14 Oktober 2009

Menjadi (Kembali) Pengkosmos

Seorang rahib Jaina berkisah, jika dirinya dibuang ke laut oleh penjahat, ia mengaku tidak akan berenang ke pantai dengan gaya mengentak dan keras sebagaimana perenang yang gagah berani. Ia akan hati-hati mengikuti gelombang seperti anjing berdiam diri lalu pelan- pelan dibawa gelombang ke pantai.

Bagi rahib itu, haram merusak dan melukai atom air. Para rahib Jaina mengendalikan diri agar tidak meremas atom dan menempatkannya sebagai bagian terkecil kosmos. Hakikatnya seluruh kosmos itu hidup dan terhadap benda hidup sebisa mungkin dihindari tindakan kekerasan. Jika ingin diterima penghuni kosmos, kata para rahib itu, perlu mempraktikkan ajaran ahimsa ( nirkekerasan).

Ahimsa menjadi pilar harmonisasi semesta. Di sinilah makhluk layak dikategorikan pengkosmos (penghuni kosmos) dan bertanggung jawab atas kosmosnya.

Lebih siaga

Pada dasarnya, kosmos bukan tumpukan barang atau benda yang kacau-balau, tetapi merupakan kenyataan pluriform yang teratur. Pada prinsipnya, kosmos merupakan ”rumah”, tempat manusia dapat merasa kerasan. Manusia tak kerasan jika mulai terjadi disharmoni kosmos. Bencana merupakan salah satu contoh disharmoni itu. Disharmoni akan terjadi jika pengkosmos menempatkan diri dalam pertentangan dengan lingkungannya.

Dalam bencana, manusia sebagai pengkosmos menghantam penghuni kosmos lain, yakni alam. Tentu saja alam yang dihantam tidak berdiam diri. Ia memberi reaksi yang menyengsarakan manusia. Di sini ada timbal balik. Manusia menyengsarakan alam karena eksploitasi, dibalas setimpal saat alam mengeksploitasi manusia.

Keangkuhan manusia (sebagai pengkosmos) menempatkan alam (pengkosmos lain) semata- mata benda yang bisa dieksploitasi semaunya. Padahal, filsuf Martin Heidegger mengingatkan, dunia diberi makna oleh manusia dan dunia itu bukan hanya kumpulan benda-benda, tetapi terdiri atas alat-alat. Dan alat itu bersifat ”untuk” menye - jahterakan manusia. Namun, alat itu bisa tidak berfungsi manakala terus digunakan tanpa mau merawatny a.

Sebagai pengkosmos, kita bertanggung jawab menjaga harmonisasi alam. Harmonisasi ini membuat kita peka terhadap ”tindak tanduk” pengkosmos lain. Kita bisa menafsir apa yang mau dikatakan tumbuhan, hewan, langit, air, dan pengkosmos lain. Kita juga jadi tahu, penyimpangan alam atau disharmoni kosmos dari tanda-tanda yang diberikan pengkosmos.

Setelah tahu penyimpangan dimaksud, tentu lebih mudah mengambil langkah seharusnya. Inilah yang dinamakan siaga. Para pakar, yang mengacu pada gempa beruntun, mengingatkan kita untuk siaga bencana (Kompas, 5/10). Dengan siaga, kita tak perlu terkejut atas ketibaan dan berujung semrawut saat mengatasi. Inilah yang terjadi di negeri ini. Bencana datang tiba-tiba dan penanganannya serba semrawut, bantuan tak merata, dan lainnya.

Tanda alam

Jika manusia menyadari dirinya hidup dalam sebuah kosmos —dalam pandangan kosmologis— manusia hidup dalam antarkomunikasi dengan semua pengkosmos lain sebagai jaringan penyebab timbal balik. Pengkosmos satu mengomunikasikan sesuatu kepada pengkosmos lain.

Salah satu bentuk komunikasi dimaksud adalah tanda. Sejauh ini tanda selalu berfungsi dalam komunikasi antara subyek manusiawi dan mitra lainnya. Tanda merupakan substansi pengantara yang harus diarahkan pada orang lain (Bakker, 1995:231- 232).

Paparan ini mau menyatakan, jika memahami kedudukannya sebagai pengkosmos, yang bersangkutan akan bisa membaca tanda-tanda alam. Tiap tanda alam membuat sesuatu dipikirkan dan diingat, bukan dibiarkan lewat begitu saja.

Misalnya, saat muncul lintang kemukus, pengkosmos akan memikirkan tanda itu. Ada apa di balik tanda itu? Mereka yang tidak menempatkan diri sebagai pengkosmos, membiarkannya lewat, menganggap sebagai gejala alam biasa.

Memang bukan hal mudah untuk kembali menjadi pengkosmos mengingat modernisasi telah merenggangkan hubungan manusia dan alam. Kini manusia tak lagi melihat matahari sebagai simbol waktu. Musim per musim dibiarkan lewat karena detak jam lebih menentukan. Kerenggangan itu membuat manusia tak mampu lagi membaca gejala-gejala alam. Indera keenamnya menjadi tumpul sehingga mengurangi kesiagaan.

TOTO SUPARTO Pengkaji Etika


Kompas, Rabu, 14 Oktober 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar