
Puteri Indonesia Zivanna Letisha Siregar berpose dalam acara pertunjukan gaun malam pada kontes Ratu Sejagat 2009 di Atlantis, Paradise Island, Bahama, Minggu, 16 Agustus.
Nassau, Minggu - Ratu-ratu kecantikan dari Amerika Latin dan Asia muncul sebagai favorit publik saat kontes Ratu Sejagat di Nassau, Bahama, mendekati akhir.
Sebuah jajak pendapat lewat internet yang disponsori panitia kontes ratu kecantikan itu mengunggulkan Puteri Indonesia Zivanna Letisha Siregar, Putri Brasil Larissa Costa, dan Putri Guatemala Lourdes Figueroa, sehari sebelum final yang diikuti 15 finalis. Ketiga putri itu terpilih dari 44 peserta dari seluruh dunia itu.
Panitia kontes menutup bagian komentar dari jajak pendapat internet itu karena lebih dari 50.000 komentar telah masuk dalam beberapa hari pertama. ”Terlalu banyak yang masuk,” kata Carl Althoff, seorang jubir kontes kecantikan itu. ”Kami tidak mampu memantaunya.”
Puluhan turis berdesakan di sekitar pusat media di Hotel Atlantis, Nassau, Bahama, hari Sabtu, mencoba melewati petugas keamanan dan mengintip ruangan dansa, tempat acara mencari Ratu Sejagat itu diadakan Minggu malam (Senin pagi WIB).
Mereka berhenti mengobrol dan menatap saat salah seorang pemilik acara kontes itu, Donald Trump, yang lewat dengan dua pengawal.
”Bukan main!” kata Frederic Battut, yang terbang dari Paris, Perancis, hanya untuk menyaksikan acara itu. Pasangannya, Fernando Alzate, mengenakan sebuah kaus bertuliskan nama Putri Kolombia. Tetapi pihak panitia mengatakan kepadanya tidak bisa masuk kecuali dia menemukan sebuah jaket untuk acara itu.
Pejabat-pejabat pariwisata di Bahama berharap kontes kecantikan itu akan mendorong perekonomian yang terpukul telak oleh krisis ekonomi global. Hotel Four Seasons Resort Great Exuma mengumumkan bulan Mei bahwa akan tutup dan Hotel Atlantis, tempat dilaksanakannya kontes itu, memberhentikan sekitar 800 karyawan musim ini.
Sekitar 2.700 tiket untuk acara terjual dari 3.100 yang tersedia, kata Glenda Johnson dari Kementerian Pariwisata Bahama.
Dalam lomba sebelum acara puncak, Diana Broce dari Panama mendapat hadiah kategori pakaian nasional terbaik.
Kehebohan
Kontes itu menimbulkan sebuah keributan diplomatik. Menteri Kebudayaan Bolivia berang ketika Putri Peru Karen Schwarz mengenakan pakaian yang dikenal sebagai ”Diablada”, dengan mengatakan itu merupakan lambang Bolivia, bukan Peru.
Pakaian tradisional itu dikenakan pada Karnaval Oruro di Bolivia, sebuah acara kebudayaan yang diakui UNESCO. Istilah Diablada juga merujuk kepada sebuah tarian masyarakat adat Aymara, yang tinggal di Peru, Cile, dan Bolivia. (AP/AFP/DI)
Senin, 24 Agustus 2009 | 04:12 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar