Cukup banyak pertanda bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga akan mulai naik kembali setelah selama tiga triwulan berturut-turut melemah. Ekspor sejak Mei 2009 selalu membukukan peningkatan bulanan.
Indeks produksi industri menengah dan besar pun menunjukkan kecenderungan serupa. Konsumsi semen sudah sejak Maret 2009 naik hingga mencapai rekor tertinggi pada bulan Juli. Penjualan sepeda motor dan mobil sudah sekitar empat bulan terakhir terus-menerus meningkat, walaupun relatif masih jauh lebih rendah dari rata-rata bulanan tahun 2008.
Pada pertemuan antara Bank Indonesia dan sejumlah analis ekonomi hari Jumat minggu lalu, nada optimisme juga mencuat. Salah seorang peserta mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat Standard & Poor’s kemungkinan akan menaikkan peringkat Indonesia satu tingkat menjadi BBB- (triple B minus). Moody's sudah lebih dulu menaikkan sovereign credit rating Indonesia dari Ba3 menjadi Ba2.
Ekspektasi tersebut merupakan salah satu faktor terpenting yang memicu peningkatan arus masuk investasi portofolio belakangan ini, sebagaimana tecermin dari peningkatan dana asing yang masuk membeli Surat Utang Negara dan Sertifikat Bank Indonesia, dan pembelian bersih oleh asing di pasar saham.
Tak pelak lagi, derasnya arus masuk modal asing jangka pendek mendongkrak indeks harga saham yang sempat menembus 2.500 minggu lalu dan membuat apresiasi rupiah hingga mencapai Rp 9.368 per dollar AS tanggal 8 Oktober. Apalagi ditambah dengan doping dari Dana Moneter Internasional dalam bentuk alokasi special drawing rights (SDR) sebesar SDR 1,74 atau setara dengan 2,7 miliar dollar AS, sehingga cadangan devisa dalam sebulan bertambah 4,4 miliar dollar AS menjadi 62,3 miliar dollar AS pada akhir September 2009.
Agar sentimen positif tidak mendadak sontak tergerus dan volatilitas indikator-indikator makroekonomi jangka pendek terjaga, kita perlu mengupayakan tiga hal.
Pertama, membenahi sektor riil secara mendasar. Sektor riil yang semakin kokoh merupakan prasyarat mutlak untuk menghadirkan keyakinan investor dalam jangka panjang, sehingga lambat laun struktur modal masuk semakin berkualitas, yang ditunjukkan oleh peningkatan porsi investasi portofolio oleh investor institusional dan penanaman modal asing.
Kedua, memperbesar porsi investor domestik, karena bagaimanapun sektor keuangan yang sangat didominasi asing akan berpotensi menimbulkan volatilitas yang lebih tinggi. Untuk itu, pasar keuangan kita membutuhkan pembenahan mendasar agar lebih kredibel dan memberikan perlindungan kepada investor kecil.
Sungguh sangat tidak sehat kalau pergerakan indeks harga saham terlalu didominasi oleh segelintir kelompok bisnis tertentu. Kita tidak boleh membiarkan negeri ini ”disandera” oleh mereka, apalagi membiarkan mereka melakukan pelanggaran demi pelanggaran, berulang-ulang, tanpa tindakan tegas oleh otoritas keuangan.
Dominasi kelompok usaha tertentu
Untuk mengurangi dominasi kelompok usaha swasta tertentu, pemerintah perlu mendorong percepatan sejumlah BUMN sehat untuk masuk bursa. Selain itu, proses divestasi perusahaan-perusahaan asing, khususnya di sektor pertambangan, jangan diserahkan langsung kepada pihak swasta nasional, melainkan dilakukan lewat bursa, sehingga pemilikan kekayaan negara lebih merata, tidak terkonsentrasi pada segelintir kelompok usaha, apalagi yang itu-itu saja.
Cara demikian merupakan wujud dari penerapan demokratisasi ekonomi yang lebih nyata. Sebagai langkah transisional, saham asing yang hendak didivestasi bisa dialihkan terlebih dahulu kepada BUMN yang berusaha di sektor sejenis yang telah tercatat di bursa.
Ketiga, sudah saatnya kita memperkokoh nasionalisme ekonomi. Salah satu wujud dari nasionalisme ekonomi itu adalah semua unsur masyarakat tidak mencederai mata uangnya sendiri. Langkah paling cepat ialah dengan meminta semua calon menteri dan pejabat tinggi lainnya menjual kekayaan rupiah mereka. Lebih elok lagi kalau langkah ini dimulai oleh presiden dan wakil presiden terpilih serta diumumkan secara terbuka.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sangat banyak pejabat tinggi yang menyimpan kekayaannya dalam valuta asing. Selain itu, Bank Indonesia juga harus mengenakan sanksi tegas kepada siapa pun, terutama perbankan, yang melanggar ketentuan dalam transaksi valuta asing.
Dalam hitungan hari, presiden dan wakil presiden terpilih akan mengumumkan program 100 hari dan rencana aksi 5 tahun ke depan. Kita berharap peta jalan yang dibentangkan langsung menjawab tantangan jangka pendek dan menengah.
Dengan mengedepankan pembenahan sektor riil yang komprehensif, niscaya sentimen positif yang sudah terbentuk akan jadi modal dasar yang cukup untuk memulai langkah bagi perwujudan negara maritim yang mampu menyatukan perekonomian domestik yang kokoh dan berdaya saing menuju negara maju, mandiri, dan berkeadilan.
Ada lima sasaran strategis yang perlu dicanangkan pemerintahan mendatang untuk mencapai percepatan pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkeadilan.
Pertama, struktur ekonomi yang kokoh yang tak rentan diterpa gejolak eksternal, mandiri, dan berdaya saing; kedua, sumber daya manusia berkualitas; ketiga, mobilisasi seluruh potensi sumber dana dalam negeri untuk menghasilkan pembiayaan yang selaras dengan kebutuhan investasi; keempat, pemanfaatan sumber daya alam secara sinergis dan lestari; dan kelima, birokrasi yang kompeten, efektif, dan bersih.
Selamat menunaikan tugas mulia kepada pemerintahan baru.
Oleh FAISAL BASRI
Kompas, Senin, 12 Oktober 2009 | 03:27 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar