Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terorisme. Tampilkan semua postingan

15 Oktober 2009

Penghuni Kos Pindah

Penghuni kontrakan yang menjadi tempat kejadian perkara penyergapan dan penembakan tersangka teroris di RT 02 RW 03 Kelurahan Cempaka Timur, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, mulai bisa beraktivitas kembali setelah beberapa hari kamar mereka ditutup guna kepentingan penyelidikan. Sejumlah petugas keamanan dan polisi masih berjaga-jaga di kamar kos tersangka.


Trauma dengan Bunyi Tembakan dan Ledakan Bom



JAKARTA, KOMPAS - Sejumlah penghuni rumah kos di Kampung Semanggi, lokasi penyergapan dua tersangka teroris, Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir, berencana pindah. Mereka tidak mau menempati rumah kos tersebut lantaran takut dan trauma.

Rabu (14/10), polisi mengizinkan penghuni rumah kos di Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, itu menempati kembali kamar mereka. Polisi membuka garis polisi itu pada Selasa (13/10) pukul 17.30 sehingga penghuni kos yang kebanyakan berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah pun kembali dari ”pengungsian” di rumah kos teman-teman mereka.

Meskipun begitu, polisi masih menutup dan mensterilkan kamar nomor 15 dengan garis polisi dan ditutup tripleks. Di lorong depan kamar tersebut banyak tersebar pecahan kaca dan bercak-bercak darah yang telah mengering.

”Kalau masuk kamar, saya masih sering mendengar suara tembakan dan dentuman bom. Hal itu menyebabkan saya susah tidur,” kata Usep (18), salah satu penghuni kamar 14 yang bersebelahan dengan kamar 15.

Mahasiswa UIN lain yang tinggal di kamar 12, Randi (19) dan Dimas (20), juga berencana pindah. Mereka mengaku tidak nyaman tinggal di bekas sarang persembunyian teroris. ”Saya takut dicap terlibat teroris. Selain itu, orangtua mendesak saya untuk pindah kos,” kata Dimas yang mengaku membayar kos Rp 450.000 per bulan.

Menurut Randi, kebanyakan yang pindah adalah penghuni kos di lantai dua. Mereka berjumlah sekitar 15 orang dari total 45 penghuni rumah kos itu. Suwarni (50), pengelola rumah kos itu, mengaku belum mendengar rencana kepindahan sejumlah penghuni kos. Namun, dia membebaskan para penghuni untuk menentukan pindah atau tidak.

Penghuni didata

Rabu siang, Suwarni mendata kembali penghuni kos. Dia mewajibkan setiap penghuni kos menyerahkan kartu tanda penduduk (KTP). ”Selama ini, saya enggak pernah mengecek dan meminta KTP para mahasiswa. Pengurus RT juga enggak pernah menanyakan. Sekarang, setiap mahasiswa wajib menyerahkan KTP,” kata Suwarni.

Di tempat lain, Fachrizal Chaniago, paman Afham Ramadhan (23) dari pihak ibu, mengatakan, Afham dipaksa Imam, paman dari pihak ayah, mencarikan pondokan buat Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir. Entah mengapa, akhirnya kedua pria yang diduga tersangka teroris itu hanya menumpang di rumah ”kos patungan” sejumlah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, termasuk Afham dan Sonny, di Jalan Semanggi II RT 02 RW 03 Cempaka Putih, Ciputat.

”Kok tega ya si Imam itu mengorbankan keponakannya sendiri. Saya yakin Afham tidak terlibat. Sonny Jayadi pun tampaknya cuma korban,” ucap Fachrizal saat ditemui di rumahnya di RT 07 RW 02 Nomor 93, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Menurut dia, Afham dan Sonny adalah teman sekerja di BPPT, teman sekuliah di UIN, di samping teman satu kos.

Telaga Kahuripan

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna kemarin mengatakan, Sonny, Afham, dan Fajar Firdaus adalah kelompok pengajian kelompok Telaga Kahuripan, Bogor, sejak 2007. Syaifudin menjadi ustaz di kelompok pengajian itu.

Ketiganya sama-sama kuliah di UIN. Fajar ditangkap di Bekasi pada Jumat lalu, sedangkan Sonny ditangkap di Wisma Takana Juo di Jalan Paus, Padang, Sabtu (10/10) pukul 00.30. Afham kemudian menyerahkan diri ke polisi, Selasa (13/10) sore.

Fachrizal membantah dirinya menyembunyikan Afham selama tiga hari di rumahnya. ”Itu bohong. Yang benar, saya justru yang menasihati dia (Afham) untuk menyerahkan diri. Kalau saya dituduh menyembunyikan, saya pasti ikut ditangkap,” katanya.

Fachrizal mengatakan, Afham datang ke rumahnya pada Selasa pukul 07.00. Setelah memberi nasihat, sejumlah polisi datang pukul 12.00. Mereka membawa Afham ke Markas Brimob Kelapa Dua, Depok. ”Dia dijemput 12 petugas berpakaian sipil,” ucapnya. Tentang siapa Imam, seperti disebut Fachrizal, Nanan mengaku belum tahu. ”Saya belum tahu,” ucapnya. (HEN/WIN)
Kamis, 15 Oktober 2009

21 Agustus 2009

Ramadhan untuk Kebersamaan

Umat Islam selalu menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan. Di masjid-masjid, umat Islam melaksanakan rangkaian ibadah sebagai rasa ketundukan kepada Allah SWT.

Di tempat-tempat lain pun umat Islam menyambut Ramadhan dalam suasana religius, seperti pemasangan spanduk Ramadhan di jalan, berjejernya baju koko di toko-toko dan musik-musik islami, dan lainnya. Suasana bulan suci Ramadhan akan berbeda dengan bulan-bulan lain. Nuansa religius merasuk sanubari. Ini semua menjadi tanda keindahan yang kita saksikan pada bulan Ramadhan.

Banyak orang sering menyebut Ramadhan sebagai pusat latihan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas kemanusiaan yang tunduk kepada Allah. Tentu saja, sebagai pusat latihan, Ramadhan menjadi tolok ukur peningkatan kualitas iman umat Islam yang kita lihat pada bulan-bulan berikutnya.

Sayang, umat Islam sering kurang mampu menjaga nuansa dan suasana religius pada bulan berikut. Hal ini disebabkan Ramadhan telah menjadi budaya, bukan lagi sebagai nilai intrinsik (intrinsic values) yang menjadi modal religius umat.

Sebagai budaya, Ramadhan mudah dikapitalisasi pemilik modal yang dibungkus oleh pesan-pesan keagamaan. Tak heran, jika menjelang Ramadhan, tempat pertama yang dikunjungi umat Islam adalah pusat-pusat perbelanjaan. Dakwah agama pun dikapitalisasi, terutama oleh media elektronik, seperti radio dan televisi.

Karena itu, ibadah pada bulan Ramadhan sudah sepatutnya dikembalikan sebagai nilai intrinsik untuk perbaikan umat secara komprehensif sehingga Ramadhan memiliki kontribusi bagi perbaikan moral, ibadah, dan kepekaan sosial.

Renungan kebersamaan

Ramadhan merupakan momentum strategis bagi perbaikan kualitas umat Islam dengan tidak lagi mengandalkan simbol, tetapi sudah diarahkan pada hal- hal yang substantif. Dalam kancah politik nasional, sejak pemilu legislatif hingga pemilu presiden telah banyak menyita perhatian kita dalam aroma kompetisi yang kuat. Sekat-sekat perbedaan begitu kentara dan terasa sulit diikat kembali akibat perbedaan partai politik. Umat Islam pun terbelah dalam berbagai kecenderungan partai politik.

Ketegangan yang telah lama dipelihara dalam perebutan politik kekuasaan sudah saatnya dilepaskan. Dahaga kekuasaan yang tertanam biarkan musnah oleh siraman religius pada bulan Ramadhan. Kembali ke jati diri sebagai umat dan bangsa perlu dorong sehingga kita tidak lagi tertekan dalam perbedaan. Perebutan kekuasaan adalah siklus alami yang harus dihadapi bangsa sehingga yang kalah dan yang menang tidak perlu lagi merawat perselisihan dan pertengkaran.

Ramadhan sebenarnya merupakan refleksi kebersamaan umat akibat perbedaan politik, yakni kembali ke jalur rohani. Ramadhan menjadi daya ikat berbagai kepentingan politik untuk bersama dalam nuansa religius. Ego kemanusiaan jangan lagi menghapus jalan rohani sebagai umat manusia yang selalu bersama dalam mengembangkan diri.

Maka, setelah berebut kekuasaan, inilah saatnya kembali bersama dalam jalan rohani. Ramadhan telah banyak mengajarkan untuk mengendalikan diri, terutama dari ego-ego keserakahan (politik maupun ekonomi). Puasa pada bulan Ramadhan merupakan refleksi kebersamaan kita. Yang kaya dan berkecukupan akan merasakan laparnya orang-orang miskin. Yang berkuasa akan merasakan kekurangan yang biasa dialami rakyatnya. Puasa tidak membeda-bedakan kelas sosial, jabatan politik, dan kekayaan. Puasa akan melatih kita dari keserakahan duniawi.

”Mainstreaming” toleransi

Refleksi kebersamaan yang diajarkan dalam ibadah puasa Ramadhan menjadi peneguhan bahwa Islam adalah agama yang moderat dan toleran sehingga aksi terorisme tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Terorisme adalah ideologi kekerasan yang dibungkus agama. Aksi terorisme yang dilakukan sebagian kecil umat Islam menjadi bukti kedangkalan pengetahuan agama. Al Quran mengingatkan agar kita tidak melakukan tindakan kekerasan. ”Andaikan Allah tidak menolak (tindak kekerasan) antarsuatu kelompok manusia dengan kelompok lain, niscaya gereja-gereja, sinagog (rumah ibadah umat Yahudi), rumah ibadah apa pun (shalawat) dan masjid-masjid yang dalam semua rumah ibadah di atas nama Allah banyak disebut, itu akan dihancurkan” (Surat Al-Hajj/40). Inilah bukti moderasi dan toleransi Islam dalam pergaulan antaragama.

Amat jelas, aksi terorisme bukanlah jihad. Terorisme merupakan tindakan mati-matian dari orang irasional dan fanatik yang ingin memaksakan pandangan mereka kepada orang lain (Chaiwat Satha- Anand, 1998). Sementara jihad adalah perjuangan menegakkan agama Allah SWT. Tak heran, jika Muhammad Sa’id al-Asymawi (2002) mengatakan, jihad adalah kata yang paling sensitif dalam kosakata Islam. Jihad selalu digunakan, didengar, dan dipahami dengan cara yang emosional, baik positif maupun negatif.

Terorisme yang terjadi di Indonesia merupakan reinkarnasi ideologi kaum Khawarij untuk memaksakan pendapatnya kepada komunitas Muslim yang lain atas nama jihad (Hamid Enayat, 1982). Kaum Khawarij percaya, mandat Al Quran untuk amar makruf nahi mungkar harus diterapkan secara harfiah, ketat, tanpa syarat atau pengecualian. Dunia mereka terbagi antara iman dan kafir, Muslim (pengikut Tuhan) dan non-Muslim (musuh Tuhan), damai dan perang. Para pendosa dihukumi kafir dan dikeluarkan dari komunitas beriman (takfir). Benih-benih radikalisme Khawarij inilah yang pada gilirannya di zaman modern ini melahirkan banyak aksi kekerasan dan terorisme atas nama jihad.

Karena itu, Ramadhan yang banyak dihiasai pesan-pesan dakwah diharapkan dapat mengarusutamakan pesan-pesan moderasi Islam sehingga Islam tidak dipandang sebagai agama kekerasan. Inilah momentum untuk kebersamaan membangun Islam yang toleran dan moderat bagi perkembangan Islam di Indonesia.

Khamami Zada Manajer Program Kajian Agama dan Kebudayaan PP Lakpesdam NU; Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2009