20 November 2009

Kamboja Ambil Alih Perusahaan Thailand

Jumat, 20 November 2009 | 03:11 WIB

Bangkok, Kamis - Hubungan bilateral antara Kamboja dan Thailand terus memburuk. Kamboja mengambil alih Cambodian Air Traffic Services, perusahaan kontrol lalu lintas udara milik Thailand di Kamboja, Kamis (19/11). Semua pekerja ekspatriat Thailand diusir, lalu diisi oleh para pekerja lokal.

Pengambilalihan unit usaha milik Samart Corporation Pcl dari Thailand ini terjadi setelah petugas Kamboja menangkap Siwarak Chothipong (31), karyawan Cambodian Air Traffic Services (CATS). Dia diduga sedang memata-matai aktivitas Perdana Menteri Thailand terguling Thaksin Shinawatra, yang menjadi penasihat ekonomi Pemerintah Kamboja.

Chothipong ditangkap minggu lalu. Dia dituding telah mengirim jadwal penerbangan Thaksin ke kedutaan besar negaranya ketika Thaksin mengunjungi Phnom Penh pekan lalu. Setelah menangkap Chothipong dan mengusir pekerja Thailand, Kamboja pun menunjuk seorang pejabat senior pada penerbangan sipil menjadi penjabat sementara pada manajemen CATS.

Sebenarnya, CATS telah mendapat konsesi selama 32 tahun (2001-2033) untuk menyediakan layanan kontrol lalu lintas udara di Kamboja. CATS termasuk unit usaha Samart Corporation Pcl yang 19 persen sahamnya dimiliki Axiata Group, perusahaan telekomunikasi dari Malaysia.

Menlu Thailand Kasit Piromya mengatakan, langkah Kamboja yang mengambil alih CATS tidak berdasar. Tindakan sepihak itu justru memperuncing ketegangan diplomatik antara Kamboja dan Thailand. Keduanya terlibat pertikaian diplomatik setelah Oktober lalu Perdana Menteri Kamboja Hun Sen menunjuk Thaksin sebagai penasihat di bidang ekonomi Kamboja.

Menurut Kasit Piromya, selama masa konsesi itu, semua kegiatan perusahaan dilindungi oleh suatu perjanjian kerja sama perlindungan investasi, yang telah ditandatangani pemerintah kedua belah pihak. Pemerintah Kamboja seharusnya menghargai kesepakatan kerja sama itu.

”Kami menunggu laporan dari Kedutaan Besar Thailand dan klarifikasi dari Kamboja. Jika melanggar perjanjian bilateral, kami akan mencari jalan meneruskan kegiatan di sana. Kamboja adalah pasar utama kami,” kata Piromya. (AFP/REUTERS/CAL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar