Tanggal 1 Oktober yang baru saja berlalu merupakan hari bersejarah bagi bangsa China. Pada tanggal tersebut adalah hari ulang tahun ke-60 Republik Rakyat China.
Menurut penanggalan China, 60 tahun adalah satu putaran energi yang disebut juga sebagai Liu Shi Jia Zi, di mana energi pada tahun 1949, yaitu energi tanah, setelah berputar 60 tahun kembali menjadi energi tanah yang sama pada tahun 2009.
Beberapa pengamat membagi periode 60 tahun tersebut menjadi dua periode, yaitu periode 30 tahun pertama dan periode 30 tahun kedua. Periode 30 tahun pertama merupakan periode di mana China masih menjadi negara terbelakang (saat itu terkena embargo oleh Amerika dan sekutunya), sedangkan periode 30 tahun kedua setelah Deng Xiaoping menggantikan Mao Zedong (Mao wafat tahun 1976) merupakan periode di mana China mulai membuka diri (tahun 1978 pertama kali dibuka restoran Kentucky Fried Chicken di China).
Yang mencengangkan adalah dalam kurun waktu 30 tahun China telah membuktikan diri sebagai negara besar yang tidak hanya kuat dalam bidang ekonomi (cadangan devisa China 2,1 triliun dollar AS), tetapi juga kuat dalam bidang pertahanan.
Buatan anak bangsa
Keberhasilan China dalam kedua bidang tersebut dipamerkan dalam parade tanggal 1 Oktober kemarin, di mana China mempertunjukkan kehebatan armada perang, baik darat, udara, maupun laut, yang seluruhnya adalah hasil karya anak bangsa China sendiri, bukan senjata yang dibeli dari luar. Yang lebih mengagumkan, senjata-senjata tersebut adalah senjata yang tergolong canggih (misalnya pesawat tempur yang dikemudikan oleh prajurit wanita, armada peluru kendali pertahanan, perangkat komunikasi, dan tank-tank generasi baru).
Dalam bidang ekonomi, China telah membuktikan diri sebagai negara manufaktur yang mampu memproduksi segala jenis barang, yang tidak saja memiliki mutu yang baik (setiap tahun pada bulan Mei dan Oktober selalu ada ekspo barang produksi China yang berorientasi ekspor di Guangzhou, tahun depan juga akan dibuka Shanghai Expo), tetapi juga harga yang lebih bersaing.
Di bidang pertanian, China telah mampu mengubah dari kekurangan pangan menjadi surplus pangan (padi hibrid yang dikembangkan oleh Yuan Long Ping telah mengubah hal tersebut. Juga sayuran organik dikembangkan sendiri diikuti dengan riset dan produksi bahan penunjangnya). Selain itu, untuk meningkatkan kehidupan petani, Pemerintah China melakukan langkah-langkah terobosan, seperti meniadakan tuan tanah, membuat kontrak kerja dengan petani, dan meringankan pajak, sehingga petani dapat lebih bebas dan kreatif mengelola lahan pertaniannya sendiri. Hasilnya pendapatan petani meningkat dari 60 yuan pada tahun 1949 menjadi hampir 5.000 yuan pada tahun 2009.
Sedan Hong Qi
Dapat disaksikan saat parade di lapangan Tiananmen pada tanggal 1 Oktober pagi hari mulai pukul 10.00 (pukul 09.00 WIB), semua petinggi China, Presiden Hu Jintao, Jiang Zhi Min, Wen Jiabao, generasi penerus masa depan China, Li Keqiang dan Shi Jin Ping, menyaksikan parade dari balkon gerbang istana terlarang tanpa menggunakan penutup. Semua petinggi China berdiri sejak permulaan parade hingga parade berakhir, menyaksikan tanpa pelindung sinar matahari, seluruhnya terkena sinar matahari!
Yang lebih mencengangkan lagi saat Presiden Hu Jintao memeriksa semua pasukan yang akan berparade justru tidak menggunakan mobil sedan mewah, tetapi menggunakan mobil sedan yang sangat sederhana, yaitu mobil sedan buatan pertama China tahun 1956 bermerek Hong Qi. Begitu pula dengan kendaraan inspektur upacara menggunakan kendaraan yang sama.
Dari uraian singkat di atas dapat ditarik suatu pesan bahwa di balik keberhasilan, kekuatan, dan kemegahan China, pemimpin China justru menunjukkan kesederhanaan serta rasa nasionalisme yang sangat besar. Tidak hanya itu, bahkan semua penonton yang memadati lapangan merah menunjukkan wajah yang ceria, rasa bangga, walaupun terkena panas terik matahari. Dan yang lebih penting, peringatan 60 tahun tersebut menyiratkan kesederhanaan dalam kemegahan dengan slogan yang berbunyi Mei Tian Geng Hao, yang artinya Hari Esok Harus Lebih Baik.
Liem Boen Hong Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Maranatha, Bandung
Kompas, Kamis, 8 Oktober 2009 | 03:13 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar