Penghuni kontrakan yang menjadi tempat kejadian perkara penyergapan dan penembakan tersangka teroris di RT 02 RW 03 Kelurahan Cempaka Timur, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, mulai bisa beraktivitas kembali setelah beberapa hari kamar mereka ditutup guna kepentingan penyelidikan. Sejumlah petugas keamanan dan polisi masih berjaga-jaga di kamar kos tersangka.
Trauma dengan Bunyi Tembakan dan Ledakan Bom
JAKARTA, KOMPAS - Sejumlah penghuni rumah kos di Kampung Semanggi, lokasi penyergapan dua tersangka teroris, Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir, berencana pindah. Mereka tidak mau menempati rumah kos tersebut lantaran takut dan trauma.
Rabu (14/10), polisi mengizinkan penghuni rumah kos di Kelurahan Cempaka Putih, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, itu menempati kembali kamar mereka. Polisi membuka garis polisi itu pada Selasa (13/10) pukul 17.30 sehingga penghuni kos yang kebanyakan berkuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah pun kembali dari ”pengungsian” di rumah kos teman-teman mereka.
Meskipun begitu, polisi masih menutup dan mensterilkan kamar nomor 15 dengan garis polisi dan ditutup tripleks. Di lorong depan kamar tersebut banyak tersebar pecahan kaca dan bercak-bercak darah yang telah mengering.
”Kalau masuk kamar, saya masih sering mendengar suara tembakan dan dentuman bom. Hal itu menyebabkan saya susah tidur,” kata Usep (18), salah satu penghuni kamar 14 yang bersebelahan dengan kamar 15.
Mahasiswa UIN lain yang tinggal di kamar 12, Randi (19) dan Dimas (20), juga berencana pindah. Mereka mengaku tidak nyaman tinggal di bekas sarang persembunyian teroris. ”Saya takut dicap terlibat teroris. Selain itu, orangtua mendesak saya untuk pindah kos,” kata Dimas yang mengaku membayar kos Rp 450.000 per bulan.
Menurut Randi, kebanyakan yang pindah adalah penghuni kos di lantai dua. Mereka berjumlah sekitar 15 orang dari total 45 penghuni rumah kos itu. Suwarni (50), pengelola rumah kos itu, mengaku belum mendengar rencana kepindahan sejumlah penghuni kos. Namun, dia membebaskan para penghuni untuk menentukan pindah atau tidak.
Penghuni didata
Rabu siang, Suwarni mendata kembali penghuni kos. Dia mewajibkan setiap penghuni kos menyerahkan kartu tanda penduduk (KTP). ”Selama ini, saya enggak pernah mengecek dan meminta KTP para mahasiswa. Pengurus RT juga enggak pernah menanyakan. Sekarang, setiap mahasiswa wajib menyerahkan KTP,” kata Suwarni.
Di tempat lain, Fachrizal Chaniago, paman Afham Ramadhan (23) dari pihak ibu, mengatakan, Afham dipaksa Imam, paman dari pihak ayah, mencarikan pondokan buat Syaifudin Zuhri dan Mohamad Syahrir. Entah mengapa, akhirnya kedua pria yang diduga tersangka teroris itu hanya menumpang di rumah ”kos patungan” sejumlah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, termasuk Afham dan Sonny, di Jalan Semanggi II RT 02 RW 03 Cempaka Putih, Ciputat.
”Kok tega ya si Imam itu mengorbankan keponakannya sendiri. Saya yakin Afham tidak terlibat. Sonny Jayadi pun tampaknya cuma korban,” ucap Fachrizal saat ditemui di rumahnya di RT 07 RW 02 Nomor 93, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur. Menurut dia, Afham dan Sonny adalah teman sekerja di BPPT, teman sekuliah di UIN, di samping teman satu kos.
Telaga Kahuripan
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Nanan Soekarna kemarin mengatakan, Sonny, Afham, dan Fajar Firdaus adalah kelompok pengajian kelompok Telaga Kahuripan, Bogor, sejak 2007. Syaifudin menjadi ustaz di kelompok pengajian itu.
Ketiganya sama-sama kuliah di UIN. Fajar ditangkap di Bekasi pada Jumat lalu, sedangkan Sonny ditangkap di Wisma Takana Juo di Jalan Paus, Padang, Sabtu (10/10) pukul 00.30. Afham kemudian menyerahkan diri ke polisi, Selasa (13/10) sore.
Fachrizal membantah dirinya menyembunyikan Afham selama tiga hari di rumahnya. ”Itu bohong. Yang benar, saya justru yang menasihati dia (Afham) untuk menyerahkan diri. Kalau saya dituduh menyembunyikan, saya pasti ikut ditangkap,” katanya.
Fachrizal mengatakan, Afham datang ke rumahnya pada Selasa pukul 07.00. Setelah memberi nasihat, sejumlah polisi datang pukul 12.00. Mereka membawa Afham ke Markas Brimob Kelapa Dua, Depok. ”Dia dijemput 12 petugas berpakaian sipil,” ucapnya. Tentang siapa Imam, seperti disebut Fachrizal, Nanan mengaku belum tahu. ”Saya belum tahu,” ucapnya. (HEN/WIN)
Kamis, 15 Oktober 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar