
Lee Hee-ho (ketiga dari kiri), istri almarhum mantan Presiden Kim Dae-jung, dan anggota keluarga berjalan di altar saat prosesi pemakaman mantan Presiden Korsel itu, Seoul, Korea Selatan, Minggu ( 23/8).
Kim Dae-jung Dimakamkan
Presiden SBY Mengutus Mari Pangestu
Senin, 24 Agustus 2009 | 04:09 WIB
Seoul, Minggu - Puluhan ribu warga Korea Selatan memadati halaman gedung parlemen untuk mengikuti pemakaman kenegaraan bagi mantan Presiden Kim Dae-jung, Minggu (23/8). Di lokasi itu Kim Dae-jung pernah dilantik sebagai Presiden Korsel pada tahun 1998.
Puluhan ribu warga membawa balon warna kuning dan mengibarkan poster kecil juga berwarna kuning sebagai tanda berdukacita. ”Selamat tinggal, Bapak Sunshine: Tanpamu, kami tidak akan pernah mengenal demokrasi”, tertulis pada sebuah poster.
Almarhum tidak saja berkesan di mata warga, tetapi juga pemerintahan. ”Hari ini kita berduka, merasa kehilangan. Kim adalah pemimpin besar dalam sejarah modern,” kata Perdana Menteri Korsel Han Seung-soo.
Sebagai tanda penghormatan, istri Kim Dae-jung, Lee Hee-ho, membungkuk di foto Kim Dae-jung berukuran besar. Presiden Lee Myung-bak dan mantan presiden Korsel lain serta pemimpin negara asing ikut hadir. Selain di parlemen, warga berkumpul di luar Balaikota.
”Presiden Kim Dae-jung adalah pemimpin luar biasa yang menjadi teladan untuk rakyat Korea dan dunia. Dia teman yang baik. Saya sangat kehilangan,” kata mantan Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright.
Seusai upacara pemakaman, peti jenazah Kim Dae-jung langsung dibawa ke tempat pemakaman nasional Korsel. Di atas peti jenazah itu disebar segenggam tanah dari tanah kelahiran Kim Dae-jung di kota Mokpo.
Memberi penghormatan terakhir kepada Kim Dae-jung, pemimpin Korut Kim Jong Il mengirim delegasi yang terdiri dari delapan pejabat tinggi Korut. Namun, sejak awal delegasi Korut itu berencana tidak mengikuti upacara pemakaman dan hanya menyampaikan rangkaian bunga serta menyampaikan penghormatan terakhir untuk Kim Dae-jung dari Kim Jong Il.
Sebelum upacara pemakaman kenegaraan dimulai, delegasi Korut bertemu Presiden Korsel Lee Myung-bak dan menyampaikan pesan Kim Jong Il. Selama setengah jam pertemuan, Lee dan tiga dari delapan delegasi Korut itu membicarakan isu kerja sama di antara kedua pihak di Istana Kepresidenan Korsel.
Juru bicara Presiden Korsel, Lee Dong-kwan, menyatakan, dalam pertemuan itu Korsel kembali menegaskan kebijakan ”konsisten dan tegas” kepada Korut. Presiden Lee juga mengingatkan pentingnya ”dialog yang tulus”.
Menjawab pernyataan Presiden Lee itu, delegasi Korut berharap kedua negara dapat bekerja sama dan menyelesaikan segala persoalan. Lee Dong-kwan tidak menjelaskan lebih lanjut hasil pertemuan itu. Namun, tampaknya kemungkinan hasilnya positif karena pemimpin rombongan Korut, Kim Ki Nam, pergi dengan senyuman. ”Saya meninggalkan Korsel dengan perasaan senang,” ujarnya.
Setia dan bisa diandalkan
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu diutus mewakili Indonesia. Mendag menyerahkan surat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada Presiden Lee Myung-bak berisikan ucapan belasungkawa rakyat Indonesia.
Dalam surat tersebut Presiden menggarisbawahi, Kim Dae-jung adalah teman Indonesia yang setia dan dapat diandalkan. Almarhum adalah panutan, berprinsip tinggi, dan berhasil mewujudkan demokrasi di Korea.
Selain menghadiri pemakaman kenegaraan, Mendag juga melakukan pertemuan bilateral dengan Mendag Korea Kim Jong-hoon untuk membahas isu bilateral, regional, dan multilateral. Keduanya membahas cara meningkatkan perdagangan dan investasi kedua negara, antara lain dengan menggalakkan kegiatan di bawah Joint Task Force (JTF) Indonesia-Korea yang menangani banyak bidang, termasuk perdagangan, investasi, energi, kehutanan, prasarana, dan teknologi informasi.
(REUTERS/AFP/AP/LUK)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar