Pendukung Presiden tersingkir Honduras Manuel Zelaya mengangkat tangan merekayang bertuliskan tidak, dalam aksi unjuk rasa di Tegucigalpa, Selasa (17/11). Mereka tidak akan memilih dalam pemilu 29 November ini.
Status Manuel Zelaya Ditentukan Setelah Pemilu
Hari Selasa (17/11), Mahkamah Agung dan Kongres memutuskan, posisi Zelaya akan ditentukan pada 2 Desember atau tepat tiga hari setelah pemilu. Kongres akan menentukan apakah jabatan Zelaya sebagai presiden perlu dipulihkan kembali atau tidak.
Keputusan politik terbaru pemerintahan Presiden Roberto Micheletti itu sekaligus mengunci langkah Zelaya untuk ikut bertarung sebagai calon presiden dalam pemilu. Bulan lalu, diplomat senior AS, Craig Kelly, sebenarnya sudah memediasi Micheletti dan Zelaya. Saat itu mereka menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri krisis politik. Termasuk upaya pemulihan kembali jabatan Zelaya sebagai presiden konstitusional hingga akhir masa jabatannya pada Januari 2010.
Menurut Ketua Kongres Honduras Jose Alfredo Saavedra, pihaknya sudah memutuskan untuk tidak melakukan pemulihan status Zelaya sebelum pemilu. ”Kami sudah memutuskan untuk mengadakan sesi (yang berkaitan dengan status Zelaya) itu pada 2 Desember,” ungkap Saavedra.
Sikap Honduras itu menyurutkan dukungan internasional terhadap pemilu. Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) memperingatkan Honduras bahwa mereka takkan mengakui pemilu jika tidak didahului pemulihan Zelaya sebagai presiden. Pemilu juga tidak sah jika Zelaya dilarang ikut sebagai kandidat presiden.
Manuel Zelaya yang bernama lengkap José Manuel Zelaya Rosales dilantik sebagai presiden pada 27 Januari 2006. Dia digulingkan lewat kudeta militer pada 28 Juni 2009 dan diasingkan ke San Jose, Kostarika. Ketua Kongres Roberto Micheletti, tokoh dukungan militer dan probisnis, pun dilantik sebagai presiden sementara.
Pada 21 September lalu, Zelaya membuat kejutan bagi pemerintahan Micheletti. Setelah menyelinap masuk kembali ke negaranya, hari itu dia tampil untuk pertama kalinya di hadapan publik dan berlindung di Kedutaan Besar Brasil di Tegucigalpa. Sejak itu, dia berjuang untuk pemulihan kembali jabatannya.
Zelaya pekan lalu memperingatkan, dia tidak akan kembali ke kursi presiden jika hal itu semata-mata hanya untuk mengakhiri konflik. Dia menegaskan, selain bertujuan mengakhiri konflik, pemulihan jabatan juga harus dilihat sebagai penegasan bahwa kudeta 28 Juni tidak bisa dimaafkan dan dia diperbolehkan ikut bertarung dalam pemilu.
Craig Kelly sudah kembali ke Honduras bertemu dengan Micheletti dan Zelaya. Juru bicara Kedubes AS di Tegucigalpa, Ledy Pacheco, mengatakan, Kelly berusaha memulihkan lagi kesepakatan antara Micheletti dan Zelaya. ”Sebagai sahabat Honduras, kami akan tetap berusaha maksimal mencari solusi terbaik untuk kedua belah pihak,” kata Kelly.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar