawarkan beasiswa.

Setiap tahun, penawaran beasiswa dari Pemerintah Singapura untuk siswa SMP dan SMA diiklankan di koran-koran nasional dan internet. Bahkan, ada staf khusus yang tidak segan-segan menjemput bola dan mendatangi beberapa sekolah mitra untuk melakukan seleksi penerimaan siswa.

Terlepas dari implikasi dan dampak sistematis serta kemungkinan terjadinya brain-drain di negara kita, sulit mencegah masing-masing individu siswa cerdas berbakat dan keluarganya untuk tidak mengejar peluang emas yang ditawarkan Singapura saat Pemerintah Indonesia sendiri dan para pengelola sekolah tidak bisa memberikan kesempatan dan kondisi yang lebih baik.

Indonesia masih membutuhkan puluhan tahun untuk mengejar kemajuan dalam penyediaan pendidikan yang bermutu dan merata di seluruh negeri.

Berbagai kelebihan

Sebagai salah satu negara tujuan belajar, Singapura menawarkan beberapa kelebihan.

Pertama, jarak yang dekat merupakan daya tarik yang kuat. Hanya sekitar satu jam dari Jakarta, 1 jam 20 menit dari Surabaya, atau 30 menit dari Batam, merupakan penghiburan bagi orangtua yang masih mencemaskan perpisahan dengan buah hati mereka demi tujuan studi.

Terkait dengan kedekatan jarak ini adalah biaya perjalanan yang makin murah. Mengunjungi anak yang sedang studi di rantau tidak harus menunggu cuti tahunan atau cukupnya tabungan, tetapi bisa dilakukan setiap saat. Bahkan bagi beberapa keluarga, kunjungan ke Singapura seperti kegiatan rutin akhir pekan demi menyenangkan anak yang sedang kangen masakan bunda.

Kedua, kemiripan budaya dengan Indonesia membuat banyak orangtua merasa lebih tenteram dengan pilihan studi di Singapura. Memang pada saat ini Singapura sudah menjadi semakin multikultural dan megapolitan. Lingkungan pergaulan di Singapura sebenarnya sudah tidak lagi terbatas pada masyarakat China, Melayu, India, dan Eurasia seperti tertera pada sejarah mereka, tetapi juga dengan banyak orang yang berdatangan dari segala penjuru dunia.

Namun, persepsi terhadap negara ini sebagai masyarakat Asia merupakan penghiburan yang kedua bagi sebagian orangtua yang sering kali mengkhawatirkan dampak pergaulan bebas pada anak mereka.

Ada anggapan bahwa norma-norma dan nilai-nilai Asia bisa membentengi anak-anak mereka dari perubahan perilaku yang pada kemudian hari bisa mengakibatkan konflik dengan orangtua atau masyarakat asal anak. Tentunya anggapan ini bisa menyesatkan.

Seyogianya orangtua juga perlu siap terhadap segala kemungkinan dan menyiapkan anak mereka secara emosional, mental, dan spiritual sebelum anak bisa hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat yang baru dan berubah secara pesat.

Beberapa pilihan

Selain dua kelebihan itu, kelebihan lainnya adalah pilihan studi dan institusi di Singapura. Bagi calon mahasiswa yang tidak bisa diterima di National University of Singapore (NUS) atau Nanyang Technological University (NTU), dua universitas paling terkemuka yang sangat kompetitif, ada beberapa pilihan lain seperti Singapore Management University (SMU), Singapore Institute of Management (SIM), dan beberapa kolese seperti Raffles Design Institute.

Sementara itu, pada tingkat sekolah menengah, jika lulus tes seleksi, siswa lulusan SMP di Indonesia bisa masuk ke kelas 3 Secondary School. Setelah menyelesaikan kelas 4 Secondary School dan lulus ujian O’Level, siswa punya pilihan untuk melanjutkan ke politeknik atau junior college.

Politeknik menawarkan pendidikan keterampilan praktis untuk dunia kerja, sementara junior college dimaksudkan untuk persiapan yang lebih akademik sebelum masuk ke universitas.

Beberapa sekolah menengah favorit di kalangan anak-anak Indonesia di antaranya adalah CHIJ (Christ Holy Infant Jesus), Tanjong Katong Girls School, MGS (Methodist Girls’ School), RGS (Raffles Girls’ School) untuk putri dan SJI (St Joseph Institution) untuk putra.

Selain sekolah-sekolah favorit ini, ada pula sekolah-sekolah lain yang juga bagus karena Kementerian Pendidikan Singapura sangat ketat dalam regulasi dan memantau pemenuhan standar nasional pendidikan mereka.

Komitmen dan investasi Pemerintah Singapura dalam peningkatan mutu pendidikan mereka merupakan daya tarik lain bagi anak muda, terutama yang cerdas dan berbakat, untuk meraih dan menikmati fasilitas pendidikan kelas dunia.

Terus dipacu

Meski standar mutu di sekolah-sekolah di Singapura sudah tinggi, dorongan untuk mendunia terus dipacu. Persaingan antarsekolah di Singapura juga sangat ketat. Masing-masing sekolah berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik.

Relasi kerja sama dengan institusi pendidikan luar negeri dan pakar-pakar dunia senantiasa dipelihara dan merupakan upaya benchmarking untuk terus meningkatkan mutu dan wawasan internasional. Bahkan, pada tingkat sekolah menengah, program studi wisata di luar negeri merupakan kegiatan rutin tahunan yang bertujuan membawa anak didik pada pergaulan tingkat dunia dan menyiapkan mereka untuk menjadi warga kelas dunia.

Ancaman produktivitas

Di balik beberapa kelebihan itu, yang dirasakan sebagai kekurangan dalam sistem pendidikan di Singapura adalah atmosfer berpikir kritis dan kebebasan berekspresi. Sistem politik dan tatanan sosial di Singapura amat menghargai keteraturan dan produktivitas.

Pemikiran dan sikap oposisi bisa dianggap sebagai ancaman terhadap produktivitas dan kemajuan. Di beberapa sekolah memang tampak ada upaya sporadis untuk mengimbangi fokus pada keteraturan dan kepatuhan dengan pelajaran seni (sastra, lukis, musik, teater, pahat, dan instalasi) baik sebagai intra maupun ekstrakurikuler.

Keputusan atas pilihan program studi, institusi, dan negara tujuan merupakan bagian dari proses pertimbangan atas berbagai faktor kelebihan dan kekurangan yang dikaitkan dengan kondisi masing-masing siswa dan keluarganya. Setiap keputusan tentunya akan sangat menentukan perjalanan studi dan karier selanjutnya.

Anita Lie Konsultan Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar