19 November 2009

ENERGI; Permintaan di Asia Tenggara Akan Naik

Kamis, 19 November 2009 | 05:09 WIB

Jakarta, Kompas - Badan Energi Internasional memperkirakan, permintaan energi di Asia Tenggara akan melonjak dalam beberapa dekade ke depan.

Di sisi lain, produksi energi di kawasan Asia Tenggara masih terbatas. Untuk itu, penggunaan energi harus lebih efisien dan ramah lingkungan.

”Sepuluh negara anggota Asean berperan penting terhadap peningkatan permintaan energi di pasar energi global pada masa depan. Ini terjadi karena pesatnya laju pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk,” kata Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional Nobuo Tanaka, Rabu (18/11) di Jakarta.

Menurut Proyeksi Energi Dunia 2009 yang diterbitkan Badan Energi Internasional, permintaan energi di Asia Tenggara diperkirakan meningkat hingga 76 persen pada 2007-2030 atau naik 2,5 persen per tahun.

”Di sektor migas, mayoritas perusahaan telah memotong belanja modal, menunda dan membatalkan rencana proyek. Pelaku bisnis dan rumah tangga juga mengurangi pengeluaran untuk konsumsi energi,” ujar Tanaka.

Diperkirakan, anggaran investasi migas tahun 2009 turun 19 persen dibanding tahun 2008 atau lebih dari 90 miliar dollar AS.

Penurunan investasi energi itu berpotensi mengancam ketahanan energi dan perubahan iklim. ”Ini bergantung pada respons pemerintah, termasuk di Asia Tenggara. Salah satunya, menghemat energi dan mengurangi subsidi energi,” kata Manajer Program Asia Tenggara Badan Energi Internasional Brett Jacobs.

Dalam rangka mengatasi lonjakan permintaan energi akibat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan komitmennya menekan polusi udara, Pemerintah China mulai 2007 mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin.

Lokasi pembangkit berada 70 kilometer barat laut Beijing, tepatnya di pinggiran Waduk Guanting. Pembangkit listrik itu memiliki 33 turbin yang masing-masing memiliki kapasitas produksi 1,5 megawatt.

(EVY/mas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar