Sejumlah 65 warga Papua Niugini turun dari pesawat Hercules C-130 A1320 TNI AU di hanggar TNI AU Sentani, Jayapura, Papua, Kamis (19/11). Mereka ini adalah sebagian dari ratusan warga Papua yang lari ke Papua Niugini pada tahun 1980-an dan kembali lagi secara sukarela ke Indonesia.
REPATRIAS
Sentani, Kompas
”Saya sudah rindu kembali ke keluarga. Suasana di Papua Niugini kriminalitas tinggi, sementara situasi di Papua kini sudah jauh lebih baik dibandingkan saat saya tinggalkan dulu tahun 1979,” ujar Hein Fere (62), salah seorang repatrian. Ia membawa istrinya, Yohana Hamadi (60), dan keempat cucunya. Kelima anaknya juga akan mengikuti repatriasi pada tahun 2010 setelah menyelesaikan kepengurusan tanah dan rumah di Papua Niugini.
Selain terdiri dari warga asal Papua yang meninggalkan Indonesia, juga terdapat puluhan orang yang memang lahir dan besar di Papua Niugini. Mereka memilih kembali ke Indonesia karena ingin mendapat pendidikan yang lebih baik. Mereka berasal dari wilayah seputar Jayapura, seperti Sentani, Kota Jayapura, Sarmi, dan Keerom.
Ke-138 repatrian ini tiba di Sentani menggunakan pesawat Hercules A-1320 yang dipiloti Letnan Kolonel (Pnb) Purwoko. Penerbangan pertama membawa 65 orang dan sore hari 73 orang. Mereka kini ditampung di Balai Latihan Kerja Provinsi Papua di Jayapura selama 3-5 hari.
Penjabat Direktur Jenderal Pemerintahan Umum Departemen Dalam Negeri Sutrisno, di Jayapura, mengatakan, para repatrian ini akan segera dikirim ke kabupaten/kota tujuan mereka.
Ihwal fasilitas tempat tinggal dan pekerjaan tetap bagi para repatrian, Sutrisno mengatakan, kebijakan itu relatif yang bisa diambil oleh kepala daerah masing-masing. Ia berharap para repatrian ini dapat bergabung dengan keluarga besar masing-masing di Papua dan hidup normal sebagai WNI.
Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Departemen Luar Negeri Teguh Wardoyo menuturkan, proses repatriasi masih akan berlanjut. ”Sebagian warga, baru akan ikut repatriasi tahap selanjutnya karena mereka harus menjual dulu tanah tempat tinggal dan mengurus pekerjaan mereka di Papua Niugini,” ujarnya.
Teguh mengatakan, selama tinggal di Papua Niugini, sebagian besar repatrian ini tinggal secara tidak manusiawi. Warga yang tinggal di Mile 6 dan Mile 8 di Port Moresby, ibu kota Papua Niugini, misalnya, hidup di bawah garis kemiskinan.
Teguh mengatakan, besar harapan kepada pemda Papua dan Papua Barat untuk bisa membuat WNI yang baru direpatriasi bisa kembali melanjutkan hidup mereka di kampung halaman masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar