Kedatangan Presiden AS Barack Obama tidak hanya disambut sanjungan, tetapi juga aksi protes, seperti yang terjadi di pusat kota Seoul, Korea Selatan, Rabu (18/11) malam, saat Obama baru tiba dari China.
Presiden AS Sibuk Mengatasi Defisit Termasuk dengan Korea Selatan
Demikian dikatakan ekonom senior Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Jorgen Elmeskov, di Paris, Kamis (19/11). Hal serupa juga diutarakan Sekjen OECD Angel Gurria, yang memberi keterangan pers di Tokyo pada hari yang sama.
Keduanya mengatakan, pemulihan ekonomi terjadi di Barat karena guyuran dana pemerintah ke pasar dan ke perusahaan yang bertumbangan. Hal itu juga didorong pengenaan suku bunga rendah, mendekati nol persen.
Elmeskov juga menambahkan, pemulihan ekonomi global juga terbantu dengan makin stabilnya sektor keuangan. Dia juga mengatakan banyak bank yang sudah meraih untung, termasuk dengan ”berspekulasi” di bursa saham, komoditas, dan uang.
Namun, Elmeskov mengingatkan agar bank tidak mengucurkan bonus besar-besaran kepada karyawan karena bank-bank tersebut masih berutang ke pemerintah, yang memberi dana talangan selama krisis.
Namun, berita baik tersebut tidak memberi kelegaan. Gurria dan Elmeskov mengatakan, pemulihan tidak bisa dilanjutkan jika hanya mengharapkan kucuran dana dari pemerintah.
Di sinilah dilema terjadi, yakni kebutuhan untuk pengucuran dana ke pasar untuk menggerakkan perekonomian, tetapi di sisi lain utang pemerintah akan terus meningkat.
Gurria mengharapkan pertumbuhan ekonomi sebaiknya didasarkan pada kekuatan alamiah. Namun, hal ini masih sulit terjadi karena sektor manufaktur Barat sudah kalah bersaing, termasuk dengan China.
Gurria mengatakan, China mengalami surplus perdagangan, surplus keuangan negara, dan pertumbuhan ekonomi yang melejit. Hal itu di sisi lain dihadapkan pada menggunungnya utang di AS dan Inggris.
”Risiko kekacauan kurs tidak bisa diabaikan,” demikian pernyataan OECD. Kekuatan sebuah kurs mata uang berkorelasi positif dengan kekuatan perekonomian.
AS, misalnya, sadar akan utang pemerintah yang menumpuk dan juga produk-produknya yang tidak terlalu laku lagi di dunia, kecuali untuk produk yang lebih canggih.
Karena itu, Presiden AS Barack Obama sibuk mengupayakan peredaman impor dari China, Uni Eropa, dan dari beberapa negara lain.
Pada kunjungannya ke Seoul, Korea Selatan, Kamis, Presiden Obama juga mencoba meredam ekspor mobil Korsel. Hal tersebut membuat Korsel tidak berkenan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar