Jakarta, Kompas - Ekspor ban kendaraan per tahun meningkat signifikan dibandingkan impornya. Namun, hal itu harus diwaspadai agar angka ekspor itu bukan hasil dari pemindahkapalan atau transhipment.
”Selama ini modus transhipment sudah terjadi pada komoditas tekstil dan udang. Jadi, terbuka kemungkinan terjadi modus semacam ini pada ban,” kata Menteri Perindustrian Fahmi Idris di sela-sela diskusi ”Industri Ban Mendukung Program Keselamatan Berkendara”, Rabu (14/10) di Jakarta.
Oleh karena itu, Fahmi mengingatkan agar instansi-instansi yang terkait dengan industri dan perdagangan ban mewaspadai hal itu.
Pemindahkapalan, kata Fahmi, akan merugikan industri ban dalam negeri. Apalagi, bila barang tersebut tidak cocok dengan standar industri yang dimiliki Indonesia. ”Reputasi industri ban kita akan dirugikan,” ujarnya.
Menurut Fahmi, pemberlakuan kewajiban standar nasional Indonesia ban harus terus disosialisasikan. ”Ini bukan hanya untuk menggalang kekuatan penyalahgunaan produk Indonesia, tetapi juga menjaga keselamatan berkendaraan.”
Saat ini terdapat 13 produsen ban nasional dengan kapasitas produksi 45 juta ban mobil dan 30 juta ban sepeda motor.
Sekitar 70 persen ban mobil produksi Indonesia diekspor, yakni ke Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan sejumlah negara di Asia dan Eropa.
Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) A Azis Pane, sebagai penghasil karet, Indonesia semestinya terus meningkatkan produksi ban. Bukan hanya untuk kebutuhan domestik, tetapi juga untuk ekspor.
Azis menegaskan, sosialisasi terhadap kewajiban SNI bagi produk ban sudah dilakukan. ”Sosialisasi terbaik dilakukan di jalan tol karena 20-30 persen kecelakaan di jalan tol terjadi akibat pecah ban. Polisi hendaknya juga mulai fokus mengawasi kondisi ban kendaraan. Bukan hanya segitiga pengaman dan lampu kendaraan bermotor, serta daya angkut,” ujarnya.
Pengusaha angkutan, kata Ketua bidang Prasarana dan Angkutan Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Rudy Thehamihardja, berani meningkatkan daya angkut karena pelanggarannya dilakukan secara sistematis oleh produsen ban, industri otomotif, dan perusahaan karoseri.
Data Departemen Perindustrian menyebutkan, nilai ekspor ban Indonesia terus meningkat. Tahun 2006 mencapai 764,5 juta dollar AS, tahun 2007 sebesar 885,3 juta dollar AS, dan 2008 sebesar 1,053 miliar dollar AS.
Nilai impor juga meningkat. Tahun 2006 sebesar 100,8 juta dollar AS, tahun 2007 sebesar 107,9 juta dollar AS, dan 2008 sebesar 161,1 juta dollar AS. (OSA)
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bandung. Tampilkan semua postingan
15 Oktober 2009
04 September 2009
Seniman Harus Biayai Sendiri Pertunjukan
Bandung - Seniman sering kali melakukan pelestarian seni dan budaya secara mandiri. Mereka khawatir, pelestarian seni dan budaya akan tersendat apabila hanya menunggu bantuan pemerintah.
Sesepuh Komunitas Penari Jaipong Jawa Barat, Mas Nanu Muda, di Bandung, Rabu (2/9), mengatakan, penari jaipong Jawa Barat sering kali mengumpulkan biaya sendiri untuk mementaskan pergelaran tari. Ini dilakukan karena dukungan dana dan semangat yang diberikan pemerintah sangat minim. Pementasan terakhir yang dibiayai secara mandiri adalah ”Lawung Midang Salapan Koreografer Jaipong 2009” dan Festival Tandang Adu Kreasi Ibing Jaipong 2009.
Nanu mengatakan, untuk menggelar ”Lawung Midang Salapan Koreografer Jaipong 2009”, sembilan seniman tari jaipong harus mengumpulkan dana Rp 1 juta per orang. Uang itu digunakan untuk menyewa tempat pementasan di Taman Budaya Jawa Barat dan biaya operasional penari.
Hal yang sama juga dilakukan ketika melakukan Festival Tandang Adu Kreasi Ibing Jaipong 2009. Menurut Ketua Panitia Gondo Gandamanah, meski masuk dalam agenda tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, perhatian pemerintah terhadap festival ini sangat minim. Akibatnya, dana yang diperlukan untuk membiayai festival yang diikuti 20 sanggar dari 10 kota dan kabupaten di Jawa Barat tersebut mengandalkan kantong pribadi panitia.
Seniman Harry Dim mengatakan, setiap daerah diharapkan memiliki konservatorium seni dan budaya. Hal itu diyakini mampu bisa menjaga eksistensi seni dan budaya.
Harry menyatakan bahwa kendala seniman daerah adalah pengembangan dan kesempatan mengembangkan serta menampilkan karyanya. Diharapkan, konservatorium yang dibangun di berbagai daerah bisa menjembataninya. Konservatorium diisi sumber data, pementasan, serta pelatihan dan pengembangan seni dan budaya. (CHE)
Sesepuh Komunitas Penari Jaipong Jawa Barat, Mas Nanu Muda, di Bandung, Rabu (2/9), mengatakan, penari jaipong Jawa Barat sering kali mengumpulkan biaya sendiri untuk mementaskan pergelaran tari. Ini dilakukan karena dukungan dana dan semangat yang diberikan pemerintah sangat minim. Pementasan terakhir yang dibiayai secara mandiri adalah ”Lawung Midang Salapan Koreografer Jaipong 2009” dan Festival Tandang Adu Kreasi Ibing Jaipong 2009.
Nanu mengatakan, untuk menggelar ”Lawung Midang Salapan Koreografer Jaipong 2009”, sembilan seniman tari jaipong harus mengumpulkan dana Rp 1 juta per orang. Uang itu digunakan untuk menyewa tempat pementasan di Taman Budaya Jawa Barat dan biaya operasional penari.
Hal yang sama juga dilakukan ketika melakukan Festival Tandang Adu Kreasi Ibing Jaipong 2009. Menurut Ketua Panitia Gondo Gandamanah, meski masuk dalam agenda tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, perhatian pemerintah terhadap festival ini sangat minim. Akibatnya, dana yang diperlukan untuk membiayai festival yang diikuti 20 sanggar dari 10 kota dan kabupaten di Jawa Barat tersebut mengandalkan kantong pribadi panitia.
Seniman Harry Dim mengatakan, setiap daerah diharapkan memiliki konservatorium seni dan budaya. Hal itu diyakini mampu bisa menjaga eksistensi seni dan budaya.
Harry menyatakan bahwa kendala seniman daerah adalah pengembangan dan kesempatan mengembangkan serta menampilkan karyanya. Diharapkan, konservatorium yang dibangun di berbagai daerah bisa menjembataninya. Konservatorium diisi sumber data, pementasan, serta pelatihan dan pengembangan seni dan budaya. (CHE)
Label:
bandung,
Koreografer Jaipong 2009
Langganan:
Postingan (Atom)